Menolak Malang, Mencari Mujur

0
Menolak Malang
Ilustrasi di ambil dari http://daunsanggarlukisanak.com

Tubanjogja.org, Menolak Malang, Mencari Mujur.

Menolak Malang, Mencari Mujur
Ilustrasi di ambil dari http://daunsanggarlukisanak.com

Oleh Joko Gembili*

Air gremicik menyerupai suara hujan yang jatuh membasahi atap-atap rumah. Bungga-bungga bermekaran memutari pancuran air seperti  bidadari yang sedang bergandengan tangan. Di sore yang langitnya mulai jingga, terlihat anak kecil berlarian mengejar anjing peliharaannya. Dalam pengawasan seorang bapak yang duduk diantara pafing-pafing berwarna hitam sambil menikmati sigaret di tangan kirinya. Anak itu terlihat riang sambil sesekali memeluk anjing yang telah di tangkapnya.

“Anjing memang penurut dengan majikanya, jika majikannya merlakukannya dengan baik” gumam seorang nenek tua yang duduk di kursi putih bawah beringin besar. Wajahnya terlihat wibawah. Mungkin dia mantan seorang pejabat penting yang telah pansiun. “Jika manusia diperlakukan dengan baik dan selalu mendapat setiap haknya, maka orang itu akan seperti anjing yang nurut dan jujur” gumam seorang nenek semakin mengada-ada.

Dia teringat masa mudanya yang penuh akan kekecewaan, di balik gedung yang dia pandang dari tempat duduknya. Kekecewaan itu membuat wajahnya semakin memerah dan berkerut. Mungkin nenek itu telah di perlakukan tidak wajar semasa kerjanya. Hingga raut wajah itu sampai sekarang masih terlihat kekecewaan yang tidak bisa di topengi. Kekecewaan yang tak bisa ditutupi dengan masa-masanya yang telah memutih ubanya. Nenek bersedih, ia membalik kan badanya menuju seorang perempuan dengan rambut mengelombang di pundaknya.

Suara batuk itu semakin terdengar dari gazebo dekat pancuran. Ternyata suara itu suara seorang lelaki bertubuh kurus dengan memegang botol bergambar bintang. Matanya merah menyipit. Bajunya kusut seperti tak pernah di sentuh setrika. Jalanya mondar mandir. Setiap dua langkahnya diselingi dengan nada batuk yang dikluarkanya. Barang dijual untuk di beli, kalau memang dia menangkapku dan memborgolku, aku akan tertawa dan berkata. Seorang pengecut beraninya hanya menangkap orang sepertiku, dan senyum tunduk oleh sang bandar. Orang itu semakin mengada-ada. Dia duduk di antara dua ringin besar dan terus mengada-ada

Sambil melihat lelaki dengan sebotol minuman di tanganya permpuan itu berdiri dan membenarkan tas yang disandangnya. Rambutnya panjang lurus bercorak seperti rambut jagung. Matanya kecoklatan diklilingi bulu halus tipis bergemulai. Dengan sepatu wedges hak berukuran lima cm membuatnya semakin di sorot para lelaki disekitarnya. Sepertinya dia telah muak terlalu lama melihat lelaki itu. Dia kembali duduk dan membuka tas sambil mengeluarkan buku ber cover biru laut dan bertulisan “ hujan tak bermendung.” Perlahan buku itu dibuka. Sepertinya puisi itu adalah puisi kesukaanya, hingga terdapat pembatas di antara lampiran-lampiran puisi lainya.

”Merah delimamu mengundang sejuta rasa

Rasa, dimana hati hanya ingin berkata satu

Rasa dimana kolbun hanya ingin berucap satu

Satu, satu harapan menjadi pendamping mabnimu”

 

Tiba-tiba, permpuan berambut jagung itu menghentikan puisi yang telah ia baca. Orang di sekiling yang juga bersantai memandang kecewa perempuan itu, berharap puisinya di lantunkan lagi dengan nada-nada yang membuat bulu kudu berdiri tegak.

Seorang lelaki berbaju hijau dan bermata empat menghampirinya. Dengan buku sama tebalnya, dia duduk di samping perempuan yang telah menghentikan lantunan puisi dan mengombak air di matanya. Lelaki itu tersenyum sambil berkata “kenapa kau sudahi puisimu, sangatlah indah jika kau melantunkanya dengan nada-nadamu. Kupu-kupu akan terbang mengelilingimu mengucapkan rasa senang dengan isyarat-isyarat yang ia lakukan, seperti dongeng kupu-kupu yang bangkit dari tidur panjangnya.” Hanya pandangan datar dan berkunang yang di berikan perenpuan itu. Lalu lelaki itu melanjutka perkataanya. “ janganlah kau bersedih karena kekasihmu yang telah pergi jauh nan tak akan kembali. Sejatinya ia selalu tersenyum melihatmu melantunkan puisi-puisinya. Dia akan selalu mekar dan berbau harum dengan siraman puisi yang kau lantunkan.” Perempuan itu ragu akan perkataan lelaki di sampingnya. Namun, tak lama, dengan perkataan yang semakin mendalam dan mengarah, hati perempuan yang telah berduka itu luluh dan kembali tersenyum.

Tak sengaja ada seorang bocah yang masih mengunakan pakaian merah putih dangan bibir yang pucat mendengar obrolan lelaki dan perempuan itu. Sepertinya perut bocah itu rindu akan nasi. Bungkus jajan yang di bawanya juga telihat sudah tak ada jajan di dalamnya, hanya saja ada beberapa keping uang berwarna putih yang membuat bungkus itu terlihat mengantung. Matanya lagi-lagi di genangi air dan lari ketakutan.

Anak itu lari menuju tempat duduk di bawah beringin. Lari dengan membawa buogkus jajan yang telah luset. Tanpa di sadarinya anak itu jatuh menyandung tongkat seorang kakek yang sedang diam merenung. Logam-logam yang telah di kumpulkan berceceran kesana kemari. Nenek yang diam merenung keget melihat di depanya ada seorang anak jatuh tersandung tongkatnya dan berkata. “anak yang malang, jangan kau bersedih. Kemarilah ambil uangmu dan duduk bersama kakek”

Anak itu telah berhenti menangis. Lelaki dengan sebotol minuman di tangannya seketika tersontak hatinya mendengar puisi yang kembali di lantunkan perempuan berambut jagung. Nenek itu tersenyum memberi nasehat kepada anak kecil di sampingnya. Lelaki yang menghampiri perempuan berambut jagung itu sepertinya akan menanamkan benih-benih cinta yang akan tumbuh subur dan terus bermekaran. Dan anak kecil itu terus bermain kejar-kejaran bersama anjing kesayanganya.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : di Fanspage Kami

Yogyakarta, 15 Maret 2017

*Penulis adalah pengurus KPMRT, selain itu ia juga aktif di sanggar sastra Diva Press

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here