Lokajaya Jadi Wali : Kisah Pertubatan Raden Said

1
Ilustrasi diambil dari http://okiirawan100.blogspot.co.id

tubanjogja.orgRaden Said

Said Jadi Wali
Ilustrasi diambil dari http://okiirawan100.blogspot.co.id

 

Oleh: Lembu Peteng*

Said terbangun. Ia tersadar kalau hujan duit hanya mimpi. Ini akibat ajian sakti Sunan Bonang yang hendak ia rampok tapi malah membuatnya pingsan. “Ah, sialan. Kemana kakek tua itu perginya?” gumamnya.

Dengan sigap, ia memanjat pohon tertinggi. Dan benar, di ujung barat daya sekelebat nampak orang berjalan pelan berbaju putih. Ia berjalan ke arah bukit kapur. “Itu dia!” gumamnya.

Matahari condong ke barat. Tapi teriknya masih menyengat. Said turun dari pohon, dan langsung menyusuri arah Bonang berjalan pergi. Said berlari. Terus berlari. Dasar kepala berandal, ia tak lelah kalau soal kejar-mengejar.

Dan pengejaran kian kencang. Tapi sekencang ia mengejar, bayangan putih itu seolah tak tergapai. “Ajian macam apalagi ini” bathinnya.

Namun Said tak putus asa. Ia terus mengejar, menyebrang sungai, melompat jurang, melintas bukit, terjatuh, bangkit, tersungkur dan tetap bangkit. Hingga bukit kapur terlewati. Dan kini jarak mereka kian dekat. Said berteriak, meminta Bonang berhenti.

Sunan Bonang menghentikan langkah, menoleh. Said ngos-ngosan. Baru kali ini ia benar-benar ngos-ngosan mengejar orang tua renta.

“Kakek…, izinkan aku jadi muridmu. Izinkan aku jadi muridmu” ujarnya masih ngos-ngosan.

Bonang tersenyum bijak. Seperti tahu ujung cerita pertemuan. “Aku hendak pergi dari tanah ini. Aku gak bisa!” kata Sunan.

“Pergi kemana dan sampai kapan? Bolehkah aku mengikutimu?”

“Kau tak perlu tahu. Aku pergi sampai Gusti Allah menghendakiku kembali. Kau tidak boleh ikut. Jalan ini bukan garis takdirmu.”

“Lalu apa garis takdirku?”

“Kau sendiri yang harus menentukannya, anak muda!”

“Tekadku saat ini adalah aku mau jadi muridmu. Akan aku taati semua perintahmu. Itu sumpahku.”

“Baiklah kalau itu sudah jadi tekadmu,” ujar Bonang merendah. “Tunggu aku disini, sampai aku kembali” tambahnya mantap.

Said sebenarnya keberatan. Sangat keberatan. Ia adalah pemimpin berandal. Dan mana mungkin berandal menetap di suatu tempat? Apalagi itu bukan tempat strategis mencari mangsa. Ini daerah pelosok yang jauh dari peradaban. Jauh dari lalu lalang keramaian. Orang kaya mana yang bisa dirampok di daerah terpencil begini? Apalagi ini bukan rute upeti ke pusat kerajaan.

Namun, bagaimanapun ia sudah bersumpah. Sebajingan-banjingannya, ia tetap seorang ksatria, dan karenanya harus menuruti sumpahnya. ‘Barangkali ini memang garis takdirku’.

“Bagaimana?” ujar Bonang membuyarkan renungannya.

“Baiklah, guru. Akan aku tunggu engkau kembali di sini.”

Senja menjingga. Angin bersemilir. Dan Bonang tersenyum, lalu pergi begitu saja. Tanpa menoleh ke belakang.

***

Pelabuhan Tuban ramai sekali pagi itu. Nampak kerumunan santri sedang menjemput seseorang yang penting. Ya, Sunan Bonang baru pulang dari Mekah, lebih dari tiga tahun. Suatu penantian yang sangat lama bagi para murid yang merindukan gurunya.

Angin mendesir. Daun kelapa melambai-lambai. Dan Bahtera yang ditunggu kini berlabuh. Bonang turun. Para santri berebut menyambut. Rebana ditabuh. Solawat bergemuruh. Bagai Nabi berhasil memasuki Madinah dengan selamat.

Thala’al badru ‘alaina, min tsaniyatil wada’,

wajabassyukru ‘alaina, ma da’allillahi da’

Ayyuhal mab’usu fina, ji’ta bil amril mutha’

Rombongan melintasi pasar. Pasar dekat pelabuhan kini begitu ramai. Orang-orang dari berbagai macam kalangan bertemu. Mencari barang-barang yang dibutuhkan. Ada orang pribumi, Cina, Arab. Dan kini orang-orang kulit putih dari Barat turut meramaikan pasar itu.

Salah satu santri bilang, biasanya mereka memborong rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu diimpor dari Maluku. Suatu kebijakan baru dari Adipati Wilwatikta dengan Syahbandar baru. Dan Bonang tersenyum. Sepanjang jalan ia tersenyum. Kota bergerak lebih cepat dari yang ia sangka. Makin ramai saja.

Para santri sekalian mampir membeli barang-barang keperluan dapur. Ada ikan ada sayur. Apalagi malamnya akan ada hajatan tasyakuran.

Arak-arakan itu memasuki padepokan. Angin menderu. Dan hujan mengguyur syahdu.

***

Tasyakuran usai. Banyak obrolan dari santri dan tamu undangan. Masing-masing membawa berita baru ke telinga Bonang. Tapi dari sekian berita, ada satu hal yang membuat Bonang penasaran. Daerahnya di selatan batu kapur. Tepat di suatu tempat dimana dia memancing seorang berandal dan membuatnya menetap di sana.

Ada suatu daerah yang subur makmur. Banyak hasil pertanian yang dikirim dari sana untuk dijual di pasar kota. Ada beras, ubi, dan sayuran. Juga hasil peternakan. Juga hasil kerajinan. Kabarnya lagi ada seorang pemuda yang membangun daerah itu. Dan yang lebih menggelitik, pemuda itu dianggap Satrio Piningit. Ia mendadak hadir untuk membantu warga desa menghadapi paceklik. Ia ikut berburu sumber air dan membuat saluran perairan untuk persawahan. Ia ikut bertani, dan bukan semata satu jenis tanaman tapi rupa-rupa tanaman. Ia ikut beternak ayam besar-besaran dan milik bersama seluruh warga.

Selain itu juga mengamankan warga dari bahaya perampokan. Ya, semenjak dia di desa itu, tak ada satu perampok pun berani mengosak-asiknya. Dan semua itulah yang membuat ia dijuluki Satrio Piningit.

Bonang manggut-manggut sendiri merenungkan kabar berita itu. Ia teringat seorang berandal yang diangkat jadi muridnya. Hmmm… semoga saja. Ia tersenyum lega.[]

Baca juga : Lokajaya dan Kita

Blandongan 15 Maret 2017

Cerita diatas terinspirasi dari seorang pengembara: alumni Agro Pawinihan, Gunung Wilis.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here