LUSI

1
Ilustrasi diambil dari http://www.indonesiamural.com

tubanjogja.orgLusi antara Kehadiran dan Kesalahan

Kesalahan
Ilustrasi diambil dari http://www.indonesiamural.com

Oleh: Hudan Dardiri*

Kamu mengambilku saat aku tersisa seorang diri. Lalu dengan merpati yang kamu tunggangi kamu membawaku pergi. Bagi manusia sepertiku yang sedang merasa hadirnya adalah kesalahan dan tiadanya adalah kesalahan lain, hadirmu adalah surga. Aku ingat betul, siapa saja yang menghafal namaku lalu melupakannya. Aku juga hafal benar, siapa saja yang mengingat garis tanganku lalu sengaja merubahnya.

Kamu datang tidak memberikan jaminan apa-apa tapi aku ikut saja. kamu juga membawaku pergi kemana saja tapi aku mau saja. Aku benar-benar sedang rela dibawa. Sekian kali aku pergi, sekian kali aku mengalami. Dan dari semua peristiwa itu selalu terjadi dua peristiwa yang keduanya sama pahitnya; teracuni atau meracuni tanpa sengaja.

Merpatimu kau daratkan. Tapi tanganmu yang masih antusias menarikku menjadi tanda bahwa perjalanan kita tidak habis sampai disini. Di lahan yang ujungnya melebihi jauh pandang, kali ini kamu mengajakku berlari. Mengajakku berhitung satu sampai tiga lalu melompat bersama-sama. Sampai kamu tertawa lupa dan aku tersenyum lebih lama dari biasanya.

Aku semakin menjauh dari rumah. Kamu sudah membawaku menyeberang selat. Juga sudah menggandengku kesana dan semakin kesana lagi. Jeda menyadarkan kita bahwa seharusnya ada beberapa pertanyaan yang harus saling kita ajukan. Seperti kenapa kamu membawaku kesini dan kenapa harus di disini. Atau semisal bagaimana aku bisa percaya padamu tanpa mengenal siapa dirimu.

Tak ada badai. Hujan intensitas sedang leluasa bernyanyi tanpa suara dua. Ada malu di pipimu. Ada mataku yang meyakinkanmu. Ada kuil kecil yang dengan kokoh merengkuh kita. Kata pertamamu akhirnya meluncur dengan tegas. Tapi hanya satu kata. Tapi beruntungnya dirimu mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaanku dulu. Karena setibanya giliranku menjawab pertanyaanmu, diriku sepenuhnya dalam penguasaan katamu.

Pada dasarnya kamu adalah tipikal manusia pohon. Tidak banyak bicara tapi bertumbuh dengan pasti. Tapi sekali kamu jatuh, kamu akan menimpa apa saja disekelilingmu. Tanpa ampun, tanpa peduli terhadap dirimu sendiri dan apa yang kamu timpa. Dan saat itu kamu benar-benar sedang jatuh. Tepat ke arah seseorang di sampingmu. Pelan-pelan aku pun menyesuaikan diri. Porak-poranda dadaku sedikit demi sedikit gagah lagi seperti bukit.

Apa yang telah menyentuhmu. Tangan atau kah hati. Jika tangan biarkan aku mengganti, jika hati biarkan aku rasa-rasa dulu seberapa dalam ia pernah dalam dirimu. Wajahmu mendadak muram seperti malam. Berharap munculnya mentari yang harusnya bisa kuterbitkan. Saat itu juga. Seketika. Kepadamu.

Kamu meremas jari-jariku. Seperti ada dua perasaan sekaligus yang kau tujukan padaku. Sebentuk ekspresi puncak dari ketidaktahuanmu harus berbuat apa. Aku lekat-lekat menatapmu. Mengusir aura jahat yang menguasaimu. Tidak lama berselang kamu pun mengendurkan genggamanmu. Tenang, kataku. Kita memang tak bisa menghentikan semuanya. Namun Dia, apa yang tidak bisa dihentikan oleh-Nya. Sambungku sok bijak.

Engkau telah sampai pada suaramu sendiri. Pada gerakan-gerakan yang murni dari instruksi intuisi. Andai aku cerminmu, pastilah kau melihat sebersih apa dirimu saat ini. Keterbatasan nalarku saja yang mungkin membuat semua nampak kurang menarik di matamu. Ada kembang yang ingin kau tumbuhkan, ada kelelawar malam berkelebat merusaknya. Kau pun ingin tahu pasti. Benarkah kelelawar itu merusaknya.

Sudah cukup lama kita disini. Aku jadi merasa tidak jelas. kulihat dirimu sedang menikmati selainku dengan senyum-senyum anggun yang sengaja kau persembahkan untukku. Aku tahu itu. Wajahku kupalingkan darimu. Mataku butuh isyarat dari alam untuk melihat kebenaran apa yang bisa kau berikan setelah kita pergi dari sini. Tak berselang lama kau pun memanggilku.

Kamu mencari merpatimu. Kau panggil-panggil dia tak datang. Agaknya kau mulai meraba keinginanku untuk pulang. Kedua tanganmu kau bentangkan. Kedua lututmu kau letakkan ke tanah perlahan. Tangan kirimu lurus kebawah kau silangkan. Aku mendekatimu, merunduk dan bertanya apa yang sedang kau lakukan. Kamu bilang itu adalah ritual memanggil merpati yang pergi. Aku mulai geli dan ingin tertawa tapi kutahan sambil menjauhkan diri. Dan yang terjadi… justru rerumputan disekelilingmu semakin tumbuh tinggi.   

Bagaimana kita akan pulang. Rautmu nampak panik betul ditambah dihadapkan dengan kejadian ganjil rumput yang meninggi tadi. Dasar manusia pohon, aku menegaskan padanya. Mulai detik ini tidak akan ada lagi binatang yang dapat kau panggil dengan ritualmu. Kita akan pulang saat malam datang. Waktu dimana kelelawarku menjadi raja di udara. Mengantarkanmu, aku, dan seluruh kata dari kenyataan yang ingin kamu rangkai bersamaku ke tempat kita semula.

Rumahmu tak ubahnya tabung dengan enam tiang yang keseluruhannya senar gitar. Dipetik hebat laki-laki separuh baya. Diiringi nyanyi seorang perempuan yang nampak seusia. Sesekali adikmu berceloteh polos yang berbunyi seperti puisi. Batinku, bisa-bisanya kamu memilihku sebagai tempat pergi. Mungkin, ada bahagia lain yang telah kau mengerti. Dan kau juga ingin memiliki.

Aku menyapa dan memperkenalkan diri kepada dua manusia manis itu. Mereka menyeduhkanku teh manis pula untukku. Kurang lebih tiga lembar kata kita saling bicara. Kadang aku tertegun saja mengamati mereka. Kamu sesekali juga ikut dalam suatu bahasan. Bahasan seputar tempat tinggalmu yang separuhnya dihuni oleh kaum wadam (hawa dan adam) itu. Tak lama, sejurus kemudian suara melambai menyela. Orang bernama Eko yang sudah berubah menjadi Echy itu ingin meminjam setrika di rumahmu. Berterimakasihlah Echy setelah menerima setrika dari ibumu dengan tangannya yang mirip-mirip huruf Z. Akupun terkekeh dan setengah menit kemudian aku berpamitan pulang.

Aku telah sampai di ruang tahu bacemku. Ruang kubus yang awalnya putih namun sering kali kuasapi dengan penyesalan, harapan dan khayalan. Tiga hal yang kulinting jadi satu lalu kuhisap sampai sinting. Coklatlah tahuku sampai manis seperti cudbury. Aku tidur…dan bermimpi ladang gandum berubah menjadi coklat dan Optimus Prime keranjingan makan coklat disana.

Pagi itu, kurang 13 detik jam menunjukkan tepat pukul tuju. Bapak-bapak jagoan sudah klebas-klebus sambil mengelus mesin uang yang bekerja dengan cara menyakiti. Mesin uang tersebut bernama ayam jago. Kosku, yang kalau malam berubah jadi tahu bacem itu memang terletak di dataran rendah. Untuk mengaksesnya dari jalan utama harus turun kira-kira 10 meter dengan menikung dua kali ke kiri dan dua kali ke kanan. Lokasi yang secara geografis ditakdirkan menjadi sepetak arena sabung ayam yang strategis.

Aku tak pernah melihat sabung ayam yang kata bu kos perputaran uangnya bisa mencapai 10 juta perminggu itu. Aku mandi dan mempersiapkan diri ke perpus. Mengerjakan skripsi yang mulai ditumbuhi semak belukar dan sebentar lagi jadi hunian ular kobra yang siap mematuk jidatku. Wangi sudah ketiak dan bajuku. Baru saja ingin membuka pintu. Pintuku terdengar ada yang mengetuk lembut. Aku membukanya.

Aku bertemu sejenisku tapi bukan bangsaku. Matanya tajam dan warnanya berbeda. Kanan merah membara dan kirinya kuning menyala. kupersilahkan dia duduk senyamannya. Dia bertengger di jendela. Dan aku memilih menggantung di kabel stopkontak. Kami bicara sembari kuamati punggungnya. Sepertinya aku pernah manaiki punggung itu. Dia bercerita panjang sekali sambil menusuk mata kanannya sendiri dan melemparku ke dalam mata kirinya yang panas dan silau. Terebuslah aku, rasanya hangat lalu semakin panas. Aku sekarat.

Aku berkabung atas diriku sendiri yang hampir mati. Seseorang datang melawatku membawakan nasi padang dari warung makan Minang Murah. Agaknya orang itu meresapi benar kata pepatah bahwa setiap orang harus mati dalam keadaan kenyang. Dan ternyata orang itu adalah diriku sendiri. Huh, aku sudah jadi dua. Nampaknya aku mulai ngleyor, sodara.

Lusi, gadis yang berbisik sungguh-sungguh dengan sepatah katanya kepadaku beberapa hari lalu, kuputuskan untuk menjaga jarak darinya. Jarak yang kumaksudkan agar diriku tidak terlibat kisah cintanya yang sudah bermasa lalu dalam-dalam dengan seseorang.

Kemana tanyanya jalan. Kepadaku tulis sebuah surat elektronik itu. Aku sudah jadi tersangka di hidup seorang Lusi. Kabur dari penjara indah yang dia tawarkan kepadaku. Aku memaklumi tapi jauhku meracuninya tanpa sengaja. kukira cintaku akan meresap, tapi ternyata hanya jatuh. Mendadak celah-celah itu tertutup cerita dingin dari merpati pengetuk pintu tempo hari lalu. Sebuah cerita percintaan modern no. 3 terbaik di Jogjakarta. Tapi… Lusi sudah 12 kali memanggilku. Mencari keberadaanku.

Sudah memasuki hari ke empat aku mendiamkan Lusi karena alasan “Amantism Ideology” yang masih kupegang teguh sampai saat ini. Sebentuk pemikiran abstrak kuno dari Prancis yang mengatakan cinta boleh, tapi ngrusuhi atau nimbrung jangan. Umumnya ideologi tersebut dianut oleh pemuda radikalis nan ortodoks sepertiku. Aku sendiri adalah orang yang tertutup soal kediamanku. Tak banyak yang tahu dimana aku tinggal. Semata-mata agar di kota yang serba ramai ini, aku masih dapat menemukan beberapa meter ruang yang sepiku adalah sepinya. Dan dengan detil perhitunganku, kupastikan Lusi tak akan dapat menemukanku disini.

Dia mencariku…

( Lanjut Baca )

*Penulis adalah penikmat yang kurang percaya diri.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here