Buku yang Kubaca, dalam Delapan Pertanyaan

2
Ilustrasi diambil dari http://moslempurnama.blogspot.co.id

tubanjogja.org Buku dan Pertanyaan

Buku dan Pertanyaan
Ilustrasi diambil dari http://moslempurnama.blogspot.co.id

Oleh: Lev Widodo*

Pada mulanya adalah sebuah kata: penyesalan. Saya menyesal karena sering membaca buku tanpa memahami kandungan maknanya secara utuh dan menyeluruh. Pengetahuan saya tentang kebanyakan buku yang saya baca hanya setengah-setengah, sepenggal-sepenggal, sepotong-sepotong.

Misalnya, judul buku saya paham tetapi isinya tidak mengerti. Siapa penulis buku saya tahu tetapi tujuan buku itu ditulis saya tidak tahu. Saya paham isi bab kedua dari buku itu tetapi saya justru tidak memahami pendahuluan dan kesimpulannya. Pendek kata, pengetahuan saya tentang buku tersebut tidak global. Dan saya pun menyesal.

Penyesalan ini kemudian melahirkan pertanyaan: bagaimana saya bisa membaca sebuah buku secara efektif dan komprehensif? Agar buku itu menjadi bermakna dalam kehidupan pribadi, saya harus membaca dengan metode apa? Bertolak dari dua pertanyaan ini, dengan pendekatan pragmatik dan hermeneutika, saya menyusun sebuah metode sederhana untuk membaca buku secara efektif dan komprehensif. Dikatakan ‘sederhana’ karena metode itu hanya merupakan kumpulan pertanyaan yang perlu dijawab pembaca buku.

Untuk memaknai buku yang dibaca, paling tidak kita harus menjawab delapan pertanyaan primer. Pertama, siapa penulis buku yang kita baca? Kedua, kapan buku itu ditulis? Ketiga, kepada siapa buku itu ditulis? Keempat, mengapa buku itu ditulis? Kelima, apa isi buku tersebut? Keenam, bagaimana buku itu ditulis? Ketujuh, di mana buku ditulis? Kedelapan, apa manfaat buku itu bagiku?

Selain delapan pertanyaan ini, adalah sunah bagi kita untuk menjawab sejumlah pertanyaan sekunder tentang buku yang dibaca. Pertama, siapa penerbit buku itu? Kedua, buku itu sudah berapa kali cetak? Ketiga, bagaimana tanggapan pembaca terhadap buku tersebut? Keempat, jika buku yang dibaca adalah buku terjemahan, siapa penerjemahnya? Kelima, siapa penyuntingnya? Keenam, bagaimana buku itu diterjemahkan dari bahasa sumber? Dan pertanyaan ketujuh—sebuah pertanyaan yang jujur saja bikin pusing—adalah, berapa harga buku yang akan (kubeli untuk) kubaca? Agar Anda tidak pusing karena pertanyaan yang melemahkan dan melemaskan semangat membaca ini, pertanyaan keenam bisa diganti dengan pertanyaan yang lebih ringan: kepada siapa aku meminjam buku yang akan kubaca? Atau pertanyaan lain yang sama ringannya: di perpustakaan mana buku itu bisa kutemukan?

Baca juga: Membaca? Tidak Ada Hubungannya dengan Kecerdasan!

Setelah menyusun metode membaca yang mudah-mudahan efektif dan komprehensif di atas, saya kemudian menguji coba metode tersebut untuk menilai tingkat keberhasilannya. Yang saya gunakan sebagai bahan uji coba adalah Bidayatul Hidayah, sebuah buku tipis karangan Imam al-Ghazali. Saya hanya menjawab pertanyaan primer dan meninggalkan pertanyaan sekunder. Catatan di bawah ini adalah renungan saya tentang Bidayatul Hidayah. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Siapa penulis Bidayatul Hidayah?

Penulis Bidayatul Hidayah adalah Imam Abu Hamid al-Ghazali. Jumhur ulama memandangnya sebagai mujaddid. Ada hadis yang meramalkan bahwa setelah Nabi meninggal, agama Islam mengalami penyimpangan. Tapi jangan khawatir. Sebab, setiap seratus tahun sekali akan datang ulama yang meluruskan kembali pengamalan ajaran Islam. Tidak saja meluruskan, tetapi juga memperbaharui dan menyegarkan.

Para mujaddid mengolah agama Islam sedemikian rupa sebagai jawaban atas permasalahan nyata yang dihadapi umat Islam pada setiap zaman baru. Dengan begitu, agama Islam memainkan peran yang relevan di atas panggung sejarah yang baru. Fungsi mujaddid dalam agama Islam mirip dengan tugas para nabi setelah Nabi Adam (nabi pertama), atau setelah Nabi Nuh (rasul pertama). Mereka datang untuk meluruskan penyimpangan tauhid umat manusia.

Hal itu menunjukkan, kehadiran Imam Ghazali dalam sejarah Islam begitu penting. Maka, janganlah Anda memandang remeh kitab-kitab karangan al-Ghazali. Bidayatul Hidayah, al-Munqidz min al-Dhalal, dan Ayyuha al-Walad, tiga kitabnya yang tipis dan tampak sederhana, pasti mengandung muatan berharga.

Sebagai seorang mujaddid, kehidupan yang dijalani al-Ghazali tentu tidak mudah. Dia mengalami berbagai cobaan berat, khususnya cobaan intelektual. Hal ini diceritakannya dalam biografi intelektulnya, al-Munqidz. Ketika masih muda, namanya telah berkibar sebagai ulama. Dia bahkan ditunjuk sebagai guru besar di Universitas Nidzamiyah, Baghdad. Pencapaian intelektual setinggi itu ternyata tidak menenteramkan hatinya. Dia merasa ada yang salah dalam keilmuan dan keulamaannya selama ini. Dia gelisah karena belum menemukan kebenaran hakiki.

Dalam rangka mencari kebenaran hakiki itu, dia melepas jabatannya di Nidzamiyah, kemudian selama lebih kurang sebelas tahun mengembara ke Mesir, Mekah, dan Palestina. Selama mengembara, dia menghayati kehidupan sebagai seorang sufi. Lalu, dia mengalami pencerahan. Dalam tasawuf yang dijalankan secara seimbang, al-Ghazali menemukan kebenaran yang dicari, apa yang tidak diberikan oleh ilmu kalam, ilmu fikih, apalagi filsafat. Frasa ‘tasawuf yang dijalankan secara seimbang’ harus digarisbawahi karena mistisisme ekstrem juga tidak membuka pintu kebenaran hakiki.

Setelah mengembara, dia pulang ke Baghdad, kembali mengajar di Nidzamiyah. Kali ini dia hanya mengajar sebentar di universitas itu. Sekitar lima tahun menjelang wafat, dia pulang ke kampungnya di Nishapur, mendirikan pondok pesantrennya sendiri. Selain terjun ke dalam dunia pendidikan, setelah mengembara Imam Ghazali juga mengarang sejumlah kitab. Yang paling monumental adalah Ihya Ulumiddin.

Kapan Bidayatul Hidayah ditulis?

Kalau mencermati isinya, besar kemungkinan bahwa Bidayatul Hidayah ditulis setelah Imam Ghazali mengembara, persisnya setelah dia menulis Ihya. Dalam Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali sering menyarankan pembaca untuk merujuk pada Ihya Ulumiddin.

Bagi saya, hal itu mengisyaratkan, tantangan zaman yang dihadapi dan dijawab Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumiddin tidak berbeda. Pada zaman itu, moralitas ulama mengalami dekadensi.

Ada ulama yang mengetuk pintu penguasa untuk mencari dunia. Ulama kalam bertengkar tentang Tuhan tapi tidak mengalami langsung realitas ketuhanan seperti yang dialami kaum sufi. Ulama fikih, karena kepentingan politik dan ekonomi, mengeluarkan fatwa secara sembrono dan serampangan. Mereka pun terpersorok ke dalam jurang pertengkaran politik antarmadzhab. Ulama tasawuf terjebak dalam mistisisme ekstrem yang justru membingungkan dan menyesatkan umat. Ulama filsafat, yang mewarisi metode filsafat Yunani, terjerumus ke dalam bidah-bidah teologis.

Kerusakan moral ulama ini menular pada pengikut dan murid mereka. Jika tak segera diatasi, fenomena tersebut akan menghancurkan peradaban Islam dari dalam.

Kepada siapa Bidayatul Hidayah ditulis?

Dalam penutup Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali menulis, “Wahai Anda yang masih muda, ujilah dirimu dengannya (kitab Bidayatul Hidayah)”. Kitab ini rupanya ditujukan kepada para pencari ilmu berusia muda. Sasaran pembacanya adalah para santri muda. Barangkali, Imam Ghazali sengaja menulis kitab ini sebagai semacam handbook bagi santri-santri di pondok pesantrennya.

Mengapa Bidayatul Hidayah ditulis?

Imam Ghazali tampaknya ingin mencetak ulama generasi baru, yang selamat dari dekadensi moral generasi pendahulu mereka. Melalui jalan pendidikan dan literasi, dia ingin menyembuhkan peradaban Islam yang sedang sakit.

Pangkal dekadensi moral ulama saat itu adalah niat mencari ilmu yang keliru. Mereka belajar dan mengajar untuk memperoleh kenikmatan duniawi, bukan untuk mendapatkan keselamatan dan keberuntungan di akhirat kelak. Orientasi mereka adalah materi. Niat mereka tidak lillahi ta’ala.

Karena itu, pada bagian awal Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali mengingatkan pembaca bahwa hal paling mendasar yang perlu diperhatikan dalam mencari ilmu adalah niat, orientasi, atau tujuan. Kalau niat dalam mencari ilmu salah, ilmu yang diperoleh tidak bermanfaat. Maksudnya, ketika ilmu bertambah, kita justru semakin jauh dari Tuhan, bukan semakin dekat.

Rasa takut kita terhadap-Nya berkurang perlahan-lahan untuk pada akhirnya lenyap sama sekali. Pada saat itulah kita menjual agama untuk membeli harta, pangkat, jabatan, status, kekuasaan, penghormatan, dan pujian. Mereka yang telah kehilangan rasa takut terhadap Tuhan tak bisa lagi disebut ulama. Sebab, ketakutan terhadap Tuhan adalah sikap mental yang membedakan ulama dengan yang bukan ulama. Adab, etiket, atau tata krama keseharian yang ditampilkan seorang ulama menunjukkan setinggi apa rasa takutnya terhadap Tuhan. Karena takut terhadap Tuhan, dia menjaga lidahnya dari mencela, memfitnah, dan mengutuk sesama manusia.

Sehubungan dengan hal itu, kita perlu membicarakan kategori manusia berdasarkan niatnya dalam mencari ilmu. Menurut Imam Ghazali, ditinjau dari niatnya dalam mencari ilmu, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, manusia yang mencari ilmu sebagai bekal akhirat. Dialah yang memperoleh ilmu yang bermanfaat. Yang dimaksud ‘bermanfaat’ adalah pertama-tama bermanfaat di akhirat, kemudian bermanfaat di dunia. Kemanfaatan di akhirat bersifat primer sedangkan kemanfaat di dunia hanya bersifat sekunder.

Kedua, manusia yang mencari ilmu untuk memeperoleh kemuliaan dan kenikmatan duniawi tetapi kemudian bertaubat. Semula memang dia tersesat dan menyesatkan, tetapi setelah menyadari kesalahannya, dia bertaubat. Dia mengubah orientasinya dalam mencari ilmu: keluar dari perangkap duniawi, lalu masuk ke dalam golongan manusia pertama yang mencari ilmu sebagai bekal akhirat.

Ketiga, manusia yang mencari ilmu untuk memperoleh kemuliaan dan kenikmatan duniawi tetapi enggan bertaubat hingga meninggal. Di dunia, dia mulia bahkan kaya raya. Tapi di akhirat kelak, dia tidak memperoleh kenikmatan yang kekal. Amal kebaikannya terhapus, bagaikan debu di atas batu yang tersapu bersih oleh derasnya guyuran hujan, atau bagaikan kayu kering yang dilahap habis oleh api.

Imam Ghazali tidak menghendaki pembaca Bidayatul Hidayah menjadi pencari ilmu jenis ketiga. Dia mengingatkan kita agar menjadi pencari ilmu jenis pertama.

Nasihat yang sama kita temukan dalam Ihya Ulumiddin secara lebih terurai dan lebih mendalam. Bidayatul Hidayah agaknya sengaja ditulis al-Ghazali sebagai buku pengantar sebelum mempelajari Ihya. Bidayatul Hidayah diperuntukkan bagi santri kelas elementary. Ihya untuk santri kelas advance. Kitab al-Ghazali lain, Misykat al-Anwar, diperuntukkan bagi santri kelas tinggi yang telah menguasai dan menghayati Ihya. Al-Ghazali memang seorang guru, guru yang arif.

Apa isi Bidayatul Hidayah?

Isi Bidayatul Hidayah secara sekilas sudah tergambar dalam jawaban-jawaban sebelumnya. Di sini, saya akan menjelaskan isinya secara ringkas dan komprehensif.

Sebagaimana sudah disinggung, Bidayatul Hidayah hanyalah kitab tipis. Kitab ini hanya punya tiga bab, ditambah dengan pendahuluan dan penutup. Pada bagian pendahuluan, Imam Ghazali menerangkan alasan, tujuan, dan maksud penulisan Bidayatul Hidayah. Dia juga menenjelaskan sistematika konseptual kitab ini, sekaligus secara tersirat menjawab pertanyaaan mengapa kitab ini berjudul Bidayatul Hidayah.

Hidayah, dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai ‘petunjuk’. Di mata al-Ghazali, hidayah terbagi dua, yaitu proses awalnya (bidayah) dan hasil atau buahnya (nihayah). Nah, kitab Bidayatul Hidayah memaparkan bagian pertama atau proses awal hidayah.

Dalam al-Quran diterangkan, hidayah diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Artinya, ada korelasi antara hidayah dan ketakwaan. Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, al-Ghazali membagi ketakwaan menjadi dua kategori. Pertama, ketaatan dalam menjalankan perintah Tuhan. Kedua, upaya untuk menjauhi larangan Tuhan atau menjauhi dosa.

Bab pertama Bidayatul Hidayah membicarakan kategori ketaatan. Bab kedua memaparkan kategori ketakwaan yang kedua, yaitu menjauhi dosa. Lalu, al-Ghazali menambahkan bab ketiga yang juga masih berbicara tentang ketakwaan tetapi dengan dasar kategorisasi berbeda. Dalam bab ketiga ini, secara tersirat al-Ghazali memilah takwa menjadi dua bagian, yaitu ketakwaan manusia kepada Tuhan secara vertikal, dan ketakwaan manusia dalam kehidupan sosial.

Dalam bab pertama, al-Ghazali menerangkan serangkaian tindakan ketaatan yang harus kita jalankan setiap hari, sejak bangun pada subuh hari hingga tidur pada malam hari. Secara rinci, dalam bab ini dijelaskan tentang adab bangun tidur, masuk toilet, berwudhu, mandi besar, tayamum, pergi ke masjid, memasuki masjid, aktivitas sejak matahari terbit hingga tengah hari (dan hingga tidur), tidur, salat, salat jumat, menjadi imam dan makmun, dan puasa.

Dalam bab kedua, al-Ghazali membagi dosa yang harus dijauhi menjadi dua jenis, yaitu dosa tubuh dan dosa hati. Dosa tubuh berkaitan dengan tujuh pintu neraka. Sebagaimana ada tujuh pintu neraka, dosa tubuh pun ada tujuh, yaitu dosa mata, dosa telinga, dosa lidah, dosa perut, dosa kemaluan, dosa tangan, dan dosa kaki. Dosa hati punya tiga induk, yaitu dengki, pamer, dan kagum dengan diri sendiri. Hal ini senada dengan nasihat Nabi dalam sebuah hadis, ada tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dipatuhi, keinginan yang dituruti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Kunci untuk menjauhi dosa tubuh adalah menjauhi ketiga dosa hati yang membinasakan ini. Kalau pencari ilmu gagal menjauhi dosa hati, ilmunya tidak akan bermanfaat. Ilmunya tidak menjadi cahaya hidayah baginya. Moralnya jelek.

Pada bab ketiga, al-Ghazali menjelaskan adab dalam bergaul: pertama, adab dalam bergaul dengan Allah Sang Sahabat Sejati, kedua, adab dalam bergaul dengan sesama manusia sebagai pencari ilmu, guru, anak, dan sahabat. Adab dalam pergaulan ini merupakan bentuk ketakwaan sehari-hari seorang pencari ilmu.

Bagaimana Bidayatul Hidayah ditulis?

Kitab ini ditulis dengan bahasa sederhana. Juga dengan sistematika yang sederhana. Sebagai filsuf, al-Ghazali menerangkan gagasannya dengan runtut dan tertata sehingga keterangannya itu mudah dipahami. Tidak perlu berpikir keras untuk menelaah isi Bidayatul Hidayah. Kitab ini memang diperuntukkan bagi santri kelas elementary.

Di mana Bidayatul Hidayah ditulis?

Kalau tidak di Baghdad (Irak), barangkali di Nishapur (Iran).

Apa manfaat Bidayatul Hidayah buatku?

Aku bercermin pada Bidayatul Hidayah. Isi kitab ini merupakan standar ideal yang seharusnya kucapai sebagai pencari ilmu. Realitasnya, aku belum menghayati standar ideal itu. Artinya, aku belum bertakwa, belum pula memasuki tahapan awal dalam mencari hidayah.

Aku masih tersesat, seperti al-Ghazali pernah tersesat ketika masih menjadi guru besar di Universitas Nidzamiyah, sebelum dia mengembara untuk mencari ilmu yang sesungguhnya, hidayat jati, atau kebenaran hakiki yang tak bisa diragukan lagi. Atau malah, posisiku lebih buruk daripada sekadar tersesat. Jangan-jangan aku termasuk golongan manusia yang dimurkai.

Dalam kategori manusia yang dijelaskan al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, aku jelas tidak termasuk golongan manusia pertama yang mencari ilmu sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat kelak. Golongan manusia ini mencari ilmu dengan niat yang ikhlas sehingga ilmu mereka bermanfaat. Aku tidak seperti mereka. Aku jauh dari ikhlas. Aku mencari ilmu untuk minta pujian, menuntut penghormatan, dan mencari tepuk tangan.

Contohnya adalah catatan ini. Setelah membaca Bidayatul Hidayah, aku membuat catatan tentangnya. Catatan ini kuunggah di media sosial untuk memanen sebanyak-banyaknya jempol dari pembaca. Kedua, untuk menunjukkan kepada publik bahwa aku alim, pintar, nyufi, dan berani menjatuhkan, menghinakan, dan menjelek-jelekkan diri sendiri dalam rangka menasihati orang lain. Ketiga, untuk secara hiperbolis memamerkan keburukan dan kebusukan pribadi demi memperoleh decak kagum dari pembaca.

Contoh lain, selama ini aku mencari ilmu hanya demi memperoleh pekerjaan yang layak kok. Selama mencari ilmu, aku membayang-bayangkan bagaimana masa depanku nanti: apakah hidupku akan sejahtera atau melarat? Yang kupikirkan adalah hasil, hasil, hasil. Tidaklah aku menikmati proses mencari ilmu. Buktinya, setelah berjuang keras mencari ilmu tetapi ilmu yang kuperoleh hanya sedikit, aku kecewa luar biasa. Gundah dan galau habis-habisan. Lebih kecewa, gundah, dan galau lagi karena ilmu yang sedikit itu ternyata tidak bisa menjamin kesuksesanku secara material pada masa depan.

Rupanya, selama ini aku mencari ilmu, termasuk juga ilmu agama, hanya untuk memperoleh kenikmatan duniawi. Tidak ada pertimbangan akhirat dalam kepalaku. Dalam hatiku tidak bersemayam nama-Nya. Aku belum bertakwa dalam mencari ilmu.

Dalam hatiku, masih ada dengki, masih ada pamer, masih pula ada kekaguman terhadap diri sendiri. Kalau teman sekelasku mendapat nilai A dalam suatu mata pelajaran sedangkan aku hanya mendapat nilai B, aku gelisah. Aku tidak terima. Aku lebih pintar, lebih vokal, dan lebih rajin daripada dia, tetapi kenapa aku hanya mendapat nilai B? Pasti guruku tidak becus memberikan penilaian. Pasti guruku pilih kasih. Pasti teman sekelasku yang mendapat nilai A itu bermain curang.

Lihat saja nanti, pada forum diskusi dalam mata pelajaran lain, akan kutunjukkan kepada dunia bahwa aku memang lebih pintar daripada dia. Akan kubantai dia dengan pertanyaan sukar dan sanggahan tajam. Akan kujatuhkan dia. Aku harus menjadi jawara dalam forum diskusi tersebut. Aku harus menjadi orang yang paling banyak bersuara dengan kualitas pembicaraan yang paling tinggi. Semua orang harus tahu bahwa aku ini pintar. Sepatutnya aku mendapat nilai A, bukan B. Guruku salah. Temanku salah. Akulah yang benar.

Bagiku, temanku yang mendapat nilai A itu, bukan sahabatku. Dia memang teman sekelas. Tapi, sebetulnya dia musuhku. Saingan beratku. Dia adalah lawan yang sejujurnya kusengiti dan kubenci. Tata kramaku kepada dia dalam pergaulan, hanyalah basa-basi, agar aku tidak dinilai negatif oleh teman-teman yang lain, juga agar aku tidak dijauhi dan dikucilkan mereka. Tata kramaku kepada guruku juga basa-basi dengan maksud untuk mendapat sebagus-bagusnya nilai.

Aku tahu kok dia itu tidak becus menilai. Penilaian dia subjektif. Tidak adil. Dia juga tidak becus mengajar. Malah, setelah kuamati, dia tidak cukup menguasai materi yang diajarkan. Wawasannya miskin. Tahu tidak? Dia itu bekerja sebagai guru bukan karena panggilan jiwa tapi karena terpaksa, sekadar untuk mencari nafkah. Karena itu, sebagai guru, dia sama sekali tidak profesional. Korban ketidakprofesionalan dia sebagai guru ya aku ini.

Baca juga: Penjahat itu, Bernama Penjaga Perpustakaan

Kalau kupikir-pikir, aku sepertinya malah lebih pintar daripada dia. Terus terang saja, wawasanku lebih luas daripada dia. Dalam seminggu, berapa buku sih yang dia baca? Wong dia sibuk banget. Lha aku, wah jangan tanya, seminggu bisa melahap tiga buku, kadang-kadang lima buku. Mestinya, lebih jempolan aku dong daripada dia.

Tidak jarang, ketika dia mengajar, aku ingin menunjukkan kepada teman-teman sekelas bahwa dia tidak berkompeten menjadi guru kami. Sebelum mengikuti kelasnya, aku mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan sulit yang menurutku tak bisa dia jawab. Dan kadang-kadang, dia memang tidak bisa menjawabnya. Tapi sial betul, dia pandai mengelak. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaanku, dia mengalihkan topik pembicaraan ke masalah lain.

Aku yakin, teman-teman sekelas tahu bahwa dia tidak berkompeten. Tapi, aku tak habis pikir, kenapa mereka diam saja? Bodoh mereka itu. Mau-maunya ditipu oleh guru tak berkompeten semacam dia. Ada bukti lain yang menunjukkan bahwa dia memang tidak berkompeten sebagai guru. Kalau menjelaskan materi, dia mengulang-ulang uraian. Pada pertemuan lalu, dia bicara tentang hal itu. Bulan lalu, dia bicara tentang hal itu juga. Bahkan, uraian itu sudah diulang-ulang sejak dulu kala. Ketika mengajar kakak kelas kami, dia berbicara tentang hal yang sama. Tidak ada yang baru. Tidak ada kemajuan. Stagnan. Jumud. Bikin ngantuk. Ketika dia sedang mengajar, sering aku menguap di depannya.

Guru yang tidak bermutu seperti itu, apa patut kuhormati, kumuliakan, dan kutinggikan? Ogah. Tak sudi. Aku hanya mau hormat kepada guru yang kualitas akademiknya lebih tinggi daripada aku.

Begitulah aku, tidak tulus dalam bertata krama dengan guru, juga dengan teman-teman sekelas. Tata krama yang tidak tulus, apa bisa disebut tata krama? Adab yang dijalankan secara tidak ikhlas, apa bisa disebut adab? Hakikat tata krama, adab, dan etiket adalah keikhlasan dan kejujuran. Sementara itu, yang kumiliki kepalsuan belaka.

Maka, aku memang bukan pencari ilmu yang ikhlas. Ilmuku sesungguhnya tak bermanfaat walaupun orang lain melihat bahwa aku bisa mendapat banyak pujian, bahkan kadang-kadang juga mendapat uang, dari sedikit ilmu yang kumiliki. Ilmuku tidak menyelamatkanku dari kebinasaan. Ilmuku mendorongku masuk ke dalam jurang kebobrokan moral. Ilmuku menjauhkanku dari Tuhan. Ilmuku bakal menenggelamkanku ke dalam lautan api neraka.

Dalam kategori al-Ghazali, aku adalah manusia tipe ketiga, yang mencari ilmu untuk dunia dan enggan bertaubat. Bagaimana aku mau bertaubat? Gelasku sudah penuh. Penuh oleh dengki, pamer, dan kagum terhadap diri sendiri. Penuh oleh kecongkakan. Karena sudah penuh, gelas hatiku tidak dapat menampung sebanyak apa pun air nasihat yang dituangkan. Telingaku sudah tuli. Mataku sudah buta. Hatiku sudah membatu, atau terkunci, atau malah mati. Hatiku kotor. Hatiku busuk. Hatiku gelap. Dalam hatiku, hanya ada imaji duniawi yang cantik, mempesona, dan menggiurkan.

Itulah sebabnya, isi Bidayatul Hidayah terasa berat bagiku. Tidak mungkin aku dapat mengamalkan adab-adab yang diterangkan al-Ghazali dalam kitab itu yang bagiku terlalu ideal. Standar al-Ghazali terlalu tinggi.

Lantas, sampai kapan aku akan tersesat seperti ini? Kapan hidayah mendatangiku, atau kapan akan mulai kujemput hidayah itu? Padahal, mati itu pasti. Tak seorang pun manusia tahu pasti kapan dan di mana dia mati. Kematian selalu mengintai. Kapan pun dia siap mencabut kelezatan hidup duniawi yang sedang kunikmati. Kehidupan setelah mati pun pasti. Jembatan mustakim pasti. Surga dan neraka pasti. Kehidupan akhirat yang kekal pasti. Tuhan tidak berdusta. Malaikat tidak berdusta. Nabi tidak berdusta. Al-Quran, la raiba fih. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam al-Quran.

Kenapa kepastian ini belum juga menjadi pertimbangan dalam kehidupanku di dunia yang singkat ini? Kenapa aku masih mendasarkan keputusan-keputusanku pada ketidakpastian hal-hal duniawi? Kenapa aku masih tertipu oleh fatamorgana atau ilusi kehidupan dunia?

Betapa bodohnya aku. Betapa tak bermanfaatnya ilmuku. Ya, ilmuku tak bermanfaat. Padahal, untuk memperoleh ilmu ini, aku dan keluargaku telah melakukan pengorbanan sedemikian besar. Buah dari perjuangan kami selama ini rupanya hanyalah kesia-siaan. Buatku, ilmu menjadi kutukan dan laknat, bukan menjadi berkah dan rahmat.

Kapan aku akan bertaubat? Kapan aku akan mengamalkan Bidayatul Hidayah? Kapan aku akan menghidupkan sunah Nabi dalam mencari ilmu? Kapan aku akan membenarkan dan tidak lagi mengingkari adanya Hari Pembalasan? Kapan aku akan ikhlas? Kapan aku akan berhenti mendengki, berlaku pamer, dan kagum terhadap diri sendiri? Kapan aku akan menjadi orang beriman yang saleh, yang ilmunya bermafaat, yang takut terhadap-Nya?

Baca juga: Jogja dan Buku Bajakan

Yogyakarta, 20-22 Maret 2017

*Penulis adalah pecinta sastra dan sejarah. Tulisan ini pernah dimuat di akun Fesbuk-nya. Dimuat kembali untuk tujuan pendidikan.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here