Tasawuf, Nama Tanpa Realitas?

1
Ilustrasi diambil dari https://naningisme.wordpress.com/tag/sufisme/

tubanjogja.org – Tasawuf

Tasawuf
Ilustrasi diambil dari https://naningisme.wordpress.com/tag/sufisme/

Oleh: Lev Widodo*

Seorang sufi pernah melontarkan pernyataan yang patut direnungkan. Setelah membandingkan kondisi spiritual umat Islam pada zaman Nabi dan pada zamannya sendiri, dia menyatakan: dulu, pada zaman Nabi, tasawuf merupakan realitas tanpa nama; sekarang sebaliknya, tasawuf hanyalah nama tanpa realitas.

Pada zaman Nabi, nama tasawuf belum muncul. Akan tetapi, praktik kesufian telah menjadi tradisi. Nabi memberikan teladan kesufian dan para sahabat mengikuti teladan luhur tersebut. Sebagai contoh, Nabi mengajarkan asketisme baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. “Cinta dunia,” ujar beliau, “adalah pangkal segala kesalahan.” Jiwa Nabi bersih dari kekikiran. Beliau adalah manusia yang amat dermawan, lebih-lebih saat bulan Ramadan.

Asketisme Nabi ini kemudian dicontoh oleh para sahabat, antara lain oleh Abdurrahman bin Auf, Abu Dzar al-Ghifari, dan Utsman bin Affan. Mereka adalah hartawan yang dermawan. Hati mereka terbebas dari belenggu dunia.

Contoh lain, Nabi mengajarkan kejujuran dan melarang kemunafikan. Di bawah bimbingan Nabi sendiri sebagai sang mursyid agung, para sahabat menghayati kejujuran dan menjauhi kemunafikan.

Di antara sahabat yang sangat serius menghayati kejujuran adalah Abu Bakar al-Shiddiq. Gelar al-shiddiq memang diperolehnya setelah dia membenarkan keterangan Nabi tentang peristiwa Isra Mikraj yang beliau alami. Namun demikian, gelar tersebut secara harfiah juga berarti kejujuran sejati. Hal itu menunjukkan, kejujuran Abu Bakar sudah teruji. Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh orang saleh pada zamannya (kecuali Nabi), iman Abu Bakar masih lebih berat ketimbang iman mereka.

Baca juga: Sufi yang Tidak Meminggir

Di antara sahabat yang sangat serius menjauhi kemunafikan adalah Hudzaifah al-Yamani. Sahabat satu ini mendiskusikan masalah kemunafikan secara privat bersama Nabi. Nabi bahkan menunjukkan daftar warga munafik Madinah kepada Hudzaifah, barangkali karena beliau percaya bahwa Hudzaifah akan teguh menjaga amanah dan tidak akan membocorkan rahasia tersebut. Dengan kata lain, Hudzaifah bukanlah manusia yang (berpotensi) munafik. Hudzaifah pun dipercaya sebagai intelijen tentara muslim dalam peperangan. Tidak salah apabila dia dijuluki sebagai ashabu sirri rasulillah, sahabat rahasia sang utusan Tuhan.

Selain mempelajari akhlak hati seperti asketisme dan kejujuran, generasi muslim awal juga mengasah dan mengasuh jiwa dengan berbagai bentuk latihan spiritual yang digariskan syariat. Bentuk latihan spiritual tersebut adalah salat, puasa, zakat, dan ibadah haji yang digolongkan sebagai rukun atau tiang penyangga rumah agama Islam. Sakaguru atau pilar utama dari rumah rohani ini adalah dua kalimat syahadat yang beresensikan tauhid.

Begitulah kenyataannya, praktik kesufian telah ada dan telah pula dijalankan dengan sungguh-sungguh pada zaman Nabi. Risalah dan syariat yang dibawa Nabi tidak bisa dipisahkan dari praktik kesufian tersebut. Tidak dapat dimungkiri bahwa realitas tasawuf merupakan ruh agama Islam.

Seorang muslim, baik dia menyukai maupun membenci istilah tasawuf, dituntut oleh agamanya untuk menempuh jalan tasawuf. Sebab, seorang muslim haruslah bersih hatinya dan indah akhlaknya. Dia harus menjadi rahmat bagi lingkungan di sekitarnya, sejauh kemampuan mencontoh Nabi dalam menjalankan peran dan fungsi sebagai rahmat bagi semesta. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seseorang baru disebut muslim jika orang lain selamat dari kejahatan lidah dan tangannya.

Manusia yang berhati kotor cenderung menggunakan lidahnya untuk menyayat hati orang lain dan memakai tangannya untuk melukai fisik orang lain. Manusia berhati bersih mendambakan kedamaian, kerukunan, persaudaraan, dan persatuan dalam perbedaan. Sebaliknya, manusia berhati kotor menciptakan kerusuhan, pertengkaran, permusuhan, dan perpecahan dalam masyarakat. Sebagai muslim, kita diwajibkan untuk menyebarkan dan menjawab salam (kedamaian), juga untuk menyambung silaturahmi (tali kasih sayang) yang putus karena konflik.

Hal itu merupakan idealitas yang seringkali langka dalam kehidupan sehari-hari, juga dalam kehidupan sehari-hari sufi yang disebutkan pada awal tulisan ini. Memang, saat itu ilmu tasawuf sudah dikenal dan sudah dirumuskan secara sistematis. Orang-orang mempelajari tasawuf dengan bersemangat. Tapi anehnya, ilmu tasawuf yang mereka pelajari tidak berbuah menjadi akhlak yang indah.

Mereka belajar tentang asketisme tetapi tetap saja kikir. Mereka belajar tentang kejujuran sembari melanggengkan perilaku munafik. Mereka mendirikan salat tetapi salat mereka tak mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Mereka berpuasa tetapi tidak berempati terhadap sesama. Mereka berzakat tetapi berebut harta dan jabatan, juga bersikap sewenang-wenang terhadap kaum fakir miskin. Mereka naik haji tetapi sikap keseharian mereka mencerminkan sektarianisme dan fanatisme buta. Ringkas kata, tasawuf yang pada zaman Nabi merupakan realitas tanpa nama, berubah menjadi nama tanpa realitas pada zaman si sufi.

Lantas, apa yang salah? Ilmu tasawuf berbeda dengan ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu tafsir, dan ilmu-ilmu kegamaan lainnya yang lebih bersifat kognitif daripada praktis. Tasawuf merupakan ilmu terapan. Tasawuf termasuk al-‘ilmu al-hudhury atau knowledge by experience. Mangkunegara IV, raja dan pujangga Surakarta yang pandangan spiritualnya dipengaruhi al-Ghazali—seorang sufi besar dari Persia, menulis bahwa ngelmu iku kelakone kanthi laku. Terjemahnya, buah ilmu spiritual—termasuk ilmu tasawuf—diperoleh dengan menjalani praktik-praktik spiritual, bukan hanya dengan memahami konsep-konsep dalam ilmu tersebut secara kognitif belaka.

Maksudnya, untuk menjadi orang yang jujur, memahami teori kejujuran saja tidak cukup. Kita harus mengamalkan teori kejujuran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjadi seorang asketis, memahami teori asketisme saja tidak cukup. Teori itu harus diaplikasikan secara sinambung dalam kenyataan hidup.

Baca juga: Agama pada Suatu Puisi

Inilah kiranya jalan yang mesti bersama-sama ditempuh pelajar tasawuf pada khususnya dan umat Islam pada umumnya agar tasawuf tak menjadi sekadar nama kosong tanpa realitas. Juga agar agama Islam tidak kehilangan ruhnya. Kita membutuhan guyuran air tasawuf agar Islam tidak terasa kering, panas, dan keras seperti bongkahan batu yang terpanggang terik matahari.

Wallahul ‘alim wa ‘abduhul jahil.

8 April 2017

*Penulis adalah seorang pecinta kebudayaan dan mistisisme. Tinggal di Yogyakarta.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here