Mayday di Bumi Wali: Ikhlas Jadi Kuli Sampai Kiamat!

1
Potret kuli bangunan Tuban dalam video "Tuban Mboten Didol".

tubanjogja.org – Kuli

Kuli
Potret kuli bangunan Tuban dalam video “Tuban Mboten Didol”.

Oleh, Taufiq Ahmad*

Dalam rangka peringatan hari buruh sedunia kemarin (1 Mei 2017), rupanya Tuban tak mau ketinggalan. Beberapa serikat buruh (Sarbumusi, SPN), bersama Karang Taruna, Pemda dan berbagai perusahaan, mengadakan jalan sehat berhadiah dengan mengusung tema: “selamat datang industrialisasi di bumi wali.”

Memang baik sekali para pemberi hadiah itu, baik dari pemda maupun perusahaan. Hadiah adalah setitik kebahagiaan di tengah minimnya gaji, capeknya kerja lembur, dan rawannya untuk dipecat. Ibarat orang kehausan di tegalan sebab bekal minuman ketinggalan, tahu-tahu ada yang ngirim es degan. Alhamdulillah, puji Tuhan penguasa seluruh alam!

Untuk hadiah itulah para buruh harus berterima kasih. Industrialisasi memang membawa nikmat tiada tara dan karena itu harus disyukuri. Sebab nikmat yang disyukuri, akan ditambah lagi oleh Tuhan. Maka tambahlah industri-industri baru. Tambahlah. Datanglah para investor, datanglah. Masih banyak kekayaan alam bumi wali yang belum dikeruk. Masih banyak penguasa bumi wali yang siap jadi cecunguk. Masih banyak rakyat bumi wali yang siap jadi kuli. Dan sekian generasi akan dicetak jadi kuli di bumi sendiri.

Persetan dengan pekik revolusi 1945 yang hendak memerdekakan bangsa Indonesia dari bangsa kuli. Halah. Belanda sudah pergi jauh. Jepang sudah kita tendang. Kini tinggal kita mengisi kemerdekaan ini dengan maksud baik. Dan maksud baik itu adalah industrialisasi. Bagaimana itu?

Maksud Baik dan Malapetaka

Dalam ranah politik, maksud baik (good will) tak selamanya berbuah kesejahteraan. Dalam beberapa peristiwa malah sumber malapetaka. Itulah mengapa kita disebut manusia, dan bukan malaikat atau dewa. Sejarah mengajarkan hal itu berulangkali.

Industrialisasi, tentu saja, berlandaskan “maksud baik” itu. Bahwa untuk mengatasi kemiskinan adalah bukan dengan membagi sembako, tapi mengurangi pengangguran. Bahwa mengurangi pengangguran harus diatasi dengan menyediakan lowongan pekerjaan. Dan bahwa membuka lowongan pekerjaan secara massif itu butuh industrialisasi. Dan itulah yang pemerintah Tuban lakukan saat ini. Hal yang persis sama dengan yang dilakukan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Puji Tuhan! Kok bisa? Mari kita tengok sejarah sebentar.

Pada 1830, setelah kekalahan pasukan Diponegoro dalam perang Jawa (Java Oorlog 1825-1830), pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengutus Van Den Bosh dengan suatu maksud baik yang disebut program budaya tanam (Cultuurstelsel). Praktiknya adalah pribumi dipaksa menanam tanaman yang dibutuhkan Belanda untuk diekspor di pasaran dunia. Dan jadilah pribumi sibuk mengurusi tanaman itu tanpa dibayar. Ujungnya kelaparan dimana-mana.

Pada 1870, ketika tanam paksa banyak membawa petaka itu, disusul maksud baik lagi. Namanya undang-undang agraria (Agrarische Wet). Di situ tanah pribumi tak boleh dijual pada pihak luar. Dan swasta berhak menyewa dengan rentang waktu 75 tahun. Jadilah penyewaan tanah (secara paksa) di banyak lahan pertanian pribumi untuk diganti berbagai perkebunan seperti tebu. Kerjapaksa yang dulu dianggap tidak manusiawi itu, diganti dengan kerja bebas (maksudnya kuli). Dan jadilah para petani itu berubah jadi kuli-kuli di atas tanah yang dulu tanahnya.

Untuk menggenapi kebijakan diatas, sebab banyak kritik juga dari kalangan liberal-etik, pada 1898 Belanda mengeluarkan kebijakan dengan maksud baik lagi yang disebut politik balas budi (ethische politiek). Bahwa Belanda telah memeras pribumi yang biadab itu sekian lama, sebab itu harus ada program pemberadaban (civilization) yang berisi tiga program legendaris: pendidikan, irigasi dan pemerataan penduduk. Pendidikan memang dibutuhkan Belanda untuk birokrasi pemerintah dan pekerja pabrik, irigasi untuk perkebunan besar swasta, dan pemerataan untuk memenuhi kekurangan pekerja di perkebunan daerah berpenduduk jarang. Klop. Dan bagaimana hasilnya? Segenlintir pribumi jadi kaya dan sejahtera, sementara lainnya miskin, sengsara dan terhina!

Namun, kesengsaraan masyarakat yang tak tertahankan lagi sebab dijajah beratus-ratus tahun yang ditampung pergerakan dengan melihat pergeseran geopolitik, terjadilah revolusi 1945 dan NKRI lahir sebagai tonggak negara bagi bangsa yang merdeka.

Mengencingi Cita-cita Revolusi 1945

Melihat rentetan sejarah di atas, kalau kita mau belajar sebenarnya malapetaka yang berbunyi “kemiskinan, kesengsaraan, dan keterhinaan rakyat banyak” itu bisa dihindari.

Namun, rupanya kita memang bangsa yang lupa ingatan, dan sebab itu pulalah kita jadi murid yang baik. Apa yang Belanda ajarkan, itulah yang kita jalankan sepersis-persisnya agar kita semulia guru agung Belanda itu. Soal pejuang revolusi 1945, biarlah gugur dalam puji puja. Tak masalah kalau cita-cita kemerdekaan mereka kita kencingi, toh mereka sudah mati.

Ya, dalam kencing itulah kita berpesta pora sambil mendendang “selamat datang industrialisasi di bumi wali.” Ya selamat datang. Keruklah tanah-air kami. Peraslah darah-keringat kami. Yang penting kalian aman sejahtera sentausa. Kami rela jadi kuli sampai hari kiamat!

Yogyakarta, 2 Mei 2017

*Penulis kelahiran Tuban. Aktif di DPW Sarbumusi DIY.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here