Cie… Hubbul Wathon

tubanjogja.org Nahdliyin

nahdliyin

Ilustrasi gambar diambil dari kominfo.jatimprov.go.id

Oleh Taufiq Ahmad*

Adalah kaum Nahdliyin, suatu kelompok Islam di Indonesia yang paling sering menggembar-gemborkan nasionalisme. Dan dengan jargon hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) itu pulalah mereka mengerahkan massanya untuk menggebuk Islam salafi/wahabi, Hizbuttahrir dan FPI, sebab kehadiran mereka dianggap mengancam NKRI.

Saya tentu saja sepakat bahwa salafi/wahabi harus ditolak. Tapi menguras energi dengan mengatasnamakan cinta tanah air hanya untuk menggebuki mereka, tentu kita patut bertanya: cinta tanah air macam apa itu?

Untuk itulah, sebagaimana Nahdliyin yang menghormati leluhur, ada baiknya kita berziarah pada sejarah.

Baca juga : Masih Soal Hubbul Wathon

Nasionalisme Nahdliyin

Nasionalisme memang punya banyak rupa. Kalau di Eropa, ia lahir dari semangat protes atas hegemoni agama (gereja),[1] di Indonesia sebaliknya. Justru agama (Islam) menjadi motor nasionalisme sebagai bentuk reaksi atas kolonialisme, dan dari situ lahirlah NKRI. Contoh mudahnya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang isinya adalah perang terhadap kolonialisme dan mempertahankan tanah air adalah wajib ‘ain hukumnya, hingga berkobarlah pertempuran November 1946 di Surabaya.

Perlawanan atas kolonialisme itu tidak semata dengan dar der dor. Jauh sebelum Resolusi Jihad, ada rentetan sejarah panjang. Ada pemberontakan para petani Banten (1888) yang diorganisir para ulama Tariqat, sebab kebijakan kolonial (Agrarische Wet 1870) yang merampas lahan mereka. [2]

Agak maju kesini, Serikat Dagang Islamiyah (SDI) didirikan oleh Tirto dan Samanhudi sebagai organisasi pribumi. Setelah itu kalangan tradisionalis mendirikan Nahdlatut Tujjar sebelum Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi-organisasi diatas berdiri dengan tujuan penguatan kebangsaan yang termiskinkan dan terhina akibat kebijakan kolonial Hindia-Belanda yang mengabdi pada kapitalis Barat. Mereka merampas tanah rakyat untuk dijadikan kebun-kebun, dan para petani terpaksa jadi kuli atau gelandangan. Memecah belah rakyat dengan kebijakan rasis, hingga saat ini kita masih sibuk dengan pembelahan pribumi/Cina.

Artinya, bahwa nasionalisme yang dimotori orang Islam diatas, menjangkar pada kenyataan keseharian rakyat, yaitu upaya menghapus kemiskinan dan kesengsaraan, menegakkan martabat bangsa dan mewujudkan kesejahteraan yang itu mengharuskan suatu perlawanan atas kolonialisme. Soal penolakan atas ajaran Salafi/Wahabi, adalah juga dalam konteks bahwa kehadiran ideologi mereka membawa kalangan Islam tercerabut dari akar tradisinya, tercerabut dari tanah air, dan membawa perpecahan di kalangan internal umat Islam sendiri.

Wacana Minor

Melihat rentetan sejarah di atas, bahwa nasionalisme yang oleh kalangan Nahdliyin berbunyi hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman), harus kita kembalikan pada khittoh-nya. Yaitu bahwa cinta tanah air harus berdasar pada realitas kongkrit, itulah yang harus kita perjuangkan. Dalam konteks kaum Nahdliyin yang mayoritas melarat, cinta tanah air ya yang paling riil dihadapi adalah soal penegakan keadilan dan pemenuhan kesejahteraan. Minimal mereka merasa aman dari rasa keterancaman atas hilangnya sumber kehidupan. Sebut saja sepetak tanah bagi petani, pekerjaan yang memadai bagi buruh, atau suatu lapak bagi pedagang kaki lima. Tapi sayangnya hal itu malah jadi wacana minor bagi pengusung hubbul wathon.

Adalah sudah umum belaka sebenarnya. Ketika isu yang bergulir adalah radikalisme atau terorisme mereka teriak-teriak, tapi dimana mereka saat para petani itu terancam tergusur sawahnya untuk industrialisasi ekstraktif dan bandara? Dimana mereka saat UMR buruh masih rendah dan ancaman pemecatan selalu saja membayang sebab kebijakan kerja kontrak dan outsourcing? Dimana mereka saat pedagang kaki lima harus main kucing-kucingan tiap waktu dengan Satpol PP? Dimana mereka saat Mall, super market dan berbagai minimarket seperti Indomaret dan Alfamart menggerus pasar tradisional dan toko kelontong?

Memang baru-baru ini ada beberapa anak muda Nahdliyin yang getol memperjuangkan kesejahteraan rakyat seperti diatas. Sebut saja yang tergabung dalam FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Keselamatan Sumber Daya Alam) yang mengusung Resolusi Jihad jilid II. Tapi sekali lagi, wacana itu tetap masih minor di kalangan elit-elit NU sendiri. Mereka lebih sibuk mengganyang kaum salafi/wahabi, sementara membiarkan warganya kehilangan mata pencaharian dan harga dirinya.

Gemuruh Tanpa Makna

Kaum Nahdliyin memang sangat menghargai leluhur. Tak usah menyebut data statistik. Membanjirnya ziarah kubur adalah bukti yang tak terbantahkan. Namun, mewarisi semangat perjuangan leluhur rupanya memang soal lain.

Bahkan kalau kita cermati lebih dalam, saat ini banyak sekali penguasa yang berbaju NU sendiri malah berselingkuh dengan kapitalis dalam mengeruk kekayaan alam atas nama industrialisasi, meski harus menggusur sawah-sawah petani yang kebanyakan juga warga Nahdliyin sendiri. Bentuk perselingkuhan itu misalnya adalah menjadi pemasok batu bara untuk pabrik semen dan menyediakan sarana tansportasi. Tidak usah saya sebut nama sebab semua orang sudah tahu.

Industrialisasi itu sebenarnya sejauh berangkat dari kebutuhan riil masyarakat dan tidak merusak, adalah bagus. Contoh industrialisasi yang bagus adalah sebagaimana yang China terapkan sebagai koreksi atas kebijakan Lompatan Jauh ke Depan. Setelah memantapkan basis (yakni reformasi agraria), China dengan memassifkan produk-produk teknologi tepat guna, seperti alat-alat pertanian, alat-alat pertukangan, dan saat ini teknologi tingkat tinggi. Setelah masyarakat dianggap benar-benar siap, China baru membuka diri terhadap pasar global. Dan kita tahu saat ini China jadi raksasa ekonomi dunia.

Hal tersebut sangat berbeda dengan kita. Industrialisasi kita bayangkan sebagai suatu undangan bagi investor asing untuk mengeruk kekayaan alam kita (seperti semen dan migas), dan kita semangat untuk menjadi kulinya yang pintar dan patuh dalam memperkaya mereka, meski hal itu harus memiskinkan kita. Bukankah hal sama persis sebagaimana kebijakan kolonial Hindia Belanda, yang itu sudah jelas-jelas ditolah teluhur atas nama hubbul wathon?

Dari situlah kita tahu bahwa hubbul wathon yang akhir-akhir ini bergemuruh dalam nyayian kaum Nahdliyin itu rupanya hanya bunyi-bunyian tanpa makna.

Baca juga: Cinta Tanah Air dan Parade Gondhal-Gandhol Intal-Intol

Yogyakarta, 4 Mei 2017

*Penulis aktif di KPMRT Yogyakarta.

[1] Pemikir awal nasionalisme yang populer adalah Ernest Renan (1823-1892). Bagi Renan, gagasan nasionalisme itu bermula dari bangsa Eropa yang mulai mengenal dirinya sebagai “subyek” sehingga protes terhadap kungkungan Gereja dilancarkan. Nasionalisme Eropa, karenanya, adalah nasionalisme yang sifatnya sekuler. Sebagai perbandingan, baca Imagined Community karya Ben Anderson. Bagi Anderson, nasionalisme itu bermula dari penemuan mesin cetak oleh Guttenberg yang mamu memassifkan gagasan gagasan secara tertulis. Oleh Ben, nasionalisme itu kemudian diandaikan sebagai suatu masyarakat terbayang. Ibaratnya orang Minang dan orang Ambon mungkin tidak saling kenal, tapi masih membayangkan bahwa mereka itu keluarga.

[2] Sejarawan Sartono Kartodirdjo merekam secara apik peristiwa pemberontakan itu dalam bukunya “Pemberontakan Petani Banten 1888” (Pustaka Jaya, 1966). Akibat kebijakan kolonial yang memiskinkan warga yang berpayung hukum Agrarische Wet tahun 1870, banyak petani kelihangan lahannya, menjadi kuli, miskin dan terhina. Adapun penggerak pemberontakan itu adalah para ulama yang juga mursyid Tariqat, meliputi Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan tariqat keagamaan lain.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Mei 4, 2017

    […] masih artikel yang ditulis oleh Ahmat Taufiq, berjudul Cie.. Hubbul Wathon. Tulisan yang masih anget di tubanjogja.org itu, merupakat respon spirit keberagamaan kaum […]

  2. Mei 7, 2017

    […] dibilang, saya sesungguhnya cukup akrab dengan kawan Ahmad Taufik (pengarang “Cie … Hubbul Wathan”). Tapi, ketika menganalisis beberapa tulisannya, saya pikir beliau ini orangnya terlalu […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.