Ehm “Cie … Hubbul Wathan”

tubanjogja.org – Hubbul Wathan

Hubbul Wathan

Ilustrasi diambil dari www. iamjwal.com

Oleh: Saifullah Muhammad*

 

Boleh dibilang, saya sesungguhnya cukup akrab dengan kawan Ahmad Taufik (pengarang “ Cie … Hubbul Wathan ”). Tapi, ketika menganalisis beberapa tulisannya, saya pikir beliau ini orangnya terlalu su’udzon terhadap apa saja—untuk tidak menyebut sinis. Gaya tersebut, di sementara keadaan, memang berpotensi besar memicu daya kritisnya dalam melihat serta menilai sesuatu. Namun, di waktu yang sama juga berperan menceburkan Ahmad Taufik pada kolam reduksi-reduksi. Pun, buat para pembaca tulisannya juga rawan terjebak dalam bias-bias kenyataan.  

Sebagai salah satu contoh, kita bisa melihat gejala tersebut dari bagaimana ia melihat kasus gemuruh ormas NU—yang ia simpulkan sebagai gerakan hampa makna—soal nasionalisme. Satu sisi, di sini kita bisa menikmati betapa Ahmad Taufik berhasil menampilkan satu pandangan yang sama sekali berbeda dari kebanyakan. Jika mainstream melihat pergerakan NU yang tidak memberi izin Felix Siauw untuk mengisi pengajian di Malang, misalnya, sebagai suatu pencapaian yang kemudian patut dirayakan, maka beliau sebaliknya. Ahmad Taufik justru memandangnya sinis, “Cinta tanah air macam apa itu!” Teriaknya. Penolakan yang terjadi beberapa hari kemarin itu memang dilandasi oleh pandangan bahwa aliran sejenis HTI (Felix Siauw) sangat potensial mengancam keutuhan NKRI.

Baginya, jika memang gerakan NU di atas mengatasnamakan Nasionalisme (yang hanya dilihat Taufik sebagai keutuhan bangsa), mengapa tidak diarahkan pada penggebukan terhadap mereka—baik pemerintah, para ahli, dan pemodal—yang suka merebut tanah rakyat saja? Dalam artian, ia menyayangkan betapa gemuruh tersebut usai tercerabut dari makna utama nasionalisme itu sendiri. Pada garis ini, tidak papalah kita apresiasi cara kerja kawan Taufik.

Namun, di ruang yang berbeda, ada beberapa hal yang saya pikir tidak bijak jika kita amini begitu saja. Adalah (1) betapa beliau terlalu mengeneralisasikan konteks tempat dan (2) mereduksi apa itu yang disebut sebagai makna, meaning. Pertama, alangkah lebih bagusnya kawan Taufik jika sebelum mengeluarkan kenyinyiran terbaiknya, ia berselancar terlebih dulu tentang kondisi munculnya pergerakan nasionalisme NU yang disinggung di hampir keseluruhan tubuh tulisannya. Bukan masalah apa-apa, takutnya pergerakan itu lahir di rahim wilayah yang memang tengah darurat “wacana keislaman ramah NKRI”, bukan darurat tanah, sehingga bagus dong jika manifestasinya adalah penolakan terhadap penyebaran wacana kanan (menolak ideologi bangsa). Dan sebagai tambahan: sangat mungkin ketika mengarang tulisannya kemarin, Ahmad Taufik terlalu terpaku dengan tanah kelahirannya, Tuban, apalagi mengetahui jika konon beberapa sawah kakeknya menjadi korban ekspansi Semen Indonesia, sehingga tidak bisa disalahkan juga sih mengapa begitu.

Kedua, ini soal menziarahi sejarah. Seingatku, pada salah satu paragrafnya, beliau menganjurkan bagi mazhab yang menggandrungi ziarah ini, bahasanya kawan Taufik, untuk mengunjungi sejarah. Di situ, ia cerewet soal resolusi Jihad, pemberontakan petani Banten, Tirto dan Samanhudi dengan SDI (Serikat Dagang Islamiyah), dan Nahdlatul Tujjar. Seolah-olah, ia mengidamkan pergerakan mazhab NU hari ini bisa seperti kakek moyang tersebut, tanpa dijelaskan sama sekali betapa dulu mereka tidak mengenal FB, WA, Instagram, BBM, dan banyak lainnya. Beliau benar-benar menguraikannya—tampak dari adanya catatan kaki—, tapi yang saya ganjilkan, mengapa kawan Taufik sama sekali tidak menyinggung pula betapa dulu kemerdekaan tidak akan pernah tercapai tanpa adanya “kesadaran” (sangkut pautnya dengan pola pikir) bahwa “penjajahan” bukanlah sesuatu yang baik-baik saja? Kenapa juga seakan ia menutup mata dengan fakta sejarah bahwa keruntuhan peradaban Islam ratusan tahun silam adalah diawali dengan menjamurnya pola pikir “anti dunia” atau sufi? Inilah yang saya sebut sebagai kolam reduksi. Ahmad Taufik tampaknya terlalu gerah dengan cuaca hari ini, sehingga tidak kunjung juga keluar dari kolam tersebut.

Dengan ungkapan lain, yang ingin saya ketengahkan di sini adalah ndak masalah kita menganjurkan secara nyel jika pergerakan NU diarahkan ke perjuangan membela tanah-tanah rakyat. Itu mulia. Tetapi, bukan berarti kita harus menolak sama sekali mereka yang tidak memberi izin (jangan pakai bahasa “menggebuk” lah) seminar-seminar HTI atau sejenisnya. Segala sesuatu memiliki tempat dan maknanya masing-masing, dan secara bersamaan untuknyalah kita harus—untuk tidak menyebut wajib—bisa memosisikannya secara elegan.

Dan, oh iya, satu lagi, soal oknum pemasok batu bara Semen di Tuban, saya pikir Ahmad Taufik ini terlalu terburu-buru su’udzon. Tentang ini, kita perlu melihatnya dari jendela yang lebih luas. Si pemasok melakukan itu bukan tanpa tujuan terselubung. Ia tidaklah polos seperti anak-anak kucing baru lahir. Ia memiliki rencana. Serencana yang sungguh halus. Buktinya? Coba lihat beberapa yayasan berlatar hijau di Kerek, Merakurak, dan sekitarnya hari ini. Semua sudah dijatah Semen, cah! (Untuk kawan Taufik, mungkin besok malam minggu kita ngobrol-ngobrol lagi lah soal ini sama kawan-kawan Kerek. Soal tanah, soal udara, soal saldoan, dan beberapa teman kita yang sering dapat ancaman. Paling tidak, biar antaraku dan mu, semakin akrab) Ehm … Dan akhirnya, tiada kata yang bisa kusampaikan di sini kecuali: tiada penghargaan yang terbaik atas suatu karya melainkan “kritik”.

 

*Mahasiswa Janabadra Jogja,  Hubbul Wathan Lovers.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Desember 7, 2017

    […] kelompok Islam di Indonesia yang paling sering menggembar-gemborkan nasionalisme. Dan dengan jargon hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) itu pulalah mereka mengerahkan massanya untuk menggebuk Islam salafi/wahabi, Hizbuttahrir dan FPI, […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.