JATIROGO, RIWAYATMU DULU

0
jatirogo
Suasana perempatan kecamatan Jatirogo

Tubanjogja, Jatirogo Dulu, Setelah masuknya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Nusantara pada abad ke-17, mulai terbentuk pusat-pusat perekonomian, di daerah nusantara, tak terkecuali di daerah Tuban. Terbentuknya pusat-pusat perekonomian tersebut menyebabkan adanya monopoli perdagangan oleh VOC. Sehingga menyebabkan ketergantungan ekonomi dan politik penguasa pribumi terhadap pemerintahan Belanda.

Dalam rangka menguasai perdagangan di nusantara, pemerintah Belanda memberikan hak istimewa kepada VOC. Beberapa hak VOC diantaranya adalah menentukan komoditas barang perdagangan, mencetak dan mengedarkan uang,  mendirikan benteng dan menjalankan kekuasaan kehakiman. Dari hak-hak yang telah diberikan membuat VOC berkembang pesat.

Oleh, Ifan Wahyudi*
Suasana perempatan kecamatan Jatirogo

Oleh, Ifan Wahyudi*

Perkembangan peradangan VOC itu juga terjadi di Tuban, apalagi setelah tahun 1746 Gubenur Jenderal Imhoff menempatkan Tuban di bawah Rembang, dan Jatirogo terpilih sebagai wilayah kawedenan. Kawedenana adalah wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda.

Dahulu Jatirogo sebagai pusat perokomian pernah mengalami kemajuan, ini dapat dilihat dari aktivitas perekonomian di pasar Jatirogo. Hampir seluruh hasil bumi dari wilayah kawedanan ini di perjual belikan, dari jagung, ubi-ubian, beras, dan sayur-sayuran, bahkan juga pakaian dan perabotan rumah tangga, tidak ketinggalan barang-barang pecah belah juga turut hadir untuk meramaikan dagangan para pedagang.

Selain komoditas diatas, produk dari hutan seperti kayu jati juga menjadi komoditi utama yang di eksploitasi habis-habisan oleh Hindia Belanda. Karena kayu jati salah satu kayu yang kuat dengan memiliki kualitas bagus. Itulah mengapa hutan jati di Tuban berkembang pesat dan melimpah.

Melihat bagusnya potensi kayu jati, maka VOC melakukan proteksi terhadapnya. Hal itu dimulai pada tahun 1803 pemerintah belanda memerintahkan untuk membiarkan hutan di Tuban supaya berkembang dan tidak di eksploitasi lagi. Langkah Kongkret yang diambil adalah mengangkat dua Opper Boschoofden (Kepala Utama Pengawas Kehutanan) yang langsung di bawah pengawasan pemerintah Belanda.

Dari situlah Jatirogo menjadi suatu kawedanan yang penting di pojok kabupaten Tuban. Dengan dukungan SDA yang melimpah dan SDM yang mumpuni, kawedenan Jatirogo menjadi satu-satunya kawedenan di wilayah kabupaten Tuban yang sangat maju. Karena didukung oleh sarana dan prasarana yang ada semisal, jalan raya Lasem-Bojonegoro yang melintas tepat di jantung kota Jatirogo. Selain itu, kereta api juga yang menjadi tulang punggung pengiriman kayu jati ke Semarang untuk di jual ke Eropa oleh pihak VOC.

Namun masa kini kawedanan sudah dihapuskan namun posisi wedana di beberapa tempat masih diisi oleh pejabat yang disebut pembantu kabupaten yang tidak memiliki kewenangan pengambilan keputusan. Wilayah kerjanya disebut wilayah pembantu kabupaten.

Berkat kawedenan ini Jatirogo juga pernah menjadi kecamatan terpenting di Tuban.  Ketika agresi militer Belanda ke-2 di Tuban, Pusat pemerintahan Tuban pernah dipindahkan dari kota Tuban ke jatirogo. Selain itu Jatirogo juga menjadi pusat pertahan dari divisi Ronggolawe yang menyelamatkan kilang minyak di blok cepu, Blora, Jawa Tengah.

Dari paparan diatas, Jatirogo dari dulu memang sudah menjadi salah satu pusat perekonomian Tuban–sementara saat ini jatirogo masih menjadi kecamatan dengan perekonomian terbaik di Tuban—. Oleh karena peran dan fungsinya dimasa lalu itulah, Jatirogo saat ini memiliki 1 pasar yang bisa dikatan besar, 1 terminal bus penumpang, 1 rumah sakit di bawah RSUD di atas puskesmas (tahap pembangunan).

Yogyakarta, 07 Mei 2017

*Penulis adalah sejarawan muda Universitas Widya Mataram Yogyakarta, kelahiran Jatirogo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here