Wabah Virus Makelaria

0
makelaria
ilustrasi diambil dari https://www.flickr.com/photos/brooke_anderson/773622511

Makelaria

ilustrasi diambil dari https://www.flickr.com/photos/brooke_anderson/773622511

Oleh Taufiq Ahmad

/i/

tubanjogja.org, – Salah satu fenomena Abad 21 di Indonesia adalah mewabahnya virus Makelaria. Gejala paling nampak, bisa kita kenali dengan maraknya pemuja mantra entrepreneurship yang berakibat komodifikasi segala lini, sementara bentuk brutalnya berupa MLM (multi level marketing).

Virus itu merajalela setelah tekanan finansial global menjebol benteng Orde Baru (1998), dengan membawa panji-panji keterbukaan. Seiring dengan itu, pesatnya perkembangan teknologi informasi, memunculkan dunia baru yang disebut ”dunia maya”, suatu dunia yang mampu melintasi batasan ruang fisik serta ikut mendorong merajalelanya virus itu.

Kenyataan ganda tersebut (keterbukaan dan dunia maya), di satu sisi berimbas pada penetrasi segala ruang yang semakin massif oleh modal (asing), sehingga membuat warga Indonesia kian terhimpit dan tersingkir. Apalagi kemajuan teknologi yang menggantikan peran manusia (seperti artificial intelligence) yang rupanya tidak diiringi dengan perubahan hukum purba akumulasi kapital, membawa implikasi terhadap bargaining position pekerja yang kian lemah akibat merebaknya pengangguran.

Dari situlah maka jurang ketimpangan sosial (rasio gini) semakin yang lebar adalah keniscayaan yang bisa terjelaskan secara gamblang. Meski begitu, di sisi lain, hadirnya dunia maya telah menyediakan saluran-saluran baru, sehingga ekspresi keterhimpitan, rasa ketidakadilan dan jurang ketimpangan itu bisa tertampung.

Dari sinilah kita bisa faham, jika suatu ledakan semisal “revolusi sosial” atau aksi sepihak demi land reform akan hampir mustahil terjadi. Rakyat yang tergusur tanah atau lapak jualannya menjadi tidak terlalu ngotot dalam menuntut. Toh masih bisa menjadi pedagang dengan “lapak maya” dengan modal sangat murah. Selain itu, kalaupun toh ada protes, dunia maya bisa menampungnya seperti petisi-petisi yang kini bertebaran itu. Suatu gerakan yang seolah bergemuruh di dunia maya tapi tak berbunyi di dunia nyata selain seperti riak-riak kecil pinggir pantai.

/ii/

Di tengah meluasnya ruang maya yang seiring dengan menyempitnya ruang hidup itulah yang menjadi suatu kenyataan dasar yang mensituasikan virus Makelaria merebak. Katakanlah itu faktor keruangan yang bisa kita hitung sebagai faktor pertama.

Adapun faktor kedua adalah bahwa virus Makelaria itu secara genetik merupakan warisan dari struktur kolonial. Ketika Barat datang ke Nusantara abad XVI dengan semangat merkantilisme, dan Belanda kemudian membentuk VOC (1602) yang lama-kelamaan bermutasi menjadi penjajah (disebut imperialisme), ia membentuk struktur sosial di Nusantara yang menguntungkan penjajahnya. Struktur itu ditopang dengan kebijakan rasialis, yang menempatkan Cina sebagai pedagang perantara, sementara bangsawan pribumi pamong praja sebagai “pejabat perantara.”

Ketika Belanda terusir dan rakyat Indonesia mendirikan NKRI dengan semangat revolusi, struktur peninggalan Belanda itu sebenarnya tak pernah benar-benar berubah. NKRI adalah kelanjutan dari Hindia-Belanda tanpa Belanda, yang artinya bahwa kita merasa sudah “nasional” tapi kenyataan memberi suatu fakta bahwa kita masih sepenuhnya “kolonial.”

Beberapa orang seperti Soekarno kemudian menyadari hal itu tapi tak mampu berkutik sehingga terpaksa mengambil “jalan tengah” yang didukung militer (Nasution) pada 1959, dan mengkonsolidasikan tiga unsur bangsa (sipil) Indonesia dalam suatu wadah bernama Fron Nasional dengan doktrin Nasakom untuk melawan apa yang ia sebut sebagai “neokolonialisme dan imperialisme”.

Akan tetapi, rupanya Soekarno gagal membaca secara jeli terkait kenyataan sekitar, sehingga ia harus lengser dalam percaturan global yang disebut perang dingin akibat ia anakronistik dalam melihat dinamika internal militer yang dengan mudah disusupi kepentingan-kepentingan global.

Ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan, ia mencoba melakukan konsolidasi dan menata ulang arah bangsa terutama sebagaimana hasil dari Seminar Angkatan Darat II pada 1967 di Bandung. Soeharto menghidupkan kembali model negara polisionil persis sebagaimana Belanda, dengan ciri khas militer sebagai pengaman kekuasaan pemerintah sehingga rakyat tiap hari dilitsus. Adapun struktur warisan kolonial juga dilanjutkan, yaitu Cina (seperti Liem Swie Liong) sebagai pedagang perantara dan para teknokrat sebagai pejabat perantara, dengan para Tuan besar adalah tetap Barat. Maka terjadilah hubungan saling menyandera diantara kedua “perantara” itu. Sehingga ketika Orde Baru runtuh, kekerasan terhadap etnis Tionghoa menjadi tak terhindarkan.

Tionghoa yang oleh Belanda dianggap asing, ingatan itu kembali terpanggil, dan pilihan naif mengganyangnya adalah suatu jalan pintas ketika kesadaran kelas tak juga tumbuh sebab depolitisasi yang dilangsungkan oleh rezim.

Dan akhirnya, runtuhnya Orba dengan semangat demiliterisasi yang segera digeser privatisasi itulah virus Makelaria menemukan momentum ledaknya dan menguasai segala sektor kehidupan. Negara kita kemudian runtuh, dan sekedar menjadi persekutuan para makelar.

/iii/

Faktor selanjutnya adalah suatu proses alamiah. Ketika suatu tindakan politik dilaksanakan, kita harus mengerti bahwa struktur akan bertambah. Sementara keruwetan bertambah, manusia sejak dilahirkan harus menyadari bahwa kematian menghadang di depannya. Bisa dibayangkan bagaimana beban yang ditanggung manusia kontemporer yang sudah pasti lebih berat dari manusia pra-modern.

Pertambahan beban di satu sisi, dan kenyataan yang tidak memberi kelonggaran untuk menghimpun daya angkut di sisi lain, akan membuat manusia cenderung mengambil jalan pintas: lari dari kenyataan.

Pelarian dari kenyataan itulah yang bisa kita temui akhir-akhir ini dengan maraknya mantra-mantra kuno dengan modifikasi baru, seperti ratu adil, khilafah, revolusi hijau, entrepreneurship, habisi dominasi Cina, dana talangan IMF, dan investasi modal asing. Seolah-olah mantra-mantra itu menjadikan kita lebih kuat padahal sama sekali tidak! Mantra-mantra itu mungkin saja membawa kita seolah terangkat dan melayang tinggi padahal ujungnya adalah kita bakal terpelanting jatuh tertumbuh batu karang dan keok!

Artinya, bahwa beratnya beban yang tidak diiringi daya ungkit atau daya angkut sebab tubuh sosial remuk redam itulah yang membuat kita lari terbirit-birit dari kenyataan. Dan tubuh yang semacam itulah ketika virus Makelaria menghinjeksi, akan dengan mudah bagi virus itu untuk menguasainya.

/iv/

Makelar, ketika ia hanya bergerak pada tempatnya saja (yakni wilayah ekonomi), sebenarnya tidak masalah. Yang merepotkan adalah ketika ia bermutasi menjadi virus ganas dan menjajah hampir seluruh sektor kehidupan lainnya.

Sektor politik misalnya, virus Makelaria benar-benar telah membunuh politik. Politik yang merupakan ranah publik dengan nilainya berupa kesejahteraan warga, ketika virus Makelaria menginjeksi, ia menjadikan politik sekedar ajang mencari laba demi kepentingan pribadi/golongan. Partai politik yang lahir dari nilai-nilai adiluhung, kini telah menjelma sebagai serikat dagang suara, perkumpuluan makelar politik, yang menjual janji untuk kursi, dengan laba berupa gaji, tunjangan, fasilitas publik, dan proyek.

Dari sini kita mengerti mengapa korupsi dan perkronian marak meski banyak yang bersuara anti-korupsi. Ibarat daging, politik yang mengalami pembusukan hingga munculnya belatung-belatung itu (seperti korupsi) adalah sebuah keniscayaan.

Begitu pula dalam sektor agama, virus itu membuat umat kesulitan membedakan mana saudagar mana ustadz, sebab barang dagangannya selalu ia legitimasi dengan dalil dan ayat, selain terkadang malah jualan ayat suci itu sendiri. Beberapa agamawan sering kali juga menjadi makelar bagi pembeli yang mau mengkapling tanah surga lengkap dengan bangunan rumahnya. Dan ditambah lagi akhir-akhir ini marak sekali MLM yang juga berlabel agama dengan jaminan ilahiyahnya.

Dalam kesenian juga demikian. Orientasi para seniman dalam berkarya adalah bukan sebagai perealisasian diri atau suatu perjuangan kerakyatan, melainkan (lagi-lagi) untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya. Polemik lama tentang “seni untuk seni” vs “seni untuk rakyat” tak berlaku lagi sebab mereka berdua bertekuk lutut di hadapan virus jenis baru yakni komodifikasi seni.

Daftar diatas bisa ditambahkan berderet-deret, seperti sektor komodifikasi pendidikan, hukum, militer, dan seterusnya. D itu akan semakin rumit saja jika kita melakukan kombinasi dari setiap sektor yang ada. Misalnya ketika kita temui makelar besar yang berbaju politik, berjubah agama, berbaju cendekia, bertameng militer. Orang-orang begitu akan siap dan sigap untuk membantu pemodal dalam mengeruk habis kekayaan bumi pertiwi demi dirinya dan konco-konconya. Dan yang seperti ini kita temui banyak sekali. Suatu proses mutasi yang menjadi jauh lebih canggih dan lebih merusak dari “pejabat perantara” zaman kolonial Belanda. Bukankah kemudian mudah membayangkan malapetaka macam apa yang akan kita hadapi?

/v/

Wabah virus Makelaria yang membawa malapetaka tersebut, tentu tak bisa serta-merta dilawan dengan slogan atau seruan moral, sebagaimana merebak dalam banyak petisi di dunia maya itu. Perlawanan atasnya, pertama-tama, jelas membutuhkan pengenalan atas virus itu, sebagaimana yang dicoba dalam tulisan ini. Salah mengenali virus itu sebagai virus, sehingga kita anggap ia sebagai obat atas penyakit (seperti entrepreneurship sebagai obat atas maraknya pengangguran), tentu akan memperparah keadaan.

Selanjutnya, kita bisa membuat virus baru yang berfungsi sebagai suatu antivirus untuk penjinakan di satu sisi, dan di sisi lain adalah dengan memperkuat antibodi kita agar “tubuh sosial” kita menjadi lebih kebal. Penguatan rasa persaudaraan atau kesetiakawanan sebagaimana termaktub dalam kata “gotong-royong” harus kembali kita hidupkan.

Upaya tersebut, pernah dicobakan oleh leluhur kita. Seperti gotong-royong dalam ekonomi mereka membuat koperasi sebagai suatu perwujudan atas Sosialisme ala Indonesia, dalam politik menjalankan praktik demokrasi, sementara dalam kebangsaan meneguhkan asas bhinneka tunggal ika. Masalahnya adalah bagaimana mengambil inspirasi mereka untuk kenyataan yang jauh lebih berat dan lebih ruwet saat ini, itulah tugas kita.

Artinya bahwa perjuangan kita sebagai warga dalam mengupayakan suatu pembebasan menyeluruh itu harus kita susun secara sistematis dan bertahap. Tidak bisa sekedar karnaval grudag-grudug dalam sehari dan malamnya tertidur lelap dengan mimpi keindahan surga. Padahal ketika bagun, kenyataan yang suram dan menghimpit serta-merta menyergap. Puji Tuhan!

 

Yogyakarta, 09 Mei 2017

 

Referensi:

Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid I, II dan III

Emmanuel Subangun. 2004. Negara Anarkhi. (Yogyakarta: LKiS).

Hario Kecik, Pemikiran Militer, dalam berbagai jilid.

Hasyim Wahid. 2005. Mengaca Konsensus Nasional.

Humberto Maturana. 2008. The Origin of Humanness in The Biology of Love

Gayatri Spivak. 2005. The Post-Colonial Critic.

Yasraf Amir Piliang. 1998. Dunia yang Dilipat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here