KIU (Kawasan Industri UIN)

7
KIU
Ilustrasi diambil dari www.klikbekasi.co

KIU 

Ilustrasi diambil dari www.klikbekasi.co

 

tubanjogja.org, – Berpijak pada tulisan kawan Rizka kemarin tentang privatisasi kampus, saya kira ada satu yang missed: terlalu jauh. Iya! Mungkin, melihat pencapaian UIN—anggap sajalah—saat ini, kita tidak bisa melulu mengambinghitamkan pemerintah. Selain karena ia tidak murni hewan, ihwal privatisasi dunia pendidikan juga menyangkut mahasiswa. Dalam artian, yang penting untuk kita soroti terlebih dulu di sini adalah mahasiswanya. Kenapa begitu? Ya percis seperti bagaimana suatu pabrik yang hanya mau “sedikit” melebarkan telinganya saat buruhnya bergerak, gitu saja. Simpel. Mahasiswa dalam konteks ini, tak lebih dari buruh. Jika tidak bersemayam di pikirannya secercah kesadaran pun kalau ada yang tidak beres dengan kampusnya, tentu sejungkirbalik kita mengkritik pemerintah, hanya akan menjadi asap pabrik di pagi hari. Lewat begitu saja.

Mengapa saya menyebutnya buruh? Mari kita periksa. Cobak, di antara kita—sebagai sesama mahasiswa, eh maaf buruh maksudnya—pernah ndak diajar seorang dosen yang me-”wajib”-kan mahasiswanya membeli buku dengan sampul depan tertera namanya besar-besar? Oh, atau mungkin bukan buku karyanya, tapi karya temannya, pernah? Oke, simpan dulu.

Kemudian, di ruang lain, sempat ndak kita mengamati teman-teman mahasiswa yang rajin sekali membantu dosen melancarkan program-programnya, seperti studwium gweneralhe dan semacamnya? Adakah dari mereka kepo soal sirkulasi dana? Atau pernahkah mereka mendapat cipratan sebagai biaya lelah? Dan satu lagi, apakah mereka bahagia? Pasti di antara kita ada yang pernah toh mengamatinya.

Iyes, inilah yang saya sebut sebagai praktik buruh. Secara sangat halus nan rapi, industrialisasi kampus tengah berhasil membentuk dosen—kebanyakan sih—menjadi tak berbeda jauh dengan “pemodal”. Tak jarang dari mereka melihat disiplin keilmuan yang dimilikinya bukan sebagai apa pun melainkan “komoditas”, dengan kampus sebagai lapaknya. Kemudian, karena pemodal, mereka membutuhkan karyawan untuk melancarkan sirkulasi dagangannya, alhasil mahasiswa deh korbannya. Sebagai catatan saja: manifestasi paling nyata atas itu adalah dijadikannya mahasiswa sebagai “pasar” untuk menjual dagangan-dagangannya—dan tepat di garis inilah kita penting untuk menatap dosen yang mewajibkan mahasiswa membeli bukunya di kelas secara lebih binal.

Soal kedua, saya suka menyebut itu sebagai an untrue consciousness (kesadaran palsu), meminjam bahasanya mbak Nawal el-Sa’dawi. Kenapa? Sebab mereka tidak benar-benar sadar jika lagi dimanfaatkan. Itu tampak dari tidak sedikitnya mahasiswa yang sejenis rebutan untuk menjadi penjaga meja resepsionis (baca: panitia) atau pengantar minuman ke pembicara kala acara seminar berlangsung. Bahkan ada juga yang rela menggunakan uangnya sendiri demi acara, demi dosen.

Apakah mereka sedih? Sama sekali tidak! Mereka justru bahagia. Kok bisa begitu? Inilah yang membuatku nyaman dengan istilah kesadaran palsu. Mereka demikian sebab dibenaknya ter-instal narasi jika “penilaian” dosen adalah ukuran segala sesuatu. “Dikenal” dosen adalah penghargaan level dewa—belum lagi nanti soal nilai—dan sebagainya. Dalam artian, yang mereka sadari saat menjadi panitia adalah kebanggaan terhadap dirinya sendiri karena sudah bisa mendapatkan perhatian khusus dari dosen. Mengapa sampai ada narasi tersebut? Ada dua kemungkinan: pertama, karena kita belum bisa membuat narasi sendiri, sedangkan kedua, sebab dosen terlalu pandai menyituasikan sesuatu.

Jika mau cermat, kita mungkin akan sering mendapati dosen yang gemar nggedul ke mahasiswanya bahwa seminar itu adalah efektif untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, bahwa bedah buku adalah cara paling cepat “memahami” isi keseluruhan buku, bahwa mahasiswa “keren” itu yang sering ikut seminar—apalagi terlibat langsung (jadi panitia maksudnya)—dan bahwa-bahwa lainnya. Pun, belum lagi ketika kita melihat betapa banyak dari mahasiswa UIN tinggal di pesantren. Bukan tentang pesantrennya, tetapi pandangan “guru” atau “kiai” yang masih sering disamakan dengan “dewa”—sesuatu yang padanya kita bilang “ah” saja adalah dosa besar—sehingga saya pikir tidaklah mengada-ada jika disebut bahwa alasan mengapa mereka demikian adalah murni konstruk.

Secara tanpa sadar, mahasiswa hari ini tengah digiring, langsung oleh dosennya, untuk menjadi buruh-buruh yang baik. Buruh yang harus manut nyel dengan semua perkataan pemodal—meski dirinya sendiri terluka—yang seolah demi kepentingannya sendiri, padahal tidak sama sekali, buruh yang harus membeli sendiri produk-produk dari atasannya tanpa harus tahu bagaimana sirkulasi keungan di dalamnya, dan buruh yang senantiasa dibentuk untuk tidak mampu menciptakan narasi kehidupannya sendiri. Walhasil, satu kalimat untuk merangkum semua coretan penuh dosa ini, yakni “Jika tidak ingin marah-marah, janganlah sekali-kali melihat UIN sebagai instansi pendidikan!”Zav

 

7 KOMENTAR

  1. Bahasa yang sangat renyah seperti kerupuk, mudah di pahami dam narasi yang begitu dekat dengan keseharian semakin membuka pikiran kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here