Aku di PHP KIU (Kawasan Industri UIN)

5
di php kiu

PHP KIU

Oleh, Mbah Takrib*

Sebagai salah satu penikmat tulisan-tulisan di tubanjogja.org—kebetulan diisi oleh kawan-kawan sendiri—saya adalah salah satu penggemar Zev. Seorang penulis nyinyir yang tulisannya menggelitik dan mencerahkan dengan bahasa ringan, renyah dan santai namun menyayat. Mabaca tulisan Zev, ibarat makan krupuk di pinggir pantai pada suatu sore bersama kekasih, namun ketika hendak beranjak pergi, kita baru sadar kekasih itu ternyata telah menjadi mantan.

Tulisan-tulisan Zev biasanya berupa kritik, baik kritik pemikiran, ide dan atau kenyataan. Kritik tersebut disajikan secara segar, dengan sudut pandang yang tidak banyak dilirik oleh kawan lain. Itulah mengapa, saya tidak pernah bisa absen dari tulisan-tulisan Zev. Bahkan, ketika tulisan terakhirnya berjudul “KIU (Kawasan Industri UIN)” dipubikasikan, saya adalah salah seorang yang antusias untuk segera membacanya.

Tulisan itu merupakan tanggapan dari artikel yang ditulis oleh kawan Riska, seorang warga baru di tubanjogja.org. Riska dalam artikel berjudul “Pendidikan itu Harusnya ya Merakyat”, mengulas pendidikan di Indonesia dari masa ke masa, problematika, tantangan dan harapan.  Menurutnya, masalah utama pendidikan adalah sistem pendidikan itu sendiri, yang mana telah hanyut dalam arus kapitalisme.

Kapitalisme menurut Riska, telah menjadikan pendidikan sebagai komoditas dagangan sekaligus supporting system pasar bebas—tenaga kerja trampil dan murah–. Hal itu diperparah oleh melemahnya peran pemerintah dalam pendidikan (privatisasi, deregulasi dan liberalisasi) yang berdampak pada minimnya kualitas dan senjangnya akses.  Dari itu, Riska menawarkan pendidikan harusnya merakyat untuk dapat diakses semua golongan. Bukan justru semakin mahal dan terkotak-kotak menurut kelas sosial—kastaisasi dalam pendidikan, seperti penggolongan biaya SPP yang problematik.

Barpijak dari tulisan kritik pendidikan Riska, Zev kemudian hadir dengan tanggapannya yang lagi-lagi terasa nyinyir. Tapi tidak seperti biasanya, kenyinyiran Zev kali ini terasa hambar, sehambar memasak sup tanpa micin. Bagaimana tidak, alih-alih hendak memberi perspektif baru terkait masalah pendidikan, Zev justru menyesatkan pembaca dengan diskursus dan tema yang ia usung.

Menurut saya terdapat beberapa kecacatan logika fikir dan narasi dalam tulisan tersebut. Pertama, penggunaan term “industri” dalam kampus, sebut saja UIN, tanpa didahului penjelasan maksud dan pengertian. Dimana pengertian industri secara umum adalah suatu kegiatan mengolah bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang yang memiliki nilai tambah untuk mendapat keuntungan dalam mata rantai ekonomi. Sedangkan kampus dalam hal ini adalah rumah bagi lembaga pendidikan bernama Universitas (UIN) atau pendidikan perguruan tinggi setingkat, yang sesungguhnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan industri.

Kalaupun toh ada, saya sepaham dengan Riska. Kubangan kapitalisme—suatu faham akumulasi nilai (kekayaan/aset)—telah memerosokkan pendidikan dalam lumpur nestapa. Bagaimana tidak, pendidikan yang punya tujuan mulia mencerdaskan kehidupan bangsa itu, kini tak ubahnya seperti pabrik penyediasa jasa pengalengan. Menghimpun bahan-bahan dari  berbagai tempat (berupa peserta didik), mengolah sesuai rasa (penjurusan), pelabelan dan kemudian siap untuk dipasarkan. Bahkan, sukses atau tidaknya lembaga pendidikan, kini diukur dari sejauh mana lulusannya diterima di lembaga tingkat lanjut bergengsi dan atau terserap pasar kerja.

Kedua, tidak dijelaskannya hubungan antara industri dan lembaga pendidikan, membuat Zev berjibaku dengan narasi semu (shifting narration). Maksud hati hendak memotret sisi kelam indstrialisasi lembaga pendidikan dari hal sederhana dan dekat dengan aktivitas kampus.  Kritik Zev yang menyayat dan kejam itu, justru tidak match.

Hal itu disebabkan oleh kaca mata Zev yang berwarna sinis, sehingga apa yang nampak seolah adalah pembodohan secara sistematis, struktural dan massif. Ia menerangkan dan menyimpulkan, apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawannya di kampus dalam upaya membatu dosen mengerjakan laporan penelitian, seminar dan memebeli buku dosen adalah perilaku munafik untuk mengejar simpati dan nilai semata. Menurut Zev, mereka telah terhegemoni oleh superioritas dosen untuk tunduk dan patuh. Hal tersebut adalah sudut pandang subyektif yang tidak sepenuhnya benar. Sebab hal semacam itu, bisa dibenarkan dengan maksud pembelajaran dan amal bakti siswa pada guru.

Selain itu, penempatan analogi mahasiswa sebagai buruh dalam lingkungan pabrik kampus adalah sesuatu yang tidak tepat. Buruh adalah salah satu bagian dari sistem produksi yang dibayar dengan mekanisme kerja jelas. Tetapi dalam kasus mahasiswa yang disinggung Zev, tidak membahas analogi tersebut. Di kampus, mahasiswa yang bayar dan bukan dibayar. Jika demikian, bagi saya yang tepat dianalogikan sebagai buruh adalah dosen sedang mahasiswa sebagai produk yang dihasilkan (pembeli jasa instal ilmu).

Soal penindasan yang dialami mahasiswa oleh dosen dalam lingkungan kampus. Saya lebih tertarik menyebut itu sebagai eksploitasi saja tanpa membuat analogi yang ambigu dan rumit. Dan karena itulah, membaca tulisan Zev tentang KIU seperti mengunyah bualan kosong di siang hari saat rasa lapar melilit pikiran.

Terakhir, cintailah aku karena telah nyiyir padamu.

Yogyakarta, 11 Mei 2017

*Penulis adalah Zev Lover

5 KOMENTAR

  1. One more thing. It’s my opinion that there are several travel insurance web pages of respectable companies that permit you to enter your journey details and find you the rates. You can also purchase the actual international travel insurance policy online by using your credit card. All you need to do is always to enter all your travel details and you can begin to see the plans side-by-side. Merely find the plan that suits your budget and needs then use your credit card to buy it. Travel insurance on the internet is a good way to search for a respected company regarding international travel insurance. Thanks for discussing your ideas.
    [url=http://www.matematykaforum.pl/viewtopic.php?f=18&t=50513]shermansloMr[/url]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here