Bersama Aktivis Museum NU, KPMRT Bahas Intoleransi

0
Ilustrasi diambil dari https://ressay.wordpress.com/2012/11/01/hapus-kebijakan-pro-intoleransi/

Tubanjogja. -Ormas-ormas Islam intoleran kini menguat di Indonesia. Di Surabaya, beberapa kali mereka menekan pihak keamanan untuk membubarkan diskusi publik. Salah satunya di Museum NU, Surabaya. Begitu cerita Edi, aktivis Museum NU Surabaya, dalam pertemuannya dengan KPMRT Yogyakarta di kedai Blandongan (16/5).

Bersama Aktivis Museum NU, KPMRT Bahas Intoleransi
Ilustrasi diambil dari google

“Contohnya kemarin, waktu Forum Persaudaraan Surabaya (FPS) mau adakan acara diskusi santai bedah buku “Salju di Aleppo” yang ditulis Dina Sulaiman pada 7 Mei. Tapi dibubarkan oleh pihak Polsek Gayungan, lantaran ada tekanan dari beberapa ormas yang tidak sepakat. Dan itulah masalahnya, kenapa kepolisian mau menuruti mereka, bukan membela kita,” lanjut Edi (16 Mei).

Menanggapi hal itu, Nasikin, kepala suku KPMRT, menyatakan bahwa maraknya ormas-ormas intoleran itu membuat kehidupan bermasyarakat tak lagi nyaman. Bagi Nasikin hal itu awalnya adalah reformasi 1998 yang membawa iklim kebebasan. “Pemerintah jadi kurang selektif melihat potensi-potensi yang sifatnya memecah-belah warga,” ujar Nasikin.

Sementara menurut Ipan, koordinator divisi Pengabdian Masyarakat, menyatakan kalau saat ini iklim radikalisme lagi menemui titik klimaksnya. “Mungkin karena agama di bawa ke ranah politik secara tidak dewasa, sehingga agama dipolitisasi” kata Ifan.

Pembubaran HTI

Pembubaran HTI juga disinggung dalam diskusi tersebut. Menurut Nasikin, langkah pemerintah itu tepat. “Bagaimana pun, HTI kan mengusung khilafah, dan itu bertentangan dengan Pancasila,” kata Nasikin.

Hal senada diungkapkan Edi, tapi ia menggarisbawahi bahwa pembubaran itu tidak terlalu berpengaruh banyak. “Sebagai sebuah nama, HTI memang dibubarkan, tapi kan orangnya masih bisa menyusup dimana-mana dengan menyebarkan ideologi yang masih sama. Yang diperlukan sekarang ya bagaimana mencabut ideologi khilafah sampai ke akar-akarnya” sambung Edi.

Adapun Ifan lebih banyak mengkritisi peran kepolisian yang cenderung membiarkan ormas-ormas intoleran seperti HTI bergerak dalam membubarkan berbagai acara. “Harusnya, menghadapi mereka itu ya polisi bertindak mengamankan acara, bukan malah mengikuti kemauan mereka,” kata Ifan.

Mengenai penyingkiran ideologi khilafah, Ifan menyatakan agar setelah pembubaran HTI sebagai organisasi, anak-anak mereka itu dimasukkan pesantren yang mengusung toleransi dan cinta tanah air. “Agar mereka tersadarkan, bahwa khilafah itu malah membuat kita terpecah belah, bukan membuat kita lebih baik,” tambah Ifan.

Diskusi tersebut diakhiri dengan makan bersama, hasil masakan koki ahli kebanggaan Blandongan, Franz alias Faizin, yang sekaligus warga KPMRT. Setelahnya, gerombolan itu kembali melanjutkan obrolan ngalor-ngidul dan penuh canda-tawa. (TA)

baca juga : pembubaran HTI dan fil Naruto  dan “Khilafah” terjebak masa lalu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here