Takhayul Akademik III: Upacara agak Serius dan Merias Narasi

0
Upacara agak Serius dan Merias Narasi

tubanjogja.org – Wisuda

Sore tadi UIN mengadakan gladi bersih wisuda. Ada banyak alasan mengapa ia harus dilakukan. Tapi, ada satu yang berhasil membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Adalah himbauan bagi segenap mahasiswi (pakai “i” ya, bukan “a”) untuk tidak telat datang. Awalnya, saya tidak curiga, namun selepas menyadari bahwa si ibu pembawa acara telah mengucapkannya lebih dari tiga kali plus dibarengi dengan contoh serta analisis historis, saya mulai merasa ada yang aneh, “Ada apa dengan mahasiswi, telat, dan wisuda ?”

Tak lama kemudian, mungkin niatnya merespons, ada semahasiswi yang sekonyong nyeletuk ke teman cewek sampingnya. Dia bilang, “Besok nyalon jam berapa?” Kemudian, dengan santai si teman menjawab, “Paling lambat jam setengah lima lah, kak.” Membutuhkan beberapa menit untuk mencerna obrolan tersebut, hingga akhirnya saya baru paham kalau ternyata yang tengah mereka bahas adalah “tata rias”.

Sejenak di sini, saya baru mengerti mengapa si MC merasa penting untuk mengulangi himbaunnya berkali-kali. Yaitu supaya upacara sakral—weh, sakral—tidak terganggu gegara ada banyak calon wisudawati yang telat. Ya kita bisa membayangkan sendiri, untuk ukuran mulai upacara jam tujuh pagi, terlalu ada banyak hal yang “harus” mereka selesaikan.

Eh, tapi bukan itu yang membuatku gelap. Bukan pada keresahan si MC, tapi lebih pada si mahasiswi. Mungkin sejenis heran atau juga kagum. Bagaimana tidak, di benakku mereka tengah berhasil memperjuangkan sesuatu yang sejujurnya tidak mereka sukai, ini susah lho. Tidak jarang dari calon wisudawati, dimungkiri atau tidak, mengeluh dengan “budaya” macak prawisuda, tetapi di waktu yang sama mereka masih saja berani memutuskan untuk melakukannya. Mulai dari ngalor ngidul mencari salon yang pas—untuk tidak menyebut murah dan bagus—jauh-jauh hari sebelumnya, membeli kebaya, membeli sepatu hak tinggi, memilih matte yang sesuai warna sepatu, menentukan jumlah lapis kerudung, sampai bangun puagi demi pergi ke salon, berhasil mereka lakukan. Untuk kelas upacara, tentu hal-hal tersebut sungguhlah menyebalkan, tetapi pada faktanya apakah mereka mengindahkan? Ha ha, jawab sendirilah. Njuk, jan-jane ini ada apa?

Frieden suka menyebut itu sebagai the no name problem, masalah tanpa nama (The Feminine Mystique, 1963). Satu sisi, mereka tahu kalau macak (dalam arti di atas) prawisuda tidaklah wajib, bahkan makruh, tetapi di sisi lain mereka masih memperjuangkannya. Soal ini, kata Frieden, sebenarnya bukanlah keinginan mereka sendiri untuk tetap melakukan, tetapi ada sesuatu di luar kontrol yang secara sangat halus mendorong mereka untuk melakukan, bahkan mengupayakan. Apa itu? Pandangan lingkungan, sosial kognitif. “Itu yang paling memungkinkan,” jawab Frieden jika boleh mengilustrasikan. “Sejatinya, mereka tak ingin. Mereka sama sekali bisa merasakan kerumitan-kerumitan yg ada, tapi lagi-lagi mereka tak tau cara mengelak darinya.”

Dengan ungkapan yang lebih sederhana, sosial kognitif bisa kita gambarkan sebagai sejenis gaya berperilaku yang cenderung menjadikan omongan liyan (insight of society) sebagai yang paling utama. Jika lingkungan bilang A misalnya, maka berbondong mereka menjadi A. Jika S, maka ke S, dan jika U, maka langsung berganti U, tanpa harus berpikir tinggal berapakah uang di tabungan atau seberapa parahkah siksa yg harus mereka rasa. Artinya, saya curiga mengapa calon wisudawati periode ini tetap kukuh merias setiap senti bibirnya, lentik hidungnya, alisnya, warna pipinya, sampai hiasan-hiasan dahi, meski hati kecilnya wuegah—malas ribet maksudnya—adalah karena mereka ingin tampil maksimal semaksimal pandangan yang diinginkan lingkungan terhadapnya.

Apakah tidak boleh? Boleh. Hanya saja, mau sampai kapan mereka harus rela nyesek demi anggapan-anggapan liyan. Mau sampai kapan juga harus numpang narasi orang lain untuk menjalani kesehariannya? Saya rasa, sudahlah waktunya bagi kita untuk mulai menentukan narasi diri sendiri. Dan semisal masih saja nyesek, ya minimal itu datang dari pribadi lah.Sapari

Jogja, 23 Mei

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here