Berita Hari Ini: Kematian Sally Di Penyeberangan Layang Depan Kampus UIN Sunan Ampel

0

tubanjogja.org – Sally

Sally

Oleh: Daruz Armedian

Tidak, Sally. Di sini aku tidak takut apa-apa. Aku tidak takut seandainya kamu datang menemuiku, menghantuiku sebagaimana kamu menghantui orang lain. Sebagai kekasihmu, aku harus melakukan hal itu: tetap setia meskipun kamu telah menjadi hantu.

Bukan apa-apa aku mengatakan hal itu, kecuali memang sekarang aku sedang melewati penyeberangan ini. Aku melewati tempat di mana kamu bunuh diri. Aku masih ingat betul, itu terjadi setengah bulan yang lalu pada suatu malam yang tak pernah kuanggap sebagai hari-hari kehilangan.

Kamu tentu tak akan mengira kalau aku akan mengingat perbincangan itu. Perbincangan di depan kampus kita.

“Sore-sore begini kok belum pulang? Ada jam masuk, po?” kataku waktu itu, dengan Bahasa Indonesia yang medok kejawa-jawaan.

“Nggak ada.”

Aku tahu, jika kamu berbicara sedikit seperti itu, pasti sedang ndak mood.

“Ayo, kuanterin pulang.”

“Aku mau di sini aja dulu.” Pungkasmu datar. Terdengar hambar.

“Kamu kenapa?”

“Aku nggak kenapa-napa, kok. Kamu pulang aja dulu. Katanya mau ketemu sama Rudi.”

Jelas. Aku tidak mungkin percaya kamu baik-baik saja. Aku yakin kamu ada masalah. Walaupun ada kepentingan sama Rudi, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di situ. Apalagi hari sudah beranjak sore dan sebentar lagi pasti malam akan tiba, tentu saja.

“Heh, kamu kenapa?”

“Aku baik-baik saja, kok.”

Kata itu terus kamu ulang. Berkali-kali. Sekali lagi, berkali-kali.

Aku menghela napas. Kamu tahu apa yang paling pedih di hati lelaki? Ya, itulah ketika kita bertanya pada perempuan dan ditanggapi dengan kebohongan. Akhirnya, aku yang jengkel sendiri. Aku pamit untuk pulang sendiri. Kamu kutinggalkan di situ sendiri.

Dan, itulah hal yang paling kusesali seumur hidup. Sebab, malamnya aku mendapat kabar yang paling menggemparkanku. Bahkan lebih menggemparkan ketimbang mancurnya lumpur Lapindo di kotaku.

Kamu ditemukan sudah dalam keadaan menggantung, tak bernyawa. Aku datang ke sini, tempat di mana kamu bunuh diri ini, ketika orang-orang sudah berkumpul dan hendak menurunkan mayatmu.

Kamu waktu itu masih memakai baju yang sama dengan sore itu, kerudung yang sama dengan sore itu. Lantas, bagaimana aku akan melupakan kejadian itu, jika semuanya masih melekat di kepala?

Setelah mayatmu dikuburkan dan hari-hari selanjutnya yang kurasakan adalah kekosongan dan segumpal pertanyaan yang ada di kepala: alasan apa yang membuatmu sampai melakukan bunuh diri? Apa ada masalah yang sangat berat kamu tanggung? Lalu, kamu anggap aku ini apa? Mungkin saja jika kamu berbagi cerita, misalnya, aku bisa membantu. Atau minimal memberimu solusi, ya, seperti Mario Teguh dengan itu-nya.

Aku akhirnya jarang pergi ke kampus. Maka, ketika ada sejumlah teman yang memberiku kabar tentang arwahmu yang gentanyangan, aku langsung menuju ke sini. Ya, aku tidak akan takut sama sekali. Bahkan, kalaupun kamu ada, sekarang juga, aku tidak akan lari. Aku akan menemuimu, memegang tanganmu dan menanyakan bagaimana kabarmu.

Hari memang mulai malam, namun tidak ada suara burung hantu. Dan aku tetap diam di tempat ini. Mungkin kamu ingin bertandang menemuiku?

Sebab, aku telah mendengar cerita dari kawan-kawanku mengenaimu. Kamu sering menghantui mereka. Seperti halnya musik Reserve-nya Karl Meyer menghantui pendengarnya. Kata mereka, kamu datang dengan wajah yang mengerikan. Atau sebenarnya menyedihkan? Sebab, kamu selalu memasang wajah yang dingin, mulut membisu, kulit pucat, dan kaki yang mengawang. Kamu selalu meminta mereka untuk menemanimu. Tetapi, kamu selalu gagal membujuk, karena mereka keburu lari.

Nah, sekarang, ayolah datang. Hantui aku. Hantui aku sesukamu, sebagaimana kamu mencintaiku sesukamu. Ayolah datang. Aku tidak akan lari. Aku akan tetap di sini. Aku akan menemanimu. Terserah kamu mau minta kutemani sampai kapan. Aku tidak akan peduli lagi dengan hitungan waktu. Oke, jika kamu tidak datang sekarang, aku akan menunggumu. Sampai besok, mungkin. Besoknya lagi, dan besoknya lagi. Sampai kamu datang.

Jika kamu datang, aku akan menemanimu, sebagaimana biasanya. Aku akan memintamu menceritakan apa yang sebetulnya terjadi. Jika kamu bercerita, atau minimal berbicara mengenai apa saja yang tidak ada hubungannya dengan kematianmu (semisal mengenai kecoa yang sering muncul di kamar mandi kosmu ketika kamu mandi dan kamu merasa curiga itu adalah mata-mata dari lelaki mesum), aku akan setia mendengarnya. Ya, aku akan tetap setia.

**

Di kampus ini, gue adalah mahasiswa baru asal Jakarta. Yang paling gue inget dari pertama kali masuk kampus ini adalah, seorang cowok yang selalu duduk di penyeberangan layang. Kata temen-temen gue, ia orang gila. Iya, memang, itu bisa dilihat dari bajunya yang kumal, rambutnya, kulitnya, dan hampir kesemuanya kumal. Jika ada satpam yang mengusirnya, ia memang pergi. Tetapi, beberapa hari kemudian, ia akan balik lagi ke sini.

Di penyeberangan layang ini, cowok itu seperti ada yang ditunggu. Sebab, ia selalu duduk termangu. Tetapi, siapa yang ia tunggu? Gue nggak tau. Yang gue khawatirkan cuma satu: jika gue lewat sana, kemudian cowok itu menggangguku. Usil gitu.

Ah, bodo amat. Yang penting gue nggak lewat sana. Eh, tapi kasihan juga cowok seganteng itu jadi orang gila.[]

Daruz Armedian, gak penting biodataku. Kecuali kalau mau dititipin absensi di kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here