Alkacong dan Alklimis

1
Alkacong dan alklimis
Ilustrasi diambil dari www.brilio.net

Alkacong dan alklimis kini semakin marak.

Oleh Lembu Peteng
Ilustrasi diambil dari www.brilio.net

Oleh Lembu Peteng

Di kota-kota besar, kini marak kita temui para Alkacong (aliran kathok congklang). Biasanya mereka menguasai masjid, dengan jenggot lebat dan jidat menghitam, dan (subhanallah) mulutnya penuh puja-puji keagungan Allah dan caci-maki atas hal-hal yang dianggap dekat dengan syetan. Mereka akrab sekali dengan istilah istilah jihad melawan kafir dan thagut. Mereka inilah yang kini menggelisahkan kaum sarungan. Sehingga bagi sebagian kaum sarungan—dengan mengatasnamakan keutuhan NKRI—Alkacong harus dibasmi.[1]

Selain itu, ada juga orang-orang klimis (sebut Alklimis). Kalau kita intip fesbuknya, akan ditemui foto-foto mereka dengan latar mobil mewah, dan berjubel kata-kata motivasi. Mereka adalah orang yang sangat pandai bersilat lidah tentang betapa “nyaris kaya” dirinya, seolah kapal pesiar besuk pagi sudah nongkrong di belakang rumahnya. Orang jenis ini akan mencari kawan (maksudnya mangsa) sebanyak-banyaknya untuk menambah bonus dan kenaikan bintang dalam jenjang.

Mengapa keduanya kini marak? Tulisan ini tidak hendak menjawab pertanyaan itu. Tapi, malah menambah pertanyaan: ada apa dibalik Alkacong dan Alklimis?

Ideologi

Kata orang, zaman ideologi sudah usai. Di ranah politik, hiruk-pikuk partai politik sebagaimana zaman Soekarno sudah tak ada. Yang kita temui kini hanya politisi kutu loncat, koalisi transaksional, dan praktik money politic menunjukkan secara jelas hal itu.

Tapi apakah memang demikian? Kalau kawan-kawan menekuni filsafat kontemporer, maka akan ketemu seorang filsuf genit nan populer di Barat: Slavoj Zizek. Ia populer bukan hanya karena artis, tapi ia pernah menulis suatu karya unik: “The Plague of Fantasies” yang di dalamnya bertaburan kata-kata indah seperti toilet, jembut, blue film, dan sebagainya. Buku tersebut adalah suatu bantahan atas pandangan bahwa zaman ideologi sudah berakhir. Bagi Zizek, ideologi itu memang seolah tidak nampak sebagaimana zaman perang dingin antara liberalisme vs komunisme. Tapi ideologi masih nampak nyata dalam gaya hidup keseharian orang-orang. Bahkan ideologi bisa dilihat dari tatanan jembut (jembut!) dan model toilet mereka. Ini serius. Lihatlah kutipan berikut:

“Jembut yang dibiarkan tumbuh liar dan acak-acakan menunjukkan perilaku spontan alami dari kaum hippies; sementara kaum yuppies lebih suka prosedur disipliner ala taman di Prancis (bentuknya adalah cukuran rapi di sisi yang dekat paha, yang tersisa hanya alur tipis di tengah dengan garis potongan yang rapi); sedangkan untuk perilaku punk, vaginanya dicukur bersih dan dihiasi dengan anting (yang biasanya ditindikkan ke klitoris)”. (The Plaque of Fantasies, 1997)

Kutipan diatas secara jelas menunjukkan bahwa bahkan ideologi bisa mengalir dan sangat nampak dalam life-style orang-orang. Dalam konteks Alkacong dan Al-Klimis, kita tahu kalau dibalik style-nya yang seperti itu ada ideologi yang melandasinya. Ideologi itu bisa saja kita namai khilafah, konsumerisme, dan sebagainya. Yang jelas, bahwa ideologi itu ada.

Obor

Ideologi adalah kesadaran palsu, kata Mbah Jenggot.[2] Orang-orang yang berpikir dan bergerak atas dasar ideologinya, hasilnya adalah kekacauan demi kekacauan, atau kediaman di atas penindasan.

Lawan dari ideologi adalah ilmu. Dengan ilmu, jalan akan jadi terang. Dan sebab itu, perjuangan menuntut ilmu, adalah perjuangan menerangi sekitar. Ibarat kita dalam gelap menyalakan obor. Gelap itu ideologi yang harus kita singkap. Obor adalah ilmu yang harus kita nyalakan.

Untuk Alkacong dan Alklimis dan kegelapan yang mereka derita, pembubaran atas mereka tentu saja tidak cukup. Gelap akan selalu datang menyergap, dan kita dituntut sigap menyalakan obor dan menjaganya agar tak pernah padam. Obor itulah yang bernama akal sehat. Sesuatu yang (dalam keterbatasannya) diusung oleh kawan-kawan seperti Mbah Takrib, Zav, Saiful, yang bernaung dalam tubanjogja.org kecuali Wedus Gibas yang suka mencibir.

 

Joglopaste, 29 Mei 2017

 

[1] Baca buku Ilusi Negara Islam (2009). Dalam buku tersebut nampak sekali sebagaian kalangan Islam yang mengaku moderat merasa harus menggebuk kalangan pengusung negara Islam, sejak dalam fikiran.

[2] Baca: The German Ideology, Karl Marx.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here