Tamu dari Surga

1
Cerpen daruz armedian
Ilustrasi dicangkok dari Brilio.net

Cerpen Daruz Armedian. – Tuban Jogja

Oleh Darus Armedian
Ilustrasi dicangkok dari Brilio.net

Oleh: Daruz Armedian

Malam itu ada yang mengetuk pintu rumahku. Tak ada suara lain yang mengiringi ketukan itu. Padahal yang kuharapkan adalah ucapan salam atau sebagainya, sebagai bentuk kalau ia benar-benar manusia. Sudah sering aku membuka pintu karena ketukan, tetapi yang kutemui hanyalah kekosongan. Kadang-kadang memang bukan kekosongan, tapi berupa asap mengepul atau cuma jejak kaki. Hal itu bisa terjadi karena rumahku di tempat yang amat terpencil. Di kanan dan kirinya terdapat kuburan. Dan, karena aku hidup sendirian.

Dua menit berlalu dan masih kudengar suara ketukan itu. Ketika itu aku duduk di kursi dapur, sedang makan malam. Dan karena suara ketukannya tak kunjung berhenti, aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Di situ, berdiri tegap seorang yang kalau dilihat dari segi wajahnya sangat tua. Rambut yang putih dan jenggot yang putih sangat menandakan hal itu.

“Benar ini rumah Pak Shalihen?” katanya dengan bibir yang bergetar. Aku mengangguk pelan. Aku merasakan kaki-kakiku gemetaran.

“Iya, Pak. Silahkan masuk.” Dengan sekuat tenaga aku berusaha agar kakiku yang gemetar ini tidak terdeteksi.

“Sebentar,” sergahnya sebelum masuk rumahku, “kenapa tadi lama sekali pintunya tidak dibuka?”

Pertanyaan itu membuatku memutar  otak untuk menjawabnya. “Soalnya tadi saya sedang tidur. Ini baru bangun, Pak.” Tetapi perkataan itu hanya terjadi dalam hatiku. Entah kenapa, tiba-tiba aku tidak bisa berbohong di depan orang itu.

Maka yang muncul dari bibirku adalah, “Iya, Pak. Soalnya sering sekali ada ketukan di pintu rumah saya, tetapi kalau pintunya  saya buka tidak ada siapa-siapa. Maklum, rumahnya dekat kuburan.”

Orang itu hanya mengangguk. Lalu masuk rumahku, mendekati bangku dan kemudian duduk.

“Sudah lama ya tinggal di rumah ini?” ia mengutarakan itu sambil melihat sekeliling. Matanya tertuju pada lukisan kaligrafiku yang bertebaran di dinding, kemudian beralih pada pernak-pernik yang menggantung dengan benang di pintu kecil kamarku, dan akhirnya mata itu menuju ke mataku. Ia menatapku tajam meski matanya terlihat sendu seperti menanggung beban yang amat memberatkan.

“Ya, begitulah,” jawabku. “ada apa ya?”

“Maaf mengganggu. Saya cuma mau mengantarkan ini.” katanya sambil mengeluarkan sebuah buku yang dibungkus kertas. Ia menyodorkannya dan aku menerima.

“Dari siapa ini?” kataku. Ia tidak menjawab langsung. Tetapi malah tersenyum. Sampai di sini, aku tak melihat kekonyolan apa pun. Sedari tadi aku sudah waspada, jikalau tiba-tiba ia mengeluarkan senjata, atau minimal ingin menyakitiku.

Sebelum berlanjut ke pembicaraan yang lebih panjang, aku ingin menyiapkan minuman. Sudah semestinya seorang tamu harus diberi suguhan. Walau sekadar minuman.

“Sebentar ya, aku buatkan kopi.” Ketika mengucapkan itu, aku sudah berdiri. Tetapi ia menyergahku agar jangan repot-repot. Aku duduk kembali. Ia mengatakan kalau dirinya akan cepat-cepat pulang. Ada urusan lain di rumah. Aku sungguh tidak tahu di mana ia tinggal.

“Saya tidak mengerti kenapa buku ini harus diberikan kepada Anda. Mulanya saya tidur. Bermimpi ketemu orang tua. Orang yang sangat tua. Mungkin setua umur penjajahan Belanda di Indonesia. Dia bilang kalau buku dalam laci harus diberikan pada Pak Shalihen yang rumahnya di dekat kuburan, yang berarti itu Anda. Padahal sebelumnya saya tidak pernah menaruh buku dalam laci. Terlebih buku yang masih tersampul rapi.”

Aku mengangguk mafhum. Ada apa gerangan dengan buku ini, tanyaku dalam hati. Aku melihat jam, tepat pukul sembilan. Lelaki itu hendak pamit ketika aku bertanya mengenai nama dan alamat rumahnya.

Ia tidak menjawab pertanyaanku dan malah membicarakan hal lain. Sambil berdiri dan membenahi kerah bajunya yang sebetulnya sudah rapi, ia mengucapkan hal ini:

“Rumah ini berbahaya. Hati-hati. Banyak orang yang membenci penghuni rumah ini.” Katanya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah ia seorang peramal yang sengaja dikirimkan Tuhan untuk mampir di rumahku dan memberikan sebuah buku? Aku tidak tahu.

“Ya, sudah. Aku pamit dulu.” Katanya dengan sesopan mungkin. Kepalanya menunduk. Tubuhnya membungkuk.

Aku melihat gelagatnya sangat buru-buru. Dan entah kenapa aku tak bisa mengelak, tak bisa membuat ia tinggal lebih lama di sini. Mulutku terasa kaku dan segala suara seperti mandek di tenggorokanku. Aku tak mengerti apa yang ia maksud dengan banyak orang yang membenci penghuni rumah ini.

Ah, segalanya terasa sulit untuk dipahami.

Dari depan pintu, aku memandang orang itu melangkah sampai jauh. Ya, untuk memastikan kalau ia benar-benar manusia. Ternyata, ia memang manusia. Tak ada kejadian aneh yang menyertainya, semisal ia tiba-tiba menghilang atau tiba-tiba terbang. Seiring langkahnya yang menjauh, tubuhnya makin mengecil dan mengecil dan kemudian hanya tinggal cahaya rembulan yang menyinari jalanan.

Aku buru-buru menutup pintu dan mendekati buku pemberiannya tadi. Aku menyobek pembungkusnya yang tanpa tulisan apa-apa. Aku membukanya perlahan-lahan. Di sana, aku menemukan catatan-catatan segala dosa yang selama ini kuperbuat.

**

Setelah tamu yang memberi buku catatan dari segala dosa yang kuperbuat itu, semakin hari semakin banyak yang bertamu ke rumahku. Kadang pagi hari, kadang siang hari, kadang sore hari, dan kadang malam hari, bahkan kadang ada yang dini hari. Setiap kali tamu-tamu itu ke rumahku, mereka selalu bertanya di mana orang itu (maksud mereka adalah tamu yang memberi buku catatan dosaku).

“Itu adalah tamu dari surga.” Kata seorang lelaki yang gemar berangkat ke masjid. Jenggotnya yang lebat dan tanda hitam di dahinya, seperti menandakan kalau dia rajin bersujud menyembah Tuhannya.

Aku tidak percaya ia dari surga. Buktinya setelah pamit dari rumahku, ia berjalan seperti manusia sewajarnya. Ia tidak terbang ke langit. Bukankah surga ada di atas sana? Atau sebenarnya surga tidak di sana? Aku tak tahu. yang jelas, kata orang-orang surga ada di atas.

“Ah, beruntung sekali kau, Hen. Itu artinya kau disuruh cepat-cepat bertaubat. Dan pastilah Tuhan menerima taubatmu.” Kata kakek tua yang giginya tinggal dua dan di tangannya tidak luput dari butiran tasbih itu.

Apanya yang beruntung? Justeru aku kesal. Aku merasa terhina. Kapan aku melakukan dosa? Aku bekerja secara halal menjadi tukang gali kubur. Atau aku juga tidak pernah mencuri apa pun di dunia ini kecuali satu kali, sesobek kain mori mayat perawan pujaan orang sedesa. Itu pun aku langsung bertaubat seketika.

“Kenapa yang diberi buku catatan dosa itu aku yang kerja secara halal-halal saja. Kenapa tidak koruptor itu? Kenapa tidak bandar narkoba itu? Kenapa bukan pejabat-pejabat yang tidak peduli pada rakyat?”

“Husss… Jangan begitu, Hen. Kalau memang kau tidak berdosa, itu artinya Tuhan ingin agar kau menjaga meneruskan perbuatan itu. Artinya, kau jangan melanggar aturan. Atau melakukan hal-hal yang membuatmu berdosa.” Seorang mahasiswa yang telat lulusnya, memberikan testimoni sebagaimana sesepuh memberi petuah pada cucunya. Kata-kata tidak runtut dan mbulet yang keluar dari mulutnya, menandakan begitu banyak buku yang dibacanya.

Sudah kubilang, aku tidak pernah melakukan dosa. Aku jarang keluar rumah. Paling keluar ketika ada orang meninggal dan mayatnya akan dikuburkan di samping rumahku. Aku tidak pernah jelalatan memandang perempuan, aku juga tidak pernah menyakiti hati orang-orang, aku juga tidak pernah…

**

Malam itu, malam yang agak susah digambarkan warnanya, Shalihen ditemukan mati gantung diri. Apa yang membuat ia mati gantung diri? Aku tidak tahu. Yang jelas, sebelum kematiannya, banyak sekali orang yang bertamu ke rumahnya. Dan ya, kalau saja benar ia dapat buku catatan dosa dari malaikat yang datang dari surga, kenapa ia tidak bertaubat saja? Atau minimal tidak mati bunuh diri. Ia pasti tahu kalau mati bunuh diri itu dosa besar. Sebenarnya aku tidak peduli, ia mau mati atau tidak. Tetapi karena aku sebagai tetangga dekatnya, wajarlah ikut bertanya-tanya.

Dan ternyata, setelah diteliti beberapa hari, Salihen mati bukan karena bingung memikirkan buku catatan dosa. Ia hanya syok karena hampir tiap hari ditagih hutangnya oleh seorang rentenir. Dengar-dengar, hutangnya lebih banyak ketimbang harga rumahnya jika dijual.

Akhirnya, aku malah mulai tak peduli. Apa peduliku? Aku kan hanya menjalankan tugas dari bank.

Tetapi, ketika semakin tak peduli, semakin aku merasa ketakutan. Sebab hampir tiap hari juga ada orang sangat tua dan di kepalanya ada tanduk merah lalu giginya bertaring sangat panjang selalu mengatakan, selamat datang di surga kami.[]

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Tulisannya pernah di Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, dll.

No                   : 085743043329

Email               : armediandaruz@gmail.com

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here