Berita Bola Minggu Pagi

1
Suasana Buber dan sarasehan KPMRT

tubanjogja.orgBerita Bola

Berita Bola
Ilustrasi gambar diambil dari http://img.olx.biz.id

Oleh Mbah Takrib

Real Madrid mempertahankan trofi Liga Champions usai mengalahkan Juventus di final. Prestasi yang belum pernah diraih club lain, bisa dicapai El Real dengan meyakinkan. Real madrid menang telak dengan skor 4:1 pada final di Millennium Stadium, Walles, Minggu (4/6/2017). Hasil itu pun membuat Madrid menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan trofi di era Liga Champions, sekaligus menggenapi gelar ke 12 kompetisi itu.

— Berita Bola —

“Krucuuk”, “Bagaimana ngopimu semalam Dap?” Bunyi perut keroncongan dan pertanyaan seorang teman sekamar, membuyarkan konsentrasiku membaca berita bola di HP.

“Menarik, aku bersama Gembili dan bertemu Diyala. Kami membincang dua cerpen yang ditulis Gembili”

Jawabku menceritakan perjumpaan kami. Aku dan mereka memang sudah cukup lama tidak bertememu. Gembili seorang kawan dan penulis cerpen, sedang asik bertapa di salah satu padepokan menulis di Yogyakarta. Dan Diyala, temen sewaktu kuliyah, penikmat karya sastra sekaligus mentor menulis cerpen, sekarang sedang fokus membangun karir profesianal.

“Oh ya, kalian janjian? Gembili menulis cerpen tentang apa?” Ia melirik ke arahku.

“Tidak, kami tidak merencanakan pertemuan itu. Seperti biasa, dia menulis cerpen realis. Cerpen pertama, berjudul ‘Kado yang Disesalkan’, bercerita tentang seorang anak yang meratapi kepergian ayah tirinya. Cerpen kedua, menceritakan seorang jawara pemilik ilmu kebal yang mati oleh kesombongannya sendiri, diberi judul ‘Jawara Kampung Sebelah’” Jawabku, mengulas kedua cerpen Gembili.

“Lalu apa yang kalian diskusikan?” tanyanya berlanjut, sembari husuk memainkan game catur di HP.

**

“Menang?” celetukku, memperhatikan permainannya.

“Aisss,,, terdesak” raut di wajahnya nampak panik.

Aku diam sesaat.

“Oya, Real Madrid juara Liga Champions,” kataku memberi informasi.

“Ehem” jawabnya singkat. “Ahh…. ssiiitt, kalah cok” Ia kemudian melempar HP ke kasur dan berkata “Fuck ah”.

Kali ini, ia benar-benar kecewa.

“Oya…. tadi gimana, soal cerpen Gembili?” Ia mengulang pertanyaannya, seperti ingin menyambung percakapan kami yang sempat terputus.

“Semalem Diyala membaca dua cerpen Gembili. Ada beberapa catatan kecil. Menurutnya, di cerpen pertama, Gembili kurang kuat membangun karekter tokoh utama, sehingga mempengaruhi standing possision penceritaan. Di cerpen kedua, Gembili rancu menempatkan timming cerita, kesannya melompat-lompat, selain itu konflik yang dihadirkan kurang begitu terasa. Diyala juga memberi saran, agar Gembili membaca cerpen karya Umar Khayam berjudul ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan cerpen favoritnya.” Jawabku, mengulang penjelasan Diyala semalam.

 “Ko kamu gak menulis cerpen lagi Dap?”

Pertanyaannya, kini mengarah pada tema obrolan yang lebih husus, diantara kami berdua. Seingatku, memang sudah lama aku tidak menulis cerpen. Terakhir kali menulisnya adalah cerpen ke-lima, seri terakhir Roman Gang Ndasen berjudul ‘Ujung Gang Ndasen’.

“Males ah, lagi gak ada ide untuk ditulis”

“Kok bisa gak ada ide, Lihatlah sepatu itu!” Anggukannya menunjuk ke arah sepasang sepatu di belakang pintu.

“Apa menurutmu yang bisa ditulis dari sepatu, untuk tema cerpen?” tanyaku.

“Jangan lihat sepatunya lah, tapi lihat proses produksi sepatu itu. Disana ada ketimpangan antara pemilik modal dan pekerja, terdapat penghisapan nilai lebih serta aleniasi buruh”

Tellek  ah, sedikit-sedikit penindasan, sedikit-sedikit ketidakadilan, sedikit-sedikit penjarahan, kamu gak takut dituduh komunis, apa-apa soal ketimbangan kelas. Ini cerpen saja mau kamu tunggangi”

Jawabku menyindir, temen saya ini memang punya kebiasaan jahat. Saat dia menawarkan bantuan ide, hendaklah waspada. Khawatir ditunggangi ide-ide nasionalisasi aset negara yang dikuasai asing.

“Hahaha, ya bukan begitu Dap. Ini soal nilai perjuangan dalam seni. Berkesenianlah untuk rakyat, bukan sekedar seni untuk seni. Hiduplah sebagaimana kaum sufi, yang mengabdikan dirinya untuk meraih cinta Tuhan, bukan surga atau neraka. Kaum Sufi dalam memandang segala sesuatu, selalu melihat ada Tuhan dibalik semuanya. Seperti itu pula, kita juga harus melihat sepatu tidak hanya soal bentuk saja, malainkan ada ketidakadilan dibelakangnya. Jangan menutup mata begitu lah”

Gelak tawa yang dibarengi penjelasan panjang lebar itu, kini terdengar ngilu.

“Hemm, gak ah. Aku mau nulis cerpen yang berbeda, yang tidak ada cerita penindasan-penindasannya. Aku mau menulis kisah cinta remaja saja, sambil mengenang masa sekolah dulu. Hidup kita ini kan sudah perih jangan dibuat pedih”

Jawabanku mengalihkan tema pembicaraan kami.

“Ya sudah, pacarmu kan agamanya Katholik, kamu sorang muslim dan sekarang bulan puasa. Sepertinya dia mendukungmu untuk berpuasa. Tulis saja itu jadi cerpen, kasih judul ‘Kekasihku, Seorang Nasrani yang Mendukungku Berpuasa’”

“Hmmmm, kok kamu tambah lucu, itu judul berita cok”

“Ya sudah ayo cari sarapan saja” Ajaknya.

— Berita Bola —

 Yogyakarta, 04 Juni 2017.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here