Surat Cinta untuk Afi Nihaya

2
Daruz Armedian
Ilustrasi gambar diambil di internet

Tubanjogja.org – Afi Nihaya

Daruz A. Surat Cinta Afi Nihaya
Ilustrasi gambar diambil di internet

Hallo, apa kabar Afi?

Aku harap kamu tidak menjawab aku baik-baik saja dan kemudian pembicaraan kita berhenti sampai di sini. Aku harap kamu menjawab dengan kata-kata yang lebih panjang dari itu. Sebab, aku rasa, kamu sudah tidak lagi merasa kesulitan untuk menulis deretan kata-kata yang panjang.

Begini. Aku Daruz Armedian, dan itu sebenarnya tidak penting bagimu untuk mengetahui namaku. Tetapi yang jelas, aku termasuk pembaca tulisan-tulisanmu. Baik ketika kamu belum viral atau sesudahnya. Baik ketika kamu belum terkena kasus plagiasi maupun yang sudah.

Ketika di Kompas TV, di acara Mbak Rosi, kamu mengatakan sudah membaca Sigmun Freud sejak di SMP. Tahukah kamu kalau di SMP yang kukerjakan adalah menggembala kambing dan tidak pernah lihat yang namanya buku-buku, kecuali LKS (itu kalau LKS bisa dikatakan buku). Tahukah kamu kalau di SMP yang kukerjakan adalah bermain bola dan kalau malam nongkrong bersama teman-temanku yang saat itu sudah mempunyai nama geng. Sesekali aku mencoba mengisap batang rokok sambil sembunyi-sembunyi, karena pasti kalau ketahuan orang dan orang itu bilang ke orangtuaku, maka orangtuaku akan menggamparku, karena aku belum bisa bekerja sendiri (di sini aku membayangkan bahwa aku termasuk bagian dari tokoh dalam novel Para Bajingan yang Menyenangkan). Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan penuh dengan buku-buku, atau setidaknya ada beberapa buku, yang itu bisa mengajakku berpikir.

Jadi, aku rasa kamu lebih beruntung. Sigmun Freud adalah orang yang baru kukenal ketika aku merantau ke Jogja. Itu pun hanya sebatas nama dan sekilas apa yang dipelajari Om Freud, tidak ke ranah pemikirannya yang mendalam. Bahkan, ketika mendengar namanya pertama kali, aku kira dia penjual gorengan di tepian Kali Gajah Wong, di belakang UIN Sunan Kalijaga.

Abaikan soal Om Freud. Mari kita beranjak ke hubungan yang lebih serius. #digampar #akubukansiapa-siapamu #hanyadebu

Ke arah yang lebih serius maksudku.

Kamu ingat kan lagu yang lirik awalnya dasar kau keong racun, baru kenal eh ngajak tidur? Dan kamu pasti ingat kan siapa yang membuatnya viral? Sinta dan Jojo, bukan penyanyi aslinya. Mungkin ini terlalu bertele-tele. Tetapi yang jelas, ingat baik-baik nama Sinta dan Jojo.

Kemudian, kamu ingat kan Briptu Norman Kamaru, seseorang yang viral karena menyanyikan lagu India Caiya-Caiya itu? Kamu pasti juga ingat nama-nama yang kusebutkan ini: Tegar, Caisar, Udin Sedunia.

Mereka semua adalah orang-orang yang dibesarkan oleh media. Media yang membuat mereka berada di puncak dan media juga akan membuat mereka anjlok seanjlok-anjloknya. Sebab, tujuan media adalah bisnis, cari uang. Siapa yang disukai saat itu, ya diangkat ke permukaan. Kalau orang-orang sudah mulai bosan, maka siapa pun yang sudah terangkat itu, akan kembali ditenggelamkan.

Tetapi, tidak boleh dilupakan juga, ada orang yang dibesarkan oleh media dan masih survive sampai kini. Sebab, orang-orang masih banyak yang suka karena ia memang mempunyai keahlian. Contoh yang paling aku tahu adalah Justin Bieber. Penyanyi yang sudah ganteng, suaranya bagus juga. Atau Raisa, atau Cakra Khan (untuk kedua nama ini, silahkan dikoreksi kalau aku keliru).

Kamu tahu kenapa Bieber, Raisa, Cakra Khan, lebih bertahan ketimbang Sinta, Jojo, Tegar, Caisar, apalagi Udin Sedunia? Jawabannya adalah karena Bieber, Raisa, dan Cakra Khan lebih konsisten. Konsisten berkarya dan tidak lupa berinovasi. Dan ini yang penting: mereka mempunyai kemampuan yang sudah terasah dan proses mereka ternyata panjang sebelum ia terangkat oleh media.

Nah, untuk itulah, aku ingin mengatakan bahwa kamu juga termasuk orang yang dibesarkan oleh media. Dan aku harap kamu tidak ditenggelamkan olehnya. Dan aku harap kamu survive sampai ke hari-hari selanjutnya. Dan aku harap kamu terus mengasah kemampuan menulismu.

Kenapa aku mengatakan seperti ini? karena aku merasa detik-detik kamu akan ditenggelamkan akan tiba. Yaitu, kamu dituduh plagiasi. Kemudian, karena itu, banyak orang yang mulanya respect sama kamu, respect sama tulisan-tulisanmu, kini mulai goyah. Ternyata yang kamu lakukan selama ini Jahat. (Iklan: Afi, apa yang kamu lakukan ke aku itu, jahat!)

Dan memang, kamu memplagiat tulisan orang, tuduhan itu benar. Kamu pun menyadari itu. ‘Siapa sih penulis yang tidak pernah memplagiat tulisan orang? katamu. Ya, aku melanjutkan, bahkan sekaliber Chairil Anwar, sastrawan angkatan 45 yang mati muda, yang puisinya tidak banyak tapi menggema sampai sekarang, yang puisinya kita kenali sejak SD, pernah melakukan plagiasi. Atau, HAMKA, penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wick (semoga benar tulisannya), atau Dadang Ari Murtono, Guntur Alam, dan lain-lain.

Aku yakin, di dunia ini, setiap penulis, pernah memplagiat tulisan orang. Sebab, aku sendiri pernah melakukannya. Yaitu ketika pertama kali ingin menulis (kelas 1 SMA, karena terinspirasi dari buku Laskar Pelangi) dan tidak mengerti apa yang aku tulis, maka aku menjiplak habis-habisan paragraf pertama novel Andrea Hirata itu. Aku juga pernah menjiplak cerpennya Phutut Ea (pendiri Mojok.co) yang berjudul Ibu Pergi ke Laut (Untuk masalah cerpen ini, siapa pun kamu, bacalah. Cari di Google. Cerpen ini bagus sekali).

Aku mengerti, jika waktu itu aku orang yang terkenal, dan hasil tulisan itu aku publikasikan dan orang-orang tahu kalau aku melakukan plagiasi, maka aku akan dicacimaki. Sebab, aku sudah termasuk jajaran orang penting dalam dunia kepenulisan, misalnya, dan kemudian mengecewakan orang-orang dengan tidak kejahatanku.

Untung saja waktu itu aku hanya sebatas penggembala kambing yang sendu. Ah, abaikan.

Aku yakin, karena kasus plagiasi yang kamu lakukan inilah, maka semua orang akan meragukan tulisan-tulisanmu sebelumnya. Mereka yang mula-mula suka tulisanmu, kemudian mulai bertanya-tanya, apa itu karya aslimu? Dan, mereka yang mula-mula tidak suka tulisanmu, akan ramai-ramai mencacimaki kamu, sambil tersenyum di belakang, Afi, saatnya kamu tenggelam. Hahahaha. #ketawajahat

Dan inilah soalnya, Afi. Kita hidup di negara Indonesia. Tempat di mana orang-orangnya susah menghargai karya orang lain. Kamu mungkin tahu kejadian yang menimpa Damian? Dia tampil keren di American Got Talent. Bahkan juri-juri di sana tercengang melihatnya. Tetapi, apa yang terjadi kemudian setelah penampilan itu dan di-upload di Youtube? Orang-orang Indonesia sendiri yang mencacimaki. Mengatakan Damian menyogok, sulap itu rekayasa, sambil memberi tahu trik-triknya.

Aku sebutkan beberapa orang hebat yang tidak dihargai oleh negaranya sendiri: Pramoedya Ananta Toer, penulis terhebat sepanjang sejarah Indonesia, yang karyanya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Jim Goevedi, hacker yang mampu menggeser letak satelit negara Cina. BJ Habibi, mantan presiden, pembuat pesawat, dan konon ia termasuk manusia terpintar yang dimiliki negara ini.

Sama seperti yang terjadi pada kamu. Orang-orang kita lebih suka mencacimu ketimbang menegurmu ketika kamu ketahuan melakukan kejahatan plagiasi. Orang-orang bahkan tak menghargaimu sebagai orang yang sudah banyak menulis, yang itu asli tulisanmu. Mereka tetap akan fokus pada kesalahanmu. Kadang, aku berpikir, apa susahnya sih menghargai orang yang statusnya masih remaja sepertimu tapi sudah bisa menulis dan gemar membaca? Bukankah di negara ini jarang ada remaja yang gemar membaca, apalagi bisa menulis?

Tetapi, ya, ya, ya. Memang, seperti pepatah Jawa, becik ketithik, olo ketoro. Kamu berbuat jahat sekecil pun tetap akan terlihat. Dan, semoga itu bisa kamu jadikan pelajaran. Jangan pernah merasa jatuh jika direndahkan, sebagaimana jangan pernah terbang ketika dipuji.

Dan ingatlah bahwa gagal yang paling fatal adalah ketika kamu telah jauh melangkah hanya untuk jatuh dan pasrah sambil melupakan perjuangan di permulaan. Aku harap setelah ini kau justru malah menerbitkan buku. Baik novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, maupun kumpulan tulisan-tulisanmu di Facebook itu. Itu akan lebih baik dan akan membungkam mulut-mulut yang mencacimakimu. Dan aku harap, kamu kuliah di Jogja. Hehehe… Kalau bisa di UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ushuluddin, jurusan filsafat.

Surat ini aku tulis dalam keadaan lapar, sambil menunggu buka puasa, tetapi tetap bahagia. Maka aku beri judul Surat Cinta untuk Afi Nihaya. Sebab, aku menulis ini memang untukmu dan aku bahagia. Apakah kamu mencintai orang yang bahagia? Jangan dijawab. Gantungin aja.

 

Dari:

Daruz Armedian

Pemuda usia 21 tahun yang lahir di bumi bulat. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan filsafat. Tulisannya pernah di Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll. Memenangi lomba cerpen dan puisi tingkat remaja se-DIY tahun 2016 dan 2017. Lebih lanjut, buka di dearmedian.wordpress.com

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here