Apa Gunanya Kamu Belajar Sastra?

0
Belajar sastra

Tubanjogja.org – Belajar Sastra

Belajar Sastra
Oleh: Daruz Armedian

“Apa gunanya kamu belajar sastra?” tanyamu suatu waktu. Aku tahu, di dalam pertanyaanmu itu, kau menyimpan sebuah keyakinan kalau sastra itu tidak penting. Dan aku tidak langsung menjawab pertanyaanmu begini: untuk mengubah dunia. Tidak, tidak, tidak. Itu terlalu utopis bagiku apalagi bagimu.

Aku menganggap sastra itu seperti ilmu matematika atau ilmu-ilmu yang lain. Kau pasti tahu kalau matematika dasar adalah matematika yang sering dipakai oleh orang-orang seperti kita. Satu tambah satu, dua tambah dua, tiga dikurangi dua, lima dikurangi tiga, lima ribu ditambah lima ribu, sepuluh ribu ditambah sepuluh ribu, satu juga dikurangi lima ratus ribu, dua juta dikurangi satu juta. Persis juga, gajimu dua juta lebih perbulan sesuai UMR di kota yang kau tinggali saat ini, motormu yang kau cicil selama dua tahun seharga sembilan belas juta, rokokmu dua puluh ribu per hari, dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah: apakah matematika itu penting? Bagimu dan bagiku, pentingnya matematika adalah dasarnya. Sebab, kita bukan matematikawan, atau insinyur, atau ilmuwan, atau orang-orang yang kita tidak tahu kalau mereka sangat membutuhkan matematika yang tidak hanya dasar dalam kehidupannya. Lalu apakah logis jika kau sendiri yang sehari-hari menggunakan matematika, tetapi kemudian mempertanyakan apa pentingnya matematika?

“Apa pentingnya sastra?” tanyamu suatu waktu yang aku sudah bisa menebaknya, persis seperti apa yang aku tulis di paragraf pertama. Ketahuilah bahwa di dalam hidup keseharianmu itu sastra ada. Ia hidup sebagaimana kau hidup. Ia di sekitarmu, bahkan sampai hari ini.

Setiap hari kau mendengar lagu-lagu dari berbagai band, grup musik, dan lain-lain. Aku yakin lagu-lagu itu tak pernah ada kalau tanpa sastra. Dengarkan baik-baik lagu-lagu itu: diksi-diksi atau pilihan kata-katanya, penataan rima, dan barisnya. Apalagi yang kau dengarkan adalah lagu-lagunya Ebied G. Ade, Didi Kempot, atau lagu-lagu melayu.

Oke, baiklah. Itu baru satu hal. Bagaimana kalau kusebutkan hal-hal yang lain? Kau pasti masih percaya kalau pocong itu ada, padahal kau tidak pernah melihatnya. Kau pasti percaya bahwa surga neraka itu ada, padahal kau tidak pernah melihatnya. Dan ini menyangkut banyak hal yang kau percayai, tetapi kau tidak melihatnya. Ketahuilah, itu berkat sastra yang dalam hal ini, sastra lisan. Kau mendengar itu dari cerita-cerita orang lain bukan? Itu termasuk sastra.

“Apa gunanya kamu belajar sastra?” tentu saja, setelah memikirkannya dalam waktu yang tidak lebih dari lima menit, aku menjawab: karena mempelajari atau mendalami sastra penting bagiku. Ini aku yakin juga sama seperti para sastrawan, atau orang-orang yang menggeluti dunia sastra.

Tentu saja, kepentingan sastramu dan sastraku berbeda. Sebab, aku memang sengaja menggeluti dunia sastra dan kau tidak. Tetapi, itu bukan berarti menjadikanmu bertanya-tanya apa pentingnya sastra, bukan?

Kau boleh tidak mengenal para pegiat sastra semacam Pramoedya Ananta Toer, WS. Rendra, Widji Thukul, Sosiawan Leak, Saut Situmorang, dan lain-lain sebagainya, yang walaupun mereka telah menggunakan kredo: sastra untuk masyarakat. Kau juga boleh tidak mengenal Sutarji Colzoum Bachri, Gunawan Muhammad, Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Eka Kurniawan untuk menyebut beberapa nama saja. Kau boleh tidak mengenal mereka dan tidak tahu karya-karya mereka. Sebab, mereka (termasuk karya-karya mereka) juga tidak membuat karirmu sebagai PNS naik pangkat, juga tidak menambah jumlah gajimu.

Tetapi, pertanyaan apa gunanya aku memperlajari sastra yang kau lontarkan itu sangat menggelikan. Entah ini aku yang keterlaluan atau bagaimana, aku tidak tahu. Yang jelas, menurutku, kau sama halnya bertanya seperti ini kepada astronom: apa gunanya memperlajari bintang-bintang yang berada di tempat jauh itu, padahal kehidupan ada di bumi?

Atau, kau bertanya kepada sejarawan: apa gunanya mempelajari sesuatu peristiwa yang sudah berlalu, padahal hidup adalah hari ini dan menuju ke hari depan? Atau bahkan kau bertanya kepada dedek-dedek gemes yang sedang jatuh cinta begini: apa maksudnya bertanya sudah makan kepada pacarnya yang kalaupun toh tidak ditanya seperti itu ia tetap makan dan apa gunanya menyimpan pesan dari pacarnya untuk kemudian dibaca lagi sambil tertawa-tawa sendiri?

Percayalah, itu pertanyaan yang menggelikan, setidaknya buatku.

Daruz Armedian, penyuka kata “bodoamat”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here