Senandika Pecinta, Sajak-sajak Daruz Armedian

Tubanjogja.orgSajak

Sajak

Senandika Pecinta

aku lelaki keras kepala
sengaja mencintaimu untuk kausia-siakan
seumpama jendela yang setia mengamatimu
melangkah pergi dan kembali
meski yang kautuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat
yang menolak tumbuh di wajahmu
agar kau tak malu dan berpaling
saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh
masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh

Waroeng arsip, 2016

 

Pengarang

pada dini hari yang menyediakan sepi
dan secangkir kopi
dan keyboard laptop dengan lugu
mengajak jemariku menari
mulut seseorang yang memanggilku pengarang
seperti dipaksa waktu
untuk bercerita tentang puisi
kepada telingaku yang angkuh dan menolak bunyi

saat ctrl A+del dan jemariku bekerjasama
mengabukan kata-kata
dari lembar office word
dalam seseorang itu ada yang keluar menjelma suara
kenapa kauhapus puisi panjang
yang susah-susah kaukarang?

ada yang sengaja mengajakku
untuk membalas suara itu
kalau aku benar-benar pengarang,
karangan yang terhapus tak akan pernah hilang.

Warung arsip, januari 2016

 

Jatuh Cinta yang Baik Bagi Pemalu

sebagai lelaki pemalu
aku tahu cara jatuh cinta yang baik
adalah membiarkan pikiran
menggambar seseorang
seperti halnya bocah kecil
dengan riang mencoreti buku kecil
sesuka hati sesuka pandangan ini

aku ingin selalu merawat rindu yang panjang
dan tak mau duduk berdampingan
membicarakan kembang
putih awan, biru kolam dan ikan-ikan
lalu memaksa waktu bermusuhan dengan perjalanan
aku tak mau membagi perasaan
pada telinganya
yang menyimpan rahasia dan semacam peristiwa

kalau seandainya ia menganggapku
wajah yang ia cintai
aku tetap menolak jadi waktu bagi putaran jam
yang mau tidak mau harus berdampingan
sebab dekat adalah cara membunuh
yang akurat pada kerinduan

Kutub, 2015

 

Rindu Tanah Kelahiran 1

pada malam sendu
kutulis sajak rindu tanah kelahiran
sajak itu jadi batu: di hatiku

Kutub, 2014

 

Pada Akhirnya

pada akhirnya, kita semua pun pergi
bersama angin-angin
yang katanya tidak bisa mati.

Tuban, 2013

 

Daruz Armedin, lelaki yang percaya bahwa indomie goreng di warung lebih enak ketimbang buatan sendiri.
Email: armediandaruz@gmail.com

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Oktober 17, 2017

    […] Daruz Armedian […]

  2. Desember 6, 2017

    […] juga: Puisi Daruz Armedian, Senandika Pecinta, Sajak-Sajak Daruz […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.