Kado yang Disesalkan

0
Kado yang Disesalkan
Sumber: Pinterest

Tubanjogja.orgCerita Pendek

Oleh: Joko Gembili

Baru berselang beberapa jam pemakaman Bapak, dua orang pegawai dealer datang ke rumah. Katanya, sudah berhari-hari mereka mencari rumahku, dan sekarang baru ketemu. Aku belum tau persis apa maksud kedatangan mereka. Yang jelas, waktu itu masih banyak keluarga dan tetangga di rumah.

“Maaf, kami telat mengirim barang yang seharusnya kami kirim minggu lalu.” Ujar salah satu pegawai dealer.

***

Aku masih ingat tingkah lakuku saat semuanya masih utuh, saat Bapak masih begitu cerewet denganku. Aku begitu liar dengan perintahnya. Begitu enteng mulut ini menolak perintah darinya. Ya, aku begitu benci dengannya, hingga saat ditanya seseorang, apakah aku menyayanginya, aku menjawabnya tidak, bahkan tidak sama sekali.

Bapak bukanlah bapak yang aku inginkan. Pikirku, Bapak bukan orang yang biasa kubanggakan. Yang aku sayangi hanyalah Ibu, Ibu yang selalu menuturiku untuk patuh dan menghormati bapak. Hmm…, begitu juga Bapak, banyak tutur darinya yang masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Begitu murkanya Bapak terhadapku. Oh, setahuku Bapak tak pernah menaruh rasa marah kepadaku. Sembangkang apa pun aku, Bapak selalu menyayangiku. Selalu menuturkan kata-kata lembutnya untuk menasehatiku. Ya, itu setahuku tentang Bapak.

Rasanya, suka menghindar dari perintah Bapak adalah hal rutinan yang selalu aku lakukan. Ketika sedang di kamar dan Bapak memanggilku, aku diam, pura-pura tidur, dan itu kulakukan tak hanya sekali. entah kapan, rasa sayang terhadap Bapak bisa seperti rasa sayangku terhadap Ibu. Mungkin, suatu saat aku bisa menemukan cara supaya aku bisa menjadikan bapak benar-benar menjadi Bapak yang aku sayangi dan aku patuhi.

Sebaliknya, Bapak begitu sayang denganku. Tak pernah marah ketika aku membangkang. Selalu menasihatiku dan mengajarkan hal-hal baik. Seminggu di rumah sakit, Bapak rela meninggalkan pekerjaannya demi menemaniku. Dan rasa sayangnya terhadap ibu dan kakak-kakakku begitu besar. Hanya saja aku yang tak tau diri. Ya, itu hanya sebagian sifat Bapak yang bisa kutulis, dan mungkin, jika memori ini mengingat semua tentang Bapak, mungkin tak ada sifat jeleknya yang aku tahu.

Pernah aku membaca tulisan bapak di meja kerjanya. Hanya beberapa kata Seperti kado yang disesalkan. Aku masih ingat benar besar dan warna tulisan itu. Kertas kecil di atas meja, dan sedikit bekas air di ujungnya. Dan sekarang aku baru sadar, Tuhan telah memberiku kado, kado yang kuabaikan. Kado lusut yang tanpa ingin tahu dalamnya dan langsung membuangnya. Tuhan seperti memberiku permata, permata yang terbungkus kapas lusut dan kuinjak hinga semakin lusut dan kotor.

Tak pantas! Sama sekali tak pantas diri ini minta dipuji karena gelar yang aku peroleh, gelar sarjana, sementara sarjana itu hanya bisa menunggangi punggung seorang Bapak. Aku merasa sangat berdosa.

Seandainya aku diberi satu permintaan. Ingin sekali memutar waktu yang kubuang sia-sia. Bukan yang lain, bukan kemewahan, bukan apa pun. Hanya ingin kembali hidup bersama Bapak.

Rasanya, api yang paling panas pun tak bisa melebur dosaku. Tanah sedalam apa pun tak bisa memendam dosa-dosa yang pernah aku lakukan. Hingga tempat persembunyian yang sangat aman pun tak akan mampu menyembunyikannya. Hingga kini aku tak menemukan penghapus yang paling ampuh, cat yang paling pekat. Hanya saja, bayang-bayang penyesalan yang selalu datang.

Kini, aku tahu arti kehidupan. Arti menyayangi, arti memberikan kasih sayang kepada seseorang. Maafkan anakmu Pak. Anakmu dulu masih kebawa akan asyiknya kehidupan FTV, betapa mudahnya kehidupan di sinetron.

Maafkan aku Pak, mungkin dulu aku masih terdoktrin perkataan orang, terdoktrin sinetron yang sering aku tonton. Maafkan anakmu yang membangkang, yang pura-pura tak mendengar saat kau panggil.

Seumpama semua air laut kutuang ke dalam mata, akan aku habiskan untuk menangisimu. Dan sebanyak apapun air hujan, sejatinya lebih banyak air mataku yang kugunakan untuk menangisimu. Mungkin gunung-gunung juga tak akan mampu membendung air mata ini, gunung Rinjani sekalipun. Hanya saja, tangan yang pernah kulihat di saat sore menjelang malam itu yang mampu membendungnya.

Aku akan selalu menyimpan kacamata ini Pak. Kaca matamu yang selalu kau kenakan di malam hari saat lembur. Dan bajumu, baju yang lusut yang seharusnya dibuang dan ganti baru, tapi demi baju baruku kau rela memakai baju yang lusut seperti ini. Dan yang terpenting aku akan memakai kata-katamu, sifatmu yang sabar, dan kepribadian yang begitu luar biasa.

***

Tak lama, Ibu mempersilakan kedua orang itu duduk.

“Apa bapak tak salah alamat?” tanya Ibu.

“Tidak, kami yakin ini adalah alamat yang minggu lalu memesan motor ini. Dan beliau membelinya dengan tunai,”

Kata salah satu dari mereka yang membawa surat-surat beserta lampiran tanda terima. Kembali aku baca sekali lagi alamat yang tertulis. Dan sepertinya memang benar. Lebih mengejutkan ketika nama pembeli motor itu adalah Bapakku.

Kini, aku sadar. Betapa susahnya menjadi Bapak yang mempunyai anak pembangkang seperti aku. Ini adalah pelajaran yang paling berharga bagiku.

Di sekolah, kampus, aku tak akan bisa mendapatkan poin yang begitu berharga seperti yang diberikan Bapak kepadaku. Begitu luar biasa jasa Bapak. Dan dalam sujudku, mulutku tak akan henti mengucapkan doa-doa untuk Bapak tiri yang selalu menyayangiku.

Gembili, Pegiat Sastra di Garawiska Institute Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here