Afi Nihaya dan Perihal Mantan Sejak dalam Pikiran

0
Afi Nihaya Perihal mantan

Tubanjogja.orgMantan

Mantan
Oleh: Daruz Armedian

Beberapa hari yang lalu Afi Nihaya memposting (read: memberitahukan) bahwa ia tengah berpacaran dengan seorang lelaki yang kuduga itu pasti orang yang shaleh. Di grup Whatsapp Kampus Fiksi #20, teman-teman memberitahuku sambil menguatkan hatiku: jangan menyerah, gaes. Dia cuma tokoh rekaan.

Aku tersenyum. Menyimak dan terus menyimak pembicaraan mereka. Aku tahu, mereka cuma guyon. Dan aku menanggapinya juga dengan guyon. Aku juga tahu, mereka mengatakan itu karena aku pernah menulis Surat Cinta untuk Afi Nihaya (yang itu aku haqqulyakin, tidak ada kata cintanya sama sekali kecuali di bagian judul).

Baiklah. Untuk melengkapi tanggapan guyonan itu, ada baiknya aku akan berterusterang. Ini bukan persoalan cinta, kecewa, digantung, atau patah hati sekaligus. Ini persoalan lain.

Baca juga: Surat Cinta untuk Afi Nihaya

Begini:

Jika dikatakan penulis, aku rasa kemampuan Afi Nihaya dalam hal menulis masih di bawah rata-rata. Aku punya teman-teman yang suka menulis, yang itu seumuran dengannya (atau bahkan lebih muda lagi), yang itu lebih bagus darinya. Sebut saja: Surya Gemilang (1997), Sengat Ibrahim (1997), Muhammad Husein Heikal (1997), Muhammad de Putra (2001), Muhammad Daffa (1999) dan masih banyak lagi. Tulisan mereka ada yang pernah masuk Kompas, Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Republika. Tulisan mereka ada yang pernah menang lomba baik tingkat provinsi maupun nasional. Mereka juga sudah mempunyai buku karangan sendiri. Dan, jika ukuran menulis tidak dihitung dari media yang memuatnya, atau lomba yang dimenangkannya, atau buku yang diterbitkannya, baiklah. Hitung saja dari jumlah karya yang mereka tulis. Dan, penghargaan tinggi buat mereka yang tidak melakukan plagiasi.

NB: Silakan cari di Google kalau ada yang belum tahu mereka. Memang kebanyakan penulis tidak terkenal. Kecuali mereka yang diangkat oleh media. Haha. Bantuin aku ketawa dong, biar tidak garing.

Tetapi, kenapa aku tetap mendukung Afi? Apa untungnya aku mendukung Afi? Bahkan sampai menuliskan surat untuknya segala? Mengko sek. Ojo keburu. Ndasku iseh ngelu. Matamu lereno sek moco iki. Ngopi-ngopi sek daripada ngopo, ben ra salah paham. Aku tak mikir.

Aku menulis surat itu ketika ia sudah kena kasus plagiasi. Ia dibully habis-habisan. Perlu kalian ketahui, bahwa bulliying akan membuat orang semakin merasa terasing. Dan, bahaya apa yang lebih mengerikan ketimbang diasingkan?

Aku tahu ini karena pernah mengalami. Di waktu MTS (setingkat SMP) tiba-tiba teman-teman akrabku menjauhiku. Mereka membullyku habis-habisan. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Padahal, mula-mula mereka baik-baik saja. Selama tahun-tahun itu juga aku tidak punya teman. Aku cuma berdiam diri di rumah. Meratapi nasib (bukan meratapi kejombloan cuy, wkatu itu aku belum ngerti ada kata-kata jomblo di dunia yang sebenarnya indah ini). Aku selalu memikirkan, apa salahku? Begitu dan selalu begitu tiap waktu.

Dalam pikiran itu, aku membenarkan, pasti aku yang salah, ini pasti aku yang keliru (ah, sama aja ya? Anjaaay). Tetapi, apa salahku? Sampai sekarang aku tidak menemukan jawaban itu. Sungguh.

Waktu MA (setingkat SMA. Hadeh siapa sih yang tega-teganya memisahkan antara SMA dan MA, jadi bikin ribet aja), aku belajar menulis karena terinspirasi buku Laskar Pelangi. Aku dendam. Aku ingin menulis semua kejahatan teman-temanku itu. Semuanya. Tidak ada yang kukurangi. Memaafkan kejahatan mereka sungguh sulit bagiku. Tetapi, ketika sudah di Jogja dan bisa menulis, lama semakin lama, aku rasa aku tidak perlu menulis itu. Tidak penting. Aku toh sudah bahagia sekarang. Anjaaay. Mereka juga sekarang sudah baik-baik kok.

Bulliyan itu membuatku menjadi orang yang tertutup dalam pertemanan, bahkan itu aku rasakan sampai sekarang. Aku trauma. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kecuali ngopi, selow aja wes.

Masalahku sebenarnya tidak hanya bulliyan. Lebih dari itu. Di rumah, orangtuaku sering bertengkar dan aku sering kena batunya. Aku kena marah terus. Bahkan, aku pernah merencanakan untuk minggat untuk selama-lamanya dari rumah. Dan, lebih bodohnya lagi, pernah merencakan untuk bunuh diri. Itu dulu. Dulu banget. Sekarang orangtuaku lebih romantis ketimbang Song Joong Ki sama Song Song Hye Kyo. Pijat dan kerokan bergantian. Kurang romantis apa? Song Joong Ki wazaujatihi emang pernah saling pijat dan kerokan?

Untung saja. Ya, untung saja waktu itu ada seseorang yang bisa kubuat sandaran. Ceileeee. Asem-asem. Ada yang mendukungku untuk tetap bertahan. Sampai sekarang orang itu tidak akan pernah aku lupakan. Aku sekarang sudah melupakan masa lalu itu. Enjoy-enjoy saja ah sekarang.

Begitu kira-kira gaes kenapa aku mencoba tidak membully Afi Nihaya dan bahkan malah mendukungnya untuk tetap bertahan, terus menulis, dan kalau bisa menerbitkan buku. Sebab, kadang-kadang aku berpikir dengan begitu sentimentilnya, mungkin Naruto jadi apa ya kalau tidak ada Guru Iruka di belakangnya. Ingat, Naruto masa kecilnya sangat menyedihkan. Ia diasingkan oleh tidak teman-temannya, bahkan orang sekampungnya juga. Mau jadi apa coba Naruto kalau tidak ada Guru Iruka? Mungkin ia akan bunuh diri dan serialnya akan tamat dalam jangka waktu yang sangat singkat. Mashashi Kisimoto akan kebingungan meneruskannya. Maka, dengan adanya Guru Iruka yang baik, yang membela Naruto mati-matian itu, kalian wahai pecinta Naruto, berterimakasihlah kepadanya. Puja Kerang Ajaib bernama Guru Iruka.

Apakah mendukung Afi Nihaya masih relevan, bahkan ketika ia sudah melakukan plagiat dan terus menerus melakukan pembelaan atas tindakannya sendiri? Oke, baiklah. Begini saja. Sekali lagi, Afi Nihaya, seperti dalam suratku kemarin, hanya dimanfaatkan oleh media. Sebanyak apa pun yang ditulis Afi Nihaya di Facebook tetap tidak akan diundang presiden (dan banyak lagi) kalau tidak ada masalah dengan rangorang yang mau mendirikan negara Islam dengan rangorang yang mempertahankan NKRI. Buktinya sekarang ya biasa saja tuh.

“Dia plagiat lho! Kok, kamu masih mau mendukung dia. Apa kamu mendukung plagiat?” Oh, no! Aku tidak mendukung adanya plagiat sama sekali. Aku orang yang suka nulis, dan tahu sendirilah kalau dalam kepenulisan, plagiat adalah hal yang paling jahat ketimbang menulis alay seperti ini: Teleq Mas Teleq, Doamat, Anjaaay, Q CeDih CeK4yiiii.

“Lalu kenapa?” Ya, ini mungkin persoalan isi hati ya (kata temanku, hati itu susah ditebak, lebih enak nebak-nebak lebih enak mana mie goreng yang dikasih kuah sama yang tidak dikasih kuah). Masalaluku yG mnYedichkand Jadi aku merasa aku tidak patut ikut-ikutan membenci Afi Nihaya. Mendukung adalah cara terbaik. Walah.

Kiyaiku pernah mengatakan, yang itu aku yakin dari usaha beliau belajar dengan serius dengan Kiyai-Kiyai beliau, bahwa: membenci itu perbuatan yang tidak baik.

Sudah ya. Itu saja. Ini rencanaku mau nulis 1000 kata. Eh, malah lebih. Ya, wes. Cukup.

Apa? Kamu mau apa? Mau tanya kenapa Perihal Mantan Sejak dalam Pikiran kok tidak dibahas? Dasar ngenes! Sentimen banget sih sama yang namanya mantan. Situ Jomblo lagi ya?

Daruz Armedian, tulisan satu katanya berupa anjaaay telah dimuat di berbagai media, antara lain Grup Whatsaap, Instagram, dan Kolom Komentar Facebook.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here