Episteme Cinta II: Sumber Cinta Remaja 2017

0
Ilustrasi diambil dari http://cintalagu.org

tubanjogja.org – Cinta Remaja

Cinta Remaja
Ilustrasi diambil dari http://cintalagu.org

Oleh: Idayu*

Anggap saja ini layar status whats app atau cerita di instagram tempat manusia-manusia kekinian terbiasa melayangkan bualannya dan lantas bahagia secara jenaka—lantaran ada yang menonton. Iya, aku cuma ingin membual di sini agar siang yang dingin tidak berlalu begitu saja tanpa abu.

Ceritanya, ini bermula dari kecenderungan teman-teman sekarang yang terbilang cupet jika dihadapkan soal jomblo (tidak perlu dimiringkan, soalnya sudah diresmikan), sepi, tembok kamar, malam minggu, gebetan, ditikung, pesan diabaikan, digantung, dan sebagainya. Posisi kecupetan terindah mereka bisa diamati, salah satunya, dari bagaimana jiwa mereka bergulung-gulung saat pesannya cuma dibaca oleh si gebetan, atau sekedar di bales dengan tulisan, “iya”. “Kamu lagi apa? Iya. Makan apa malam ini? Iya. Gimana skripsinya? Iya.”

Atau mungkin, itu bisa juga dilihat dari kondisi ketika mereka lagi berjuang menahan gigitan hatinya selepas memergoki si mantan sedang puk-pukan bersama pacar barunya—yang tidak bukan adalah teman se-kontrakannya sendiri (sebelum ketikung)—di soto Lamongan tempat biasa mereka sarapan. Bisa pula dari betapa gigihnya mereka bergulat dengan harga dirinya sendiri beberapa saat sebelum mereka benar-benar memutuskan untuk memulung (tak peduli rupa dan ukuran) siapa saja yang bersedia menjadi kekasih barunya dengan harapan bisa lekas move on. Dan beberapa contoh lain yang kurang ajar jenakanya.

Kira-kira, kalian tahu ndak apa sebetulnya yang menyebabkan mereka selucu itu? Iya, ada banyak sekali faktor. Tapi biarkanlah daku menceritakannya satu saja dari semuanya. Satu yang saya rasa lagi mewabah di kalangan kita hari ini. Yakni “sumber” yang mereka miliki untuk merespons serta bertindak. Dimungkiri atau tidak, banyak dari kita saat mengalami kejatuhan karena cinta, mesti merujuk pada lagu-lagu sebagai penenang. Harapannya, ada satu atau dua lagu yang itu sungguh pas dengan kondisi yang kita alami dan lantas kita menjadi tenang sebab sejenis ada yang memberi dukungan.

Satu sisi, gaya menyelesaikan masalah seperti itu memang efektif. Setidaknya sebagai kopi dan ketan di pagi hari setelah semalaman mimpi buruk. Tapi ini akan segera menjadi sianida ketika rupanya kita memutuskan untuk melakukan seturut yang diperintahkan oleh pengarang lagu lewat liriknya. Mudahnya, mari kita ke simulasi kasus saja.

Bagi yang beberapa bulan ini lagi menyayangi pacar sahabatnya dan sedikit mendapatkan lampu hijau, pernah ndak kalian mendengarkan lagunya Yura, “Cinta dan Rahasia”, dan kemudian menjadi tergugah untuk lanjut merebutnya dari sahabatmu? Atau jika tidak begitu, adakah di antara kalian yang memilih untuk mendengarkan lagunya Ratu, “Salahkah aku Mencintaimu”, yang kemarin nembe dihidupkan lagi oleh Fatin, secara berulang-ulang gara-gara sang kekasih meninggalkanmu tanpa sebab dan lantas kalian memutuskan untuk tetap berada di jalur para pengemis cinta? Mesti ada yang pernah.

That’s. Itulah yang kumaksud dengan konstruksi hantu. Dalam artian, tanpa disadari, kita tengah banyak dikontrol oleh sesuatu—“lirik lagu” maksudnya—yang sebetulnya tidak memiliki hak sama sekali untuk mengontrol kita. Apakah lagunya salah? Jelas tidak. Kita sendiri yang terlalu gampangan. Dan karena gampangan, tentu masing-masing dari kita tahu dong apa konsekuensinya. Tepat sekali, bagi pengikut lagunya Yura, bersiap-siap saja akan kehilangan sahabat—yang oleh Aristoteles digadang sebagai salah satu pemberi kebahagiaan sejati. Begitu pun dengan pengikut Fatin, siap-siap mawon tercerabut dari posisi sebagai manusia. Sebab manusia pada dasarnya tidaklah membutuhkan apa dan siapa pun: ia udah segalanya. Lha kamu masih mengemis cinta. Hello!

Solusinya? Bacalah al-Quran (subhanallah), jadikanlah ia sumber cintamu ketika tengah diusik soal hati yang diselimuti jutaan harapan. Pasalnya, terutama bagi yang beriman, hanyalah al-Quran yang paling berhak soal ini. Soal hidayah. Bukan lagu-lagu cinta. Cobalah cari di dalamnya, apa saja yang harus kita lakukan saat semisal gebetan tidak membalas pesan kita, dan lalu segera lakukan. Cobalah, dan niscaya kau tak akan kehilangan apa pun kecuali kejenakaanmu itu. “Kita, sebagai Muslim, harus menjadikan al-Quran sebagai jalan serta penerang hidup. Al-Quran huwal huda!” Begitulah sepertinya nasihat khatib waktu salat Jumat. – Cinta Remaja

*Idayu, bekas

selingkuhan

Mbah Takrib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here