Bercumbu lebih baik Ketimbang Bertengkar

2
seks
Ilustrasi dicangkok dari http://wrenmcdonald.com

Seks – Jika bahasanya Tosihiko Izutsu, ini adalah weltanschauung. Ia sejenis jendela virtual yang pasti dimiliki oleh setiap orang. Bagaimana seseorang melihat dunia dan kemudian menyimpulkannya begitu tergantung pada satu istilah tersebut. Sebagai ilustrasinya adalah kasus seputar seks yang menghinggapi beranda pengguna media sosial, terutama instagram, beberapa hari ini. Pertanyaanya begini, mengapa jika kita mendengar kata itu terucap atau membacanya entah di koran maupun majalah, pikiran kita mesti langsung tertuju pada hal negatif? Mesti tertuju pada gambaran perilaku yang amoral, apalagi ada embel-embel “di luar nikah”? Kenapa tidak sebaliknya?

Iyes, itulah yang disebut sebagai weltanschauung, paradigma. Tanpa banyak kita sadari, rupanya pikiran kita telah banyak mengendapkan apa saja yang menjadi pandangan umum masyarakat (lingkungan) tempat kita tumbuh dan berkembang. Jika semisal, sedari kecil kita kerap mendengar bahwa Tuhan itu berwarna hijau—tidak biru—dan suka mengunjungi masjid-mushola yang hijau pula, maka secara tidak langsung dalam pikiran kita usai terendap satu jendela, yakni Tuhan itu berwarna hijau. Walhasil, saat kita, pada suatu waktu, terjebak di desa yang warna masjidnya biru-biru, maka segera kita akan memiliki kesimpulan sendiri bahwa, “Wah, masjid ini suwung. Tuhan tidak hadir!” Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi. Karena weltanschauung yang kita miliki dan yang lagi dipakai (online) masyarakat tempat kita hidup adalah “Tuhan itu hijau!”.

Seks
Ilustrasi dicangkok dari http://wrenmcdonald.com

Kembali pada subjek penelitian (duh, bahasanya), jadi, sekarang kita bisa mulai meraba mengapa istilah seks selalu dikonotasikan negatif, amoral, tidak sopan, dan sejenisnya. Iya, benar. Itu adalah karena dalam pikiran kita masing-masing usai terendap se-anggitan bersama bahwa seks dari sononya memang sudah “terkutuk”. Dan kemudian, disebabkan oleh minimnya kuasa kita untuk melawan arus tersebut, maka bumm, terbentuklah arkeologi pengetahuan yang selalu mengebiri titik positif dari seks, dan bahkan yang hanya berbau seks.

Apakah kita salah jika menyebut mereka yang berciuman di luar nikah sebagai yang tidak berakhlak? Tidak. Setiap dari kita memiliki hak untuk mencitrakan liyan secara subjektif. Namun, yang tidak efektif di sini adalah saat kita mematok jika ukuran berakhlak tidaknya seseorang cukup dilihat dari apakah ia pernah berciuman dengan si pacar atau tidak. Jika pernah, maka tidak berakhlak dan jika tidak, sebaliknya. Inilah yang bermasalah. Logical fallacy, bahasanya Sherlock Holmes.

Apa masalahnya? Terlalu menyempitkan. Pula, terlalu meremehkan. Mereka yang memiliki kebiasaan berpikir sebagaimana di atas cenderung akan merasa baik-baik saja tatkala usai membatalkan janji dengan temannya, mendadak lagi. Soal bagaimana si teman harus bersusah payah menjadwal ulang waktunya, kurang mereka perhatikan. Yang ada dalam benak mereka hanyalah satu: tidak pacaran, tidak bergandengan tangan, dan sejenisnya. Weltanschauung yang bersemayam dalam semesta pikiranya sebatas “jadilah manusia yang berakhlak. Dan berakhlak itu menghindari sebisa mungkin apa pun yang berbau binal (seks), apalagi di luar nikah.” Ah betapa tidak berwarnanya hidup ini.

Bagaimana dengan hukum Islam yang melarang hal-hal semacam itu? Kalau pun iya, ia mengecam—kalau pun iya—aku pikir Islam lebih gemas melihat masyarakatnya yang suka mengabaikan janji, suka asimetris antara bibir dan tindakan, dan nyaman merusak anggitan baik liyan terhadapnya yang tentu ini mampu memicu permusuhan, bahkan perang. Aku pikir juga, Islam lebih mempertimbangkan bagaimana perasaan masyarakatnya yang harus kehilangan banyak waktu berharganya gara-gara menunggu temannya di warung kopi barang satu atau dua jam yang di ujung, eh ternyata si teman tidak datang. Atau pada masyarakatnya yang sudah mengosongkan waktu makan malamnya demi janji dengan teman, tapi rupanya lima belas menit sebelum jam H, ia mendapatkan pesan singkat berisi “maaf ya, kak. Aku ndak jadi ke sana. Aku tiba-tiba disuruh bu kos bantuin masak e. Ndak papa kan?”—ndak papa ndasmu! Sejujurnya saja, manusia jenis inilah yang bagiku lebih tidak berakhlak. Soal akhlak, moral, rasanya kita memang butuh dari sekedar menyadari weltanschauung.

“Kita, sebagai Muslim, harus mengingat betul apa yang pernah disampaikan Baginda Nabi Muhammad Saw. dalam salah satu hadisnya, ayatul munafiqi tsalasun: idza haddasa kadzaba, wa idza’ tumina khana, wa idza wa’ada akhlafa,” tegas salah satu ustadz di TV subuh tadi. [Sapari]

Baca juga: KAMASUTRA: Sebuah Rekomendasi Biologis

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here