Mari, Kita Robohkan Patung Yang Mulia Sing Tee Koen Sama-Sama! (Sebuah Ajakan untuk Menghilangkan Berhala-Berhala)

10

tubanjogja.org – Kwan Sing Bio

Kwan Sing Bio

Saudara-saudara Islam setanah air, terutama di bagian Kabupaten Tuban, kalian perlu tahu bahwa patung dewa perang Yang Mulia Sing Tee Koen, patung yang konon mendapat rekor MURI sebagai patung terbesar se-Asia Tenggara itu, telah mengganggu kita. Kita sebagai umat Islam yang tidak diperbolehkan menyembah berhala, harusnya bersatu untuk merobohkan patung itu. Robohkan! Takbir!

Tetapi, sebelum itu semua terjadi, mari simak ulasan ini lebih lanjut mengenai patung itu dan kenapa kita harus merobohkannya.

Patung yang tingginya 30,4 Meter itu (jauh lebih tinggi daripada patung Jendral Sudirman yang cuma 12 Meter dan jauh lebih tinggi daripada patung-patung pahlawan lainnya) berdiri tanpa ada surat izin pembangunan dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah sedang sibuk membangun masjid-masjid dan hal-hal yang berkenaan dengan keagamaan, yang dalam hal ini, Islam. Ya, mereka sedang sibuk dengan itu sehingga tidak mengurusi pembangunan jalan, tidak memikirkan kesejahteraan rakyat di sekitar Pabrik Semen. Jadi, boro-boro sempat ngasih izin pembangunan. Eh, tapi kayaknya bukan masalah sempat atau tidaknya, ding. Sekarang, perizinan itu diurus lagi.

Sebenarnya, patung yang berada di wilayah Klenteng Kwan Sing Bio itu berdiri dengan aman-aman saja. Bahkan, seusai patung itu jadi, orang-orang tidak ada yang protes. Orang-orang ke sana (pemeluk agama apa saja) rata-rata cuma berfoto-foto dan menikmati pemandangan yang indah di sekitar Kwan Sing Bio. Dan memang, Klenteng terbesar se-Asia Tenggara itu juga dibuka bagi siapa saja yang ingin berekreasi di sana.

Aman-aman saja, Gaes.

Tetapi, tidak tahu kenapa, tiba-tiba bermunculan kabar bahwa patung itu mengganggu, menutupi aura Kota Wali. Sebutan Kota Wali tercemari oleh adanya patung itu. Kabarnya, patung itu akan dirobohkan oleh sekelompok orang. Iya nggak sih? Kalau iya, baiklah. Kita bersatu.

Mari, robohkan patung itu. Robohkan berhala itu.

EEE Tetapi, sebelum semuanya terjadi, tahukah kau bahwa berhala terbesar ada dalam diri kita masing-masing? Ya, kita yang congkak, merasa paling benar sendiri, suka menyalahkan keyakinan orang lain, dan kerap menuhankan diri sendiri. Egois. Bukankah itu yang sesungguhnya berhala?

Dan, toh, patung Sing Tee Koen didirikan bukan untuk dijadikan sesembahan. Ia bukan berhala. Buku pelajaran sekolah (yang diterbitkan Erlangga) memberitahu bahwa patung-patung dibuat tidak hanya untuk dijadikan berhala saja. Ada patung yang dibuat untuk mengenang jasa-jasa orang, mengenang peristiwa masa lampau yang bersejarah (patung monumen). Ada patung yang dibuat untuk menunjang dalam konstruksi bangunan karena nilai estetik atau keindahannya tinggi (patung arsitektur). Ada patung yang dibuat untuk menghias bangunan atau lingkungan taman, baik taman rumah maupun taman bermain (patung dekorasi). Ada patung yang dibuat sengaja untuk bahan sesembahan, ada patung yang dibuat untuk dijual karena sebagai hasil kerajinan tangan, dan lain-lain.

Nah, patung Sing Tee Koen itu, masuk dalam kategori patung monumen, bukan patung sesembahan. Mengenang Sing Tee Koen. Iyalah. Kalau dipikir-pikir, ngapain orang Tionghoa menyembah Sing Tee Koen? Kurang kerjaan saja. Mereka menyembah Tuhannya di dalam Klenteng, yang dalam hal ini, Kwan Sing Bio (Klenteng terbesar se-Asia Tenggara dengan patung kepiting raksasa yang menghadap laut Jawa di sekitar pintu masuk). Kalau kau berkunjung ke sana, kau tidak akan melihat orang-orang melakukan ritual penyembahan di sekitar patung Sing Tee Koen itu. Kecuali orang-orang (yang memeluk agama apa saja) sedang asyik berfoto. Mereka bahkan tidak tahu itu patung apa, patung siapa, patung untuk apa.

Mereka biasanya datang dari jauh untuk berziarah ke makam para wali (Sunan Bonang, Asmoro Qandi, Petilasan Syeh Magribi, dll.) atau yang sengaja melakukan rekreasi, biasanya ke Boom, Alun-alun, terus mampir ke Kwan Sing Bio. Tenang saja, mereka tidak menyembah patung itu.

Jadi gimana, Gan, Degan? Jadi gimana, Lur, Welur?

Ya, nggak gimana-gimana. Katanya suruh ngerobohin berhala-berhala dalam diri. Piye toh? Wes alah emboh. Aku mung cah kerjo. Sabaro yoooo.

Daruz Armedian, mantan cah angon.

10 KOMENTAR

  1. Kita hidup di negara Pancasila, ada hukum yg kita sepakati bersama, baik dan buruknya, cocok dan tidaknya.
    Keberagamaan, tidak masalah karena itu privasi.
    Dalam hal ini, selama patung itu mempunyai izin pendirian, knapa harus di robohkan, selama tidak digunakan sebagai pemicu pertikaian antar penganut agama.

    Artikel yang bagus.!

  2. Jangan percaya pada web ini web ini hanyalah penyebar hoax,dan web ini pun tidak jelas web siapa,web ini hanya ingin indonesia hancur,Kita hidup di pancasila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here