Plagiat fi al-Dunya wa al-Akhirah

0
Gambar diambil dari http://www.portseo.web.id

tubanjogja.org – Plagiat di dunia akademik

Plagiat
Gambar diambil dari http://www.portseo.web.id

Oleh: Idayu*

Baru saja aku mencari beberapa tulisan dosen—anggap saja—soal plagiat, tapi tidak ketemu. Dulu, tulisan tersebut sempat viral di kalangan teman-teman, terutama di lingkaran jurusan tempat ia mengabdikan dirinya (wuih, mengabdi). Pasalnya, tulisan itu lahir memang sebagai puncak dari keresahannya mendapati para mahasiswa, termasuk aku, tidak kunjung juga mampu move on dari kebiasaan kopas (baca copy paste, biar tidak keliru dengan yang di samping Blandongan). Atau intinya, lewat tulisan tersebut, ia mengidamkan sekali sebuah milieu akademik yang bebas dari asap polusi plagiarisme.

Sebelum menyelam lebih dalam, harus kuakui kiranya, aku belum pernah membaca tulisan si dosen secara utuh. Entah, mungkin gegara udah kadung sentimen duluan atau apa. Yang pasti, aku hanya sempat membacanya sebentar. Dan dalam bacaan yang sekilas tersebut, mahasiswa, kata si dosen, harus terbiasa—sejak dalam pikir—untuk mencantumkan sumber tempat mereka mengutip ketika sedang menulis makalah. “Jangan sekali-kali menuliskan kembali secara plek apa yang kalian baca di buku atau pun artikel dengan tanpa mencantumkan footnote. Jauh lebih baik kalian menulis hanya satu lembar atau beberapa paragraf saja, tapi hasil tulisan kalian sendiri!” begitulah kira-kira teriak si dosen, jika boleh membayangkan.

Walhasil, karena habis membaca tulisan itu, banyak dari temanku mulai berbondong belajar untuk mencantumkan referensi ketika menulis makalah. Dan mereka berhasil. Teman-temanku hari ini udah pandai mencantumkan referensi. Saat lagi menulis tentang suatu tema, epistemologi tafsir misalnya, mereka tidak akan segan untuk membuka satu atau dua paragraf dalam buku terkait, membacanya, menuangkannya dengan gaya tulisan yang “agak” dibedakan, mencantumkan footnote, dan lantas dengan sedikit bisikan simsalabim dan Bomm!: mereka sudah bebas dari kutukan plagiarisme—jangan tanyakan soal substansinya, jelas sama!

Baca juga : Dunia Pendidikan Kita 

Satu sisi, perasaanku teramat senang. Akhirnya, teman-teman mulai disayang kembali oleh para dosen, terutama dosen yang punya tulisan di atas. Sebab mereka sudah tidak plagiat. Mereka sudah mencantumkan footnote tiap kali membaca dan menuliskan kembali—dengan cukup mengubah gaya bahasanya—apa yang kita baca dari paragraf suatu buku.

Tapi, di sisi lain, aku sekonyong resah sekaligus heran: mengapa ukuran seseorang disebut plagiat atau tidak adalah terletak pada footnote: kalau makalah banyak footnote, maka mesti itu orisinal, jika tidak maka dongeng? Kenapa ukurannya bukan justru pada substansi? Apa bedanya coba semisal aku mengutip bukunya Jiraiya (Gurunya Naruto)—mengubahnya sedikit dengan gaya bahasaku plus tanpa dibumbui dengan ideku, dan lalu mencantumkannya di footnote—dengan buku Jiraiya itu sendiri? Aku pikir sama saja. jalan di tempat.

Ah mbuh. Jika membaca tulisan si dosen (lagi-lagi), legal formalnya sih begitu. Footnote. Atau mungkin begini saja. Soal plagiarisme, kita sepakati saja ada dua gaya. Gaya dunia dan gaya akhirat. Apa yang dirumuskan si dosen lewat tulisannya—kendati aku belum sepenuhnya membaca—adalah masuk kategori plagiat dunia. Alasannya, ukuran yang dipakai adalah footnote. Plagiat gaya ini kurang mengindahkan substansi. Meski esensinya sama, tetapi mencantumkan footnote, maka itu tidak plagiat. Itu orisinal.

Adapun gaya akhirat adalah mereka yang berpendapat bahwa plagiat sebetulnya bukan saja urusan footnote. Tapi lebih pada soal orisinalitas—atau sebut saja kuasi orisinal—pemikirannya. Gaya akhirat melihat bahwa tradisi diwajibkannya footnote di alam akademik tak lebih dari jebakan semata. Jebakan yang justru berpotensi besar menghambat mahasiswa untuk terbiasa berpikir mandiri, berpikir kreatif. Adanya malah membimbing mahasiswa ke arah apa itu yang disebut sebagai kompilasi. Dan pada pusaran ini, bahagiaku atas pencapaian teman-temanku serta impian si dosen terhenti. Setibanya aku takut, apakah makalah—termasuk skripsi—yang selama ini kita perjuangkan hanyalah sebatas kompilasi? Kompilasi yang dipaksa lahir demi kepentingan tertentu?

*Idayu, siswi bersemester

senja di UIN SUKA

dan teman tidur Sapari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here