Kematian “ Jancok ” di Awal Abad 21

tubanjogja.orgJancok

Jancok

Ilustrasi Jancok

Sebenarnya, saya berat untuk memulai catatan ini. Bukan soal idealisme, apalagi mekanisme. Tapi masalah orang-orang yang banyak disosokkan dalam lingkaranku. Pasalnya, mereka—entah sadar atau tidak—berada di pusaran judul yang ingin saya curhat­-kan ini. Jadi, tahu sendiri kan bagaimana rasanya dituduh nyinyir  itu.

Tapi, demi perkembangbiakan “ jancok ”, biarlah mereka begitu. Kalau toh marah, biar mereka membalasnya. Aku siap. Paling tidak, mereka jadi sadar, jika satu kata yang dulunya pernah membesarkan kita bersama tengah berada di ruang ICU Rumah Sakit Umum Tuban yang konon peralatannya minim itu.

Jancok vs Anjay

Adalah perkara “ jancok ” di media sosial, terutama Instagram. Bagi para Jancokist (biar beda aja dengan Mbah Tejo), sebagian dari mereka mungkin sudah menyadari betapa di era pascaaksara—meminjam bahasanya Harmoko, salah satu cerpenis handal di tubanjogja.org—ini “ jancok ” terancam musnah. Kenyataannya, ia tak lagi banyak muncul di dinding-dinding instagram. Eksistensi “ jancok ” usai digantikan oleh beberapa istilah lucu, polos, dan menggemaskan, seperti “anjir”, “anjay”, dan beberapa lainnya.

Sebagai penikmat “jancok”, tentu ini adalah perkara yang tidak nyaman. Alasannya sederhana, ketika di media sosial “jancok” tidak lagi diminati atau telah mengalami kriminalisasi—yang entah oleh siapa—maka itu artinya, umur “jancok” tidak lagi lama. Atau bahkan, ia sudah mati sekarang. Bagaimana tidak, pengguna facebook di Indonesia menurut Sri Widowati, direktur Facebook cabang Indonesia, mencapai 115 juta per-bulan penggunanya. Begitu juga dengan instagram yang mencapai angka 45 juta pengguna per-bulan. Ini adalah jumlah pengguna terbesar di Asia Pasifik. Jadi, mari kita renungkan kembali: betapa resahnya para Jankokist Indonesia abad 21 ini mendapati angka di muka. Puluhan juta masyarakat Indonesia sudah tidak lagi membudayakan “ jancok ”!

Sebentar, ini belum seberapa. Pada titik tertentu, mungkin para Jancokist masih bisa menenangkan gejolak jiwanya. Sebab “penganiayaan jancok” hanya terjadi di dunia maya. Dunia yang tidak ada bedanya dengan dunia ide, tidak nyata, spekulatif, dan sejenisnya. Apalagi mengetahui bahwa kebanyakan Jancokist adalah pengikut setia Husserl, Derrida, atau Lacan yang selalu menganggap bahwa segala yang terjadi sejatinya adalah bukan kenyataan itu sendiri. Dalam beberapa momen, masihlah mereka bisa meredam keresahannya.

Akan tetapi, saya rasa mereka akan segera resah kembali ketika menyadari bahwa rupanya “penganiayaan jancok” juga terjadi di ruang praksis keseharian. Bahkan oleh mereka yang dulunya begitu menggandrunginya. Untuk yang terakhir, inilah yang membuat air mata menetes. “Jancok” tidak saja berusaha dicabut dari kebiasaan berinteraksi di dunia maya, tapi juga dunia nyata. Jika tidak percaya, monggo kita bersama-sama memerhatikan beberapa teman kita hari ini yang lebih suka bilang “anjay” ketimbang “cok!”, bilang “anjir” ketimbang “asu!” ketika kita mengagetinya dari belakang atau saat lagi ada cewek berdada besar lewat. Sama pula halnya dengan teman-teman perempuan kita yang entah sok apalah lebih memilih kata “kuy” dari pada “ayok” kala mau ngajak makan malam.

Sampai di sini, aku jadi tahu bagaimana kepedihan yang dirasakan para Jancokist. Bukan saja soal “jancok” yang tidak tenang di kuburan, tapi juga tentang sebagian rekannya sendiri yang ternyata, secara diam-diam, turut berkontribusi atas lahirnya kelompok-kelompok yang lucu seperti, Anjay Lovers, Anjir Holic, dan apalah lainnya. Sabar ya, kak.

Paradoks?

Apakah mereka salah? Tidak sepenuhnya. Setiap orang, saya kira, tidak ingin dinilai negatif, apalagi mereka yang lagi dekat (mbribik) dengan ukhti-ukhti atau akhi. Selama ini, tiada konotasi yang melekat dalam tubuh “jancok” kecuali ucapan tercela. Yang namanya tercela, tentu ujungnya adalah perilaku negatif. Jadi, tau sendiri kan mengapa mereka begitu. Ini natural. Mumpung juga ada penggantinya. Lebih lucu lagi.

Namun, menjadi persoalan bila ternyata keputusan mereka untuk membumikan istilah anjay tidak diimbangi dengan pengetahuan. Atau dalam bahasa agamanya taklid. Ada apa dengan taklid? Budaya kritis. Saya kira, kita semua telah sepakat bahwa “hanya ikut-ikutan” (taklid) merupakan simtom atas matinya daya pikir, daya kritis, daya kreatif. Ya, kita bayangkan saja, bagaimana jadinya Indonesia jika 45 – 115 juta dari penduduknya enggan untuk berpikir? Belum lagi kala ini dikaitkan dengan salah satu ucapan populer Nabi—atau yang kerap disandarkan pada Nabi—“Agama hanya untuk yang berakal”. Duh, jelas ini lebih membingungkan ketimbang bojo galak-nya Nella Kharisma.

Tiga Azimat Tjokroaminoto

Jika meminjam rumusannya Tjokroaminoto, ini adalah peristiwa di mana manusia tidak lagi memiliki siasat yang tinggi dalam hidup. Untuk memelihara bangsa supaya tidak dijadikan sapi perah yang hanya diambil susunya—sapinya dibiarkan begitu saja—kita mutlak membutuhkan siasat, tegas Tjokroaminoto. Salah satu manifestasi seseorang tengah memiliki siasat adalah tidak mudah taklid. Jika kita masih suka, sebagaimana tadi, ikut menggunakan bahasa tidak jelas produk IG—seperti tercyduq dan gabut (contoh lainnya)—dengan tanpa tahu secara pasti untuk apakah kita melakukannya, maka kita tidak bisa menyebut diri sebagai yang bersiasat tinggi.

Selain siasat, Tjokroaminoto juga mengandaikan pemuda Indonesia untuk memiliki kemurnian tauhid dan keilmuan yang utuh. Pertama memuat anjuran supaya kita cukup fokus dengan tanggung jawab, tugas, serta peran masing-masing. Yang perannya adalah kiai, maka ya tidak usah terlalu melibatkan diri dalam politik, apalagi pergulatan absurd media sosial. Bukan karena apa-apa, kasihan santrinya: masak santri harus ngaji sama politisi, apalagi pegiat media sosial.

Kedua menganjurkan agar siapa saja tidak cengeng soal ilmu. Maksud cengeng di sini adalah katutan. Ketika tengah ada keilmuan atau pengetahuan yang lagi tren, lanjut Tjokroaminoto, kita tidak boleh sama sekali langsung mengikutinya tanpa memeriksanya dulu lebih intim. Soal tren pengetahuan bahwa “pemerintah sering menyebarkan berita-berita pengalihan isu” misalnya, orang tidak bisa langsung memercayainya begitu saja dan lantas semua berita dianggapnya pengalihan isu. Itu sama sekali tidak efektif. Termasuk di sini pula adalah ihwal “jancok” dan “anjay”.

Duh, sepertinya terlalu panjang. Lebar juga. Ah, aku sudahin sajalah. Pastinya, yang ingin saya ceritakan di sini adalah soal betapa aku resah memergoki teman-temanku yang dengan tanpa beban bilang “anjay”, “anjir”, “kuy”, “gabut”, dan lain sebagainya. Terkadang kurindu dengan suara sahdu “jancok!”, “asu!” atau “kuakek ane!” yang menggelegar, memenuhi lingkaran meja tempat biasa kita berbagi kisah. “Jadi, siapakah pembunuh ‘jancok’, su?” tanya seorang teman. “Pikiranmu sendiri!” [Zav]

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.