Mengimajinasikan Tuhan

3
Mengimajinasikan Tuhan
by: carlos_quevedo

Tuhan, kata guru saya di Taman Kanak-Kanak, adalah dzat yang membuat bumi langit dan seisinya. Dan sampai sekarang, ketika saya sudah beranjak dewasa, pengertian tentang Tuhan tersebut masih terus digaungkan di sana.

Waktu itu, saya selalu membayangkan bahwa Tuhan adalah sesosok monster raksasa yang bertempat tinggal di ufuk barat. Tepat tempat senja merona kala sore tiba. Alasannya, saya shalat menghadap ke barat. Jadi, otomatis bayangan saya, Tuhan ada di sebelah barat. Saya sama sekali tidak mengerti kenapa harus menghadap ke barat sewaktu shalat. Pemahaman mengenai ka’bah yang bertempat di Arab Saudi dan saya bertempat di Indonesia yang kebetulan sebelah timur negara tempat kelahiran Nabi Muhammad itu sama sekali belum terlintas di kepala saya.

Tuhan adalah sesosok monster raksasa, persis apa yang diperangi Ultra-Man atau Power Rangers yang sering saya tonton di televisi. Hanya saja, Ia tidak merusak dunia. Ia tidak menghancurkan bangunan kota dan tidak menginjak-injak manusia. Ia adalah sesosok monster raksasa yang baik hati. Begitu baik hati. Sekali lagi, begitu baik hati.

Jadi ketika saya meminta layang-layang untuk bermain di persawahan, Tuhan pasti memberikan. Saya percaya kepada ucapan guru saya, bahwa Tuhan tidak terlihat dari pandangan manusia (hal itu bisa saya buktikan dengan bermain di persawahan saat sore menjelang sambil melihat ke arah barat dan memang Tuhan tidak terlihat). Karena tidak terlihat itulah, cara Tuhan memberi layang-layang berbeda dengan manusia. Lewat berbagai macam perantara terlebih dahulu. Bisa lewat ibu, bisa lewat ayah, bisa lewat teman-teman, dan bisa lewat dari diri saya sendiri saat mengejar layangan putus.

Begitu juga ketika nenek meminta hujan, bayangan saya, Tuhan pasti akan memberikan. Entah itu kapan. Dan buktinya, sampai sekarang hujan masih ada. Masih diberikan kepada manusia.

Imajinasi saya tentang Tuhan waktu itu tidak pernah saya utarakan pada siapa pun, kecuali kepada teman-teman sebaya. Saya takut jika guru-guru atau ayah dan ibu saya tidak sepaham dengan saya, karena mereka sudah dewasa dan pasti punya pemahaman tersendiri. Waktu itu, teman-teman saya ada yang mengatakan kalau Tuhan itu seperti udara. Ada juga yang mengatakan kalau Tuhan itu mirip langit, luas sekali. Ah, masa kecil yang bebas mengimajinasikan apa pun. Ajaibnya, salah satu dari kami tidak ada yang menyalahkan pemahaman masing-masing.

Tetapi, semua berubah ketika saya menjelang dewasa ini. Saya takut mengimajinasikan Tuhan. Ketika saya melihat orang menyembah pohon, saya takut mengimajinasikan bahwa Tuhan adalah pohon. Walaupun pohon itu simbol dari kehidupan, menghasilkan oksigen, dan menyejukkan dunia. Sama halnya saya takut mengimajinasikan Tuhan ketika melihat orang menyembah matahari, menyembah patung-patung, menyembah salib, menyembah api, menyembah sapi, menyembah ketiadaan (tidak menyembah apa-apa), dan lain-lain. Walaupun kesemuanya ada alasannya.

Saya takut mengimajinasikan Tuhan ada di tempat yang jauh, tempat yang tinggi, tempat yang tak bisa disentuh sebagaimana ketakutan saya mengimajinasikan bahwa diri saya sendiri adalah Tuhan (karena salah satu guru saya ada yang mengatakan kalau Tuhan ada dalam diri kita, Tuhan itu manunggal terhadap apa yang dicipta-Nya).

Ketakutan itu membuat saya tidak mengimajinasikan Tuhan sebagai apa pun. Dan ketakutan itu membuat saya menjadi orang yang sangat sinis terhadap manusia yang membicarakan Tuhan. Terlebih memperdebatkan masalah ketuhanan dan mempertahankan keyakinan tentang Tuhan sampai-sampai terjadi peperangan. Membuat saya menjadi orang yang memendam kebencian. Kebencian terhadap orang yang saling benci karena berbeda Tuhannya. Sebagian satu mempercayai bahwa Tuhan seperti ini, yang benar seperti ini dan sebagian yang lain mempercayai bahwa Tuhan seperti itu, yang benar seperti itu. Benci mereka yang percaya terhadap kepercayaannya sendiri dan tidak memahami bahwa orang lain juga percaya terhadap kepercayannya sendiri. Mereka saling mengutuk, saling memberi persepsi, bahwa yang dipercayai orang lain itu salah. Seolah-olah merekalah benar.

Bagi saya, Tuhan masihlah Tuhan. Bukan kata T-U-H-A-N dan bukan pengertian yang lain. Sesuatu yang Maha-bisa-dimengerti dan Maha-tidak-bisa-dimengerti. Dan tentu saja pengertian itu kadang saya bantah sendiri, Tuhan bukan seperti itu. Saya masih takut mempersoalkan pengertian Tuhan. Bahkan ketakutan itu sudah sejak dalam pikiran. Takut jangan-jangan saya sudah murtad. Bukan hanya murtad dari agama saya, tapi dari segala agama di dunia.

Jadi, saya makin tidak peduli ketika ada pembahasan mengenai Tuhan walaupun sampai hari ini saya masih meyakini keberadaan-Nya. Begitulah akhirnya.

Kalau sudah seperti itu, saya kepingin kembali lagi ke zaman kanak-kanak. Bebas mengimajinasikan tuhan atau apa saja. Tanpa rasa takut karena alasan ini dan alasan itu.[]

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here