tubanjogja.org Generasi Z – Sesungguhnya saya telah jatuh hati pada tulisan Zev yang mengulas generasi Z, berjudul “Generasi Z, Tirto.id dan Beberapa Hal yang Jenaka”. Tulisan itu, bagi saya telah memberi tinjauan kritis terhadap salah satu media meinstreame yang menarasikan perubahan sikap dan perilaku manusia sesuai fase kehidupan dalam arus perkembangan teknologi-informasi. Dengan membuat kodefikasi sesuai tahun kelahiran dalam bentuk abjad mundur ke belakang, sepeti X, Y dan Z.

tuban jogja gernerasi z dan kematian zaman aksara
Ilustrasi oleh tim kreatif KPMRT

Tidak ada yang salah dalam pendefinisan tersebut. Tetapi menjadi menggelitik bagi Zev, terutama soal justifikasi obyek dengan menggeneralisir kasus di semua tempat dan mengenyampingkan masyarakat kelas pinggir. Dan justru menjadi aneh tatkala dalam artikel itu, seolah terkesan mengkampanyekan produk tertentu yang disusupkan dalam isi tulisan.

Di titik itu, saya tidak hendak mendebat Zev. Tetapi menjadi menarik ketika meninjau ulang perkembangan manusia melalui pendekatan sejarah–sebelum sampai pada generasi X, Y (Milenial) dan Z. Dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia, kita lebih dulu dikenalkan tentang asal-usul manusia dan riwayat perkembanganya serta kodefikasi zaman sesuai dengan karakter kebudayaan manusia di masanya.

Riwayat perkembangan manusia itu dinarasikan secara geneologis dan merujuk pada bagaimana manusia bertahan hidup dengan menciptakan produk kebudayaan. Jika produk kebudayaan berupa alat-alat yang dipergunakan—kebanyakan masih—terbuat dari batu, maka disebut zaman batu, dan jika alat-alat yang dipergunakan adalah logam atau perunggu, maka disebut pula sebagai zaman logam atau perunggu, kemudian jika alat yang dipergunakan sudah didukung oleh mesin, disebutlah era teknologi mesin. Tetapi secara mendasar, periodesasi sejarah itu terbagi menjadi dua, yaitu zaman praaksara dan zaman aksara. Zaman praaksara adalah zaman manusia belum mengenal tulisan, sedangkan zaman aksara adalah zaman manusia telah mengenal tulisan.

Selain peninggalan berupa alat-alat sisa peradaban di masa lalu, tulisan adalah alat atau referensi utama dalam mengungkap peristiwa sejarah. Tulisan itu, bisa berupa prasasti, serat dan dokumen penting lainnya. Sebagai pesan langsung, tulisan memang lebih efektif ketimbang pesan yang disampaikan dalam tradisi oral dan simbolisasi. Sebab, tulisan meminimalisir pergeseran dan kesalahan interpretasi.

Sejarah lahirnya tulisan sendiri cukup beragam di berbagai tempat. Yang paling tua adalah tulisan yang ditemukan di dua tempat berbeda yaitu Mesopotamia pada 3200 SM dan Mesoamerika pada 600 SM, dengan sistem ideografik dan simbol nomenik. Sementara itu, tempat perkembangan tulisan juga mesih menjadi perdebatan antara di Mesir sekitar 3200 SM atau di Cina pada 1300 SM.

Di Indonesia, sejarawan mencatat, tonggak awal zaman tulisan dimulai pada awal abad ke 5 M di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dimana telah ditemukan prasasti Yupa, tugu batu bertuliskan huruf Palawa yang berisi kebaikan raja Mulawarman–yang memberi sumbangan 20.000 ekor sapi kepada para Bramana–serta silsilahnya dari Kedungga, raja pendiri kerajaan Kutai. Dan persis setelah itu, sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara banyak perolehan informasinya dari tulisan-tulisan yang tercantum dalam prasasti.

Begitulah arti penting tulisan dalam arus mengenal sejarah. Tulisan adalah media utama dalam melaksanakan transformasi sosial, ekonomi dan politik, baik di masa lalu maupun sekarang. Sehingga wajar jika tulisan dijadikan kodifikasi era perkembangan umat manusia (zaman aksara).

Dan kini, nampaknya era tulisan mulai bergerak dinamis dengan berkembangnya teknologi informasi-komunikasi. Teknologi secara nyata telah membuat kehidupan manusia semakin mudah dan termanjakan. Sebagai contoh, dahulu ketika seseorang hendak menyampaikan pesan pada orang lain, orang tersebut harus menulis surat dan mengirimkannya lebih dulu melalui pos dan itu pun butuh waktu cukup lama. Tapi kini, pesan itu tidak harus dikirim lewat pos, namun bisa melalui aplikasi elektronik dan tersampaikan secara cepat dan tepat.

Bahkan lebih dari itu, relasi sosial dengan pola pertukaran pesan sudah tersistematisasi dan secara canggih hadir dalam bentuk media sosial. Di media sosial inilah, tulisan berkembang dalam dua kutub yang saling bersebrangan. Pertama, tulisan semakin beranak-pinak dalam bentuk ‘status’ yang berisi curaan perasaan dan gagasan. Kedua, karena sifatnya curahan, maka tulisan yang bertebaran itu, justru kebanyakan tidak hadir dalam pesan yang komperhensif dan mendalam, seperti quote, curhat sesaat, kutipan dan lain sebagaianya.

Menyusutnya kualitas tulisan di media sosial itu, nampaknya dipengurahi oleh fitur dan perkembangan media sosial yang semakin variatif. Sebagaiamana kita ketahui, media sosial adalah aplikasi pesan langsung yang berbasis pada email, lalu ia berkembang dengan adanya berbagai fitur seperti update status, catatan harian, gambar, video dan story (harian). Karena sifatnya langsung, maka wajar jika tuisan-tulisan di media sosial kebanyakan singkat, liar dan tidak linier, tersebab bisa terus diperbaharui sesuai perkembangan ide dan suasana hati penggunananya tanpa terikat waktu.

Selanjutnya, media sosial yang awalnya memperioritaskan pada pesan tulis, kini sudah mulai bergesar pada pesan gambar dan vidio (audia, visual dan audiovisual). Bahkan di media tertentu, sebut saja IG (menyebut merek agar dikritik Zev), tulisan menjadi hanya sekedar pemanis dan tidak lebih utama dari gambar dan video. Dan dengan semakin meningkatnya pengguna media sosial berupa audiovisual, menunjukakan pada kita, bahwa dunia tulisan (terutama di media sosial) sudah mulai terabaikan. Bagaimana tidak, dengan hanya membaca poster berisi qoute (setatemen pendek dibarengi sampul gambar tokoh) kita sudah merasa puas dan seolah tuntas membaca keseluruhan ide dan isi buku tokoh yang dikutip.

Tetapi harus diakui, jauh sebelum pasang surut tulisan di media sosial. Tulisan sebelumnya juga telah mendapatkan penetrasi dari perkembangan teknologi komunikasi-informasi, periode awal.

Era tulisan berkembang pesat sejak telah ditemukannya mesin cetak oleh johannes Getenberg pada tahun 1450. Mulai setelah itu, tulisan diproduksi secara masif dalam bentuk selebaran atau buku-buku yang kemudian disebarluaskan dan diperjual-belikan, sekaligus menandai lahirnya industrialisasi bacaan. Tetapi kemudia era pesan tulisan yang termanifestasi dalam industri bacaan itu, mendapat tantangan dan kompetitornya bertepatan dengan ditemukannya teknologi lain–seperti telepon (Alexander Graham Bell, pada 1876) dan radio (Gugliemo Marconi, pada 1898) sebagai pesan audio, kamera (Josephor Niepce pada 1826-1827) sebagai pesan visual dan video dan Televisi (Cakram Nipkow pada 1880) sebagai pesan audia visual—yang lebih diminati.

Kesemuanya itu, telah menjadi alat penyampai pesan yang cukup efektif selain tulisan. Tanpa hendak menghakimi secara parsial, ketika melihat arus perkembangan teknologi informasi-komunikasi dari masa ke masa, terutama era digital. Nampak terlihat, era tulisan sepertinya telah mulai melemah dengan hadirnya teknologi baru. Renungkan saja, di masa sekarang mungkin kita akan mudah dan menyenangi belajar dari youtube (tulisan pendek dibarengi dengan foto-foto atau video) untuk mengakses pengetahuan tertentu, ketimbang membaca buku tebal atau artikel panjang di internet yang cukup melelahkan dibaca.

Dalam situasi demikianlah—melemahnya ketertarikan pada tulisan—pergeseran zaman aksara nampak nyata terjadi dan tentu saja akan digantikan oleh era baru dengan kebudayaan dan beradapan baru. Apakah itu? Saya tidak tau!

Intermezzo….

“Loh Mbah maksudmu apa nulis esai ini, kok tidak ada sikap yang jelas?,” tanya Srintil, bibirnya terlihat manyun.

“Jadi begini Sri; dengan ditemukannya berbagai teknologi itu, dunia ini telah bergerak begitu cepat dengan segala perubahan yang dihadirkan. Sedangkan, zaman aksara telah memberi kontribusi besar dalam peradaban manusia. Dalam era yang baik ini Sri, harusnya kita ikut serta dalam mengambil berkahnya. Tapi belum pun kita menikamati sepenuhnya zaman aksara dengan kekayaan pengetahuan yang disimpan. Kita sedang akan masuk era baru yang penuh godaan dan tantangan,” kataku pada Srintil yang kini asik main HP.

“Ehem, kok bisa Mbah? Apa godaan dan tantangan era baru itu?,” lanjut Sri, sembari masih asik stalking akun IG mantan pacarnya.

“Ya ini, saat sedang ngobrol serius kamu asik dengan HP dan IGmu. Bagaiamana kamu hendak memetik kebijaksanaan, jika kamu mengabaikan pengetahuan Sri? Sekarang tak lihat temen-temen itu asik bermediasosial ketimbang baca buku” jawabku, berharap Srintil faham.

Tidak ada yang pergi dari pada hati, tidak akan ada yang hilang dari sebuah kenangan” celutuk Srintil. Mendadak ia seperti orang kesurupan, matanya berkaca-kaca.

“Kamu kenapa Sri? Kok tiba-tiba melankolis?,”

“Itu kata-kata Tere Liye Mbah. Mantanku sudah punya pacar lagi. Lalu apa hubungannya perkembangan teknologi dan literasi Mbah?” isak sedih Sri dibarengi pertanyaan serius jadi terdengar estetik.

“Jadi begini Sri: ………… Lanjut ke bawah”

Agak Serius

Baik, lupakan haru pilu Srintil yang sedang kalut ditinggal mantan kekasihnya move on dengan perempuan lain itu. Mari kita tuntaskan esai yang masih menggantung tanpa arah di atas.

Jadi begini, titik poin esai ini sesungguhnya berpijak pada pergeseran akses informasi yang beralih pada internet. Dan jika kita bersepakat pada diskursus yang dikritik oleh Zev, soal generasi Z, maka kita akan mendapati beberapa masalah terutama hubungannya dengan literasi, tulis-menulis yang erat dengan zaman aksara.

Generasi Z, dalam sebuah definisi yang termuat di tirto.id, adalah generasi yang hidup menikmati fasilitas internet penuh. Soal rentang kelahiran, beberapa ilmuan berbeda pendapat, ada yang mengatakan mereka adalah generasi yang lahir pada 1995-2014, 1993-2011, 1995-2009 dan ada pula yang mengatakan mereka adalah generasi yang lahir di atas Desember 2000. Perbedaan rentang waktu itu, sesuai dengan masuknya internet diberbagai negara yang berbeda-beda.

Kendati berbeda dalam menentuan rentang waktu kelahiran, para ahli itu bersepakat kalau generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet—genarasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet.

Di alam internet inilah, generasi Z memiliki kecenderungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya (X dan Y). Berdasarkan riset tirto.id, mereka kebanyakan mengakses informasi dari media sosial, rata-rata mengakses internet 3-5 jam perhari dan 90% menggunakan ponsel pintar serta lebih banyak mengakses IG dan Line, menyukai makanan cepat saji, menggemari fasion dari merek kenamaan, hiburan yang digemari adalah film live streaming, game online dan musik dari youtube serta kebanyakan menyenangi jalan-jalan dengan mengunjungi tempat-tempat populer di media sosial.

Dari data tersebut, nampak bahwa generasi Z dalam pemanfaatan internet lebih tertarik pada informasi berupa gambar dan  vidio serta informasi dari tulisan-tulisan pendek (Short News), ketimbang tulisan dari portal artikel panjang.

Hal ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi Y, mereka adalah generasi yang tumbuh dan berkembang ketika internet baru lahir. Sehingga dalam pemanfaat internet mereka lebih efektif dengan mengakses informasi-informasi penting sesuai dengan kebutuhannya. Mereka juga masih meminati dan berlangganan portal-portal artikel panjang dan mendalam. Di generasi Y, geliat tulisan masih menjadi perhatian yang cukup besar, bahkan mereka beberapa diantaranya masih berlangganan web atau blog yang fokus pada isu tertentu atau bahkan mereka mengelola web atau blognya sendiri.

Perubahan era internat yang cepat serta kecenderungan generasi Z pada arus informasi visual dan audiovisual. Menjadi suatu gejala yang tanpak nyata bahwa era literasi akan segera mengalami krisis (takut menyebut mati).

Sangat Serius

Srintil  : Aku kok masih gak faham ya Mbah?

Mbah : Mungkin kamu lapar dan aku sudah letih, Ayo cari bakso.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here