Ada “Manusia” di Atap Masjid

Atap Masjid – Wajahnya memancarkan sinar ketakutan. Matanya gelisah dan gelap. Dan di hadapan Gandhi, dia bicara dengan suara berat. “Aku baru saja membunuh seorang anak kecil,” katanya kepada sang mahatma. Gandhi bukan hakim yang merespons pengakuan dosa itu dengan vonis menyalahkan. Sebelum memberikan komentar, dia terlebih dahulu menyelidiki latar belakang tindak kriminal yang dilakukan saudara Hindu-nya.

“Mengapa kau membunuh anak itu?” tanya Gandhi.

“Aku tidak sengaja. Aku tidak sepenuhnya sadar. Orang tuanya yang muslim, memukuli anakku. Aku marah. Kupukuli juga anaknya. Tapi aku kalap. Kubentur-benturkan kepala anak itu ke dinding. Dan dia meninggal. Aku menyesal, Guru. Aku menyesal. Aku ingin bertaubat, tapi bagaimana caranya?”

Gandhi diam. Tampak memikirkan jalan keluar. Lantas, dia memberikan nasihat, “Carilah anak yatim piatu dari keluarga muslim yang kedua orang tuanya mati terbunuh dalam perang agama. Adopsi dia. Dengan sungguh-sungguh, besarkan dia sebagai muslim sebagaimana engkau membesarkan anak kandungmu sendiri yang Hindu.”

Gandhi, dalam cerita itu, mengajarkan apa yang dalam bahasa Barat disebut sebagai compassion dan dalam agama Islam dikategorikan sebagai ihsan. Ada yang menerjemahkan ihsan sebagai kebaikan. Terjemahan ini tidak salah tetapi belum menyentuh nuansa makna yang terkandung dalam kata ‘ihsan’. Makna ihsan lebih jauh dari sekadar kebaikan. Ihsan adalah kebaikan plus.

Atap Masjid

Ilustrasi gambar diambil dari http://1.bp.blogspot.com

Makna Ihsan

Untuk memahami keutamaan moral yang dijunjung tinggi dalam agama dan budaya apa pun ini, kita perlu membandingkannya dengan adil. Keadilan menetapkan bahwa mata balas mata, telinga balas telinga, dan pipi balas pipi. Bila kau melukai tanganku secara zalim, atas dasar hukum aku berhak membalas kejahatanmu kepadaku dengan melukai tanganmu pula. Bila kau memberiku sepotong roti, secara moral aku diharapkan membalas kebaikanmu dengan memberimu sepotong roti pula. Dalam konteks ini, adil dipahami sebagai balasan yang setimpal, ganjaran yang sepadan, atau respons yang porsional dan proporsional. Hak dan kewajiban tidak dikurangi atau pun ditambah.

Ihsan, yang lebih tepat diterjemahkan sebagai excellence, melampaui adil. Menurut standar ihsan, kalau aku menampar pipi kirimu secara zalim, sebagai balasan kejahatanku, kau justru memberikan pipi kananmu. Kau tidak hanya membuka pintu pengertian, pemakluman, dan pemaafan bagiku. Kau bahkan memberikan cintamu yang tulus kepadaku. Mengapa kau dapat melakukan hal itu?

Menuju Ihsan

Alasannya paling tidak ada tiga. Pertama, kau menyadari bahwa aku, sama seperti kau juga, adalah manusia yang dimuliakan penciptanya. Sang Pencipta meniupkan ruh-Nya sendiri ke dalam tubuh tanah manusia. Dengan demikian, dalam diri semua manusia menyala api ilahiah. Karena api ilahiah inilah setiap manusia pada hakikatnya terhubung satu sama lain. Dikatakan bahwa manusia tercipta dari tunggal jiwa. Umat manusia ibarat badan. Kalau dahi terasa panas karena demam, anggota tubuh lain ikut merasakan demam itu. Kalau di sini jariku tersayat pisau, di sana jarimu pun perih dan berdarah.

Alasan kedua, kau meyakini bahwa Tuhan berlaku ihsan kepadamu sehingga kau merasa perlu berlaku ihsan kepadaku sebagai ciptaan-Nya. Kau sepenuhnya yakin bahwa Tuhan mencintaimu sehingga kau mencintaiku dalam rangka mewartakan dan membalas cinta-Nya kepadamu. Ketika kau membalas cinta-Nya, kau pun yakin bahwa Tuhan, yang al-Syakur itu, akan membalas kembali cintamu secara berlipat ganda, sekecil-kecilnya sepuluh kali lipat. Itu adalah janji-Nya dan Dia bukan manusia seperti kita yang suka ingkar janji.

Alasan ketiga, yang amat berhubungan dengan alasan pertama dan kedua, kau sudah mulai mengenal jati dirimu. Tandanya, dalam ibadahmu, kau seakan-akan melihat Tuhanmu. Sekurang-kurangnya, bila kau tak mampu “melihat” Siapa yang kau sembah, kau merasa yakin bahwa Dia tentu menyaksikanmu. Dan bagi seorang muslim, semua aktivitas sehari-harinya merupakan ibadah.

Siapa pun yang beribadah dengan dasar ihsan sadar bahwa di hadapan Tuhan kedudukan semua manusia setara dan setaraf. Sebagai al-Rahman, Tuhan tidak berlaku diskriminatif terhadap hamba-Nya. Dia menerima berbagai bentuk ibadah tulus yang dipersembahkan hamba-Nya. Yang diperhatikan adalah kejujuran dalam beribadah. Agama, budaya, bahasa, warna kulit, gender, kekayaan, keturunan, popularitas, jabatan, dan berbagai atribut kefanaan lainnya, tidak menjadi bahan pertimbangan dalam kebakaan ibadah.

Ihsan dan Kemanusiaan

Semua itu menunjukkan bahwa ihsan, yaitu laku excellence yang dalam kehidupan sosial bewujud compassion, adalah nilai kemanusiaan. Letak nilai kemanusiaan dalam agama yang disebarkan Nabi Muhammad lebih tinggi daripada ikrar teologis batiniah dan formalisme hukum. Hierarki nilai ini kita temukan penjelasannya dalam sebuah hadis masyhur yang dikenal sebagai Hadis Jibril.

Sebagaimana kita baca dalam antologi hadis Sahih Bukhari, dikisahkan bahwa suatu hari malaikat Jibril mengunjungi Nabi dalam rupa seorang lelaki. Saat itu Nabi sedang berkumpul dan berbincang dengan sejumlah sahabat. Tiba-tiba saja lelaki tampan tersebut menghampiri Nabi. Dan tiba-tiba pula Jibril bertanya tentang empat hal: iman, islam, ihsan, dan kiamat. Nabi tentu tahu bahwa yang datang kepadanya adalah Jibril. Nabi menjawab pertanyaan tersebut satu per satu, dengan menerangkan unsur, aspek, dan gejala keempat hal tersebut.

Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, perjumpaan dengan-Nya, utusan-utusan-Nya, juga beriman kepada hari kebangkitan. Islam adalah menyembah Allah dan tidak berlaku syirik, mendirikan salat, menunaikan zakat yang diharuskan, dan berpuasa Ramadan. Dalam hierarki nilai keagamaan, iman berada di lapisan paling bawah yang berfungsi sebagai pondasi. Di atas iman, terdapat lapisan nilai islam. Ini artinya, keislaman tidak mungkin dibangun tanpa landasan keimanan. Ihsan adalah menyembah Allah kapan pun, di mana pun, dalam kondisi bagaimana pun, dan dalam bentuk apa pun, seakan-akan kita “melihat”-Nya. Bila tak mampu “melihat”-Nya, hendaknya kita yakin bahwa Dia selalu mengawasi kita.

Hadis tersebut mengisyaratkan, di atas lapisan nilai iman dan islam, masih ada lapisan nilai yang paling tinggi, yaitu ihsan. Ihsan, karena itu, merupakan hasil sekaligus tujuan dari rukun iman dan rukun islam. Kemanusiaan adalah buah dari pohon agama. Akarnya adalah ikrar teologis batiniah. Batang, dahan, cabang, ranting, dan daunnya adalah formalisme hukum.

Ulama nusantara tempo dulu melambangkan hierarki nilai tersebut dengan tiga lapis atap masjid yang berbentuk limas. Lapisan atap masjid paling bawah mengacu pada rukun iman atau ikrar teologis batiniah. Kriterianya adalah kejujuran. Di atasnya, terdapat lapisan atap yang merujuk pada rukun islam atau formalisme hukum. Kriterianya adalah keadilan. Dan lapisan atap paling atas menunjuk pada ihsan atau kemanusiaan. Kriterianya adalah cinta.

Pada lapis ihsan, perbedaan identitas keagaman melebur ke dalam perusadaraan umat manusia sejagat (al-ukhuwwah al-basyariyyah). “Seluruh manusia,” kata Gandhi “bersaudara”. Manakala ihsan terwujud, Islam mencapai tujuan kehadirannya sebagai agama cinta yang rahmatan lil ‘alamin. Tercapailah tujuan inklusif kehadiran kitab suci Islam, yaitu al-Quran, sebagai petunjuk bagai seluruh umat manusia.

Sayangnya, betapa jauh umat Islam saat ini dari cita-cita kemanusiaan yang terlambangkan melalui arsitektur masjid tradisional itu. Kita cenderung terperangkap dalam kebekuan teologi dan terbelenggu oleh kekakuan formalisme hukum. Jangan-jangan, bagaikan seekor katak, sekarang kita sedang terkurung dalam tempurung identitas. Saya harap tidak begitu.  – Atap Masjid

Ada “Manusia” di Atap Masjid – Oleh Lev Widodo.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.