Dialog Syekh Siti Jenar dengan Sunan Kalijaga

Setelah berhasil membujuk Syekh Siti Jenar ke Demak, pengadilan pun digelar dengan Dewan Wali sebagai hakim-hakimnya. Forum menjadi tegang, sebab argumentasi Syekh memang sulit dipatahkan. Hingga para Sunan hampir putus asa. Tinggal Sunan Kalijaga yang masih bertahan meladeni.

“Sekali lagi saya tegaskan, semua manusia itu sama derajatnya. Allahlah satu-satunya gusti yang wajib kita tunduk agar manunggal. Tiada alasan bagiku untuk tunduk pada Demak,” tegas Syekh Siti Jenar.

“Ajaran Kangmas itu berbahaya. Bisa meruntuhkan Demak yang baru kita bangun. Padahal Demak adalah kerajaan Islam. Bukankah dengan begitu Kangmas turut menyumbang keruntuhan Islam di Nusantara?” Sunan Kalijaga menanggapi.

“Bahaya atau tidak, itulah hakikat Islam yang tetap harus kita ajarkan. Lalu bagaimana maka ajaran saya dianggap menyumbang keruntuhan Islam di Nusantara?”

“Malaka baru saja jatuh ke tangan Portugis. Kita tentu harus mengusirnya sebab hanya dengan begitu kejayaan Nusantara bisa kita tegakkan. Untuk itu tentu butuh banyak banyak hal, seperti persatuan kembali Nusantara yang sudah tercerai-berai sebab perang Paregreg yang membawa sandyokalaning Mojopahit. Dan Demak sebagai pewaris Mojopahit, harus memulai menjalin persaudaraan kembali antar kerajaan-kerajaan kecil hasil perpecahan itu. Tentu membutuhkan banyak tenaga dan dana. Tenaga bisa diambil dari pemuda-pemuda desa, sementara dana dari upeti. Adapun ajaran Kangmas malah membuat orang tidak mau membantu Demak, baik tidak mau membantu secara tenaga atau tak mau bayar upeti. Sekali lagi, Malaka sudah jatuh, dan itu adalah awal kejatuhan Nusantara. Bukankah kalau kita biarkan, kejatuhan itu akan merembet ke tanah Jawa?” terang Sunan Kalijaga.

Latar belakang perbedaan pendapat Sunan Kalijaga dengan Syekh Siti Jenar

Latar belakang perbedaan pendapat Sunan Kalijaga dengan Syekh Siti Jenar

“Tentu saja kita sama-sama tak ingin Nusantara jatuh, sebagaimana tak ingin rakyat yang sudah sengsara tambah sengsara. Dan kita tahu belaka, kondisi rakyat saat ini sedang susah-susahnya. Jangan ditambah lagi dengan beban-benan seperti upeti dan kewajiban menyumbangkan tenaga. Yang paling dibutuhkan adalah perbaikan kesejahteraan mereka. Kita itu orang muslim, dan harus mampu menjadi pengayom bagi semua meski tanpa membawa bendera keislaman sekalipun. Dan Demak sejak kelahirannya sudah menegakkan benderanya, sehingga membuat orang-orang yang belum Islam menjauhi. Ya, Nusantara itu bukan hanya Islam. Bagaimana kalian bisa menggalang persatuan Nusantara untuk mengusir Portugis jika kerajaan yang kalian  bangun hanya berlandaskan satu agama saja? Bukankah dengan begitu kalian itu malah membuat perpecahan Nusantara semakin terpecah lagi, dan dengan begitu kita mudah dijajah? Lagipula kudengar beberapa kerajaan Nusantara mau berdagang dengan Portugis. Artinya sebagian dari kita memang sudah menerima Portugis itu.”

“Majapahit, negara yang awalnya berlandaskan ajaran Bhairawa, kemudian mengayomi banyak agama itu, nyatanya juga runtuh oleh pertikaian internal, Kangmas. Dan Demak hendak membangun negara baru dengan panji-panji baru. Soal Nusantara banyak yang belum Islam, justru itulah tugas kita mengislamkannya. Dan bukankah dengan kerajaan Islam, dakwah Islamiyyah akan lebih lancar?”

“Dakwah itu dari hati ke hati. Kita tunjukkan bahwa Islam itu mulia dengan laku keseharian kita, maka orang akan mengikuti. Tak perlu dengan pedang dan pertumpahan darah. Kalau soalnya adalah menghalau Portugis, kita tahu bahwa bagaimanapun, mereka adalah manusia yang sama dengan kita. Sama-sama butuh makan. Sama-sama butuh melakukan pertukaran alias dagang. Mereka kesini mencari rempah-rempah. Maka yang kita butuhkan adalah kita harus mampu meyakinkan penguasa-penguasa yang wilayahnya banyak menghasilkan rempah-rempah, untuk mengendalikan Portugis, bukan sebaliknya. Nusantara ini rumah kita sendiri, dan sebisa mungkin kita tetap menjadi tuan di atas rumah kita sendiri. Menghantam Protugis dengan gegabah, selain belum tentu menang, juga bakal lebih membuat rakyat semakin sengsara saja. Percayalah. Jika rencana ini tetap kalian lakukan, negara yang kalian dirikan tak bakal bisa bertahan lama.”

“Baiklah, Kangmas. Baiklah. Sepertinya, perdebatan ini tidak akan menemukan titik temu. Jadi, dengan kerendahan hati, saya meminta Kangmas untuk mengalah. Hanya dengan begitu, pertumpahan darah yang lebih luas antara kami dengan pengikut Kangmas bisa dihindari,” pinta Sunan Kalijaga.

“Baik. Baik. Saya mengalah. Tapi saya meminta dua hal. Pertama, jika toh kalian tetap tak mampu menggalang persatuan Nusantara, tak mampu menghalau Portugis, tak mampu membendung kemerosotan Nusantara, maka kalian harus berpikir ulang. Penyebaran Islam tak bisa serta-merta dengan kekuasaan. Kedua, sampaikanlah ajaran-ajaranku pada orang-orang yang menurut kalian sudah sanggup menerima. Itu saja. Selamat tinggal,” pungkas Syekh Siti Jenar yang kemudian membaca syahadat, dan meminta kematian dari Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan saat itu juga.

 

Yogyakarta, 11/17/17

Taufiq Ahmad

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.