Sifat Baik Daun: Sebuah Mata Pelajaran Bagi Orang-Orang yang Sedang Serius Menikmati Jurusan Pengangguran di Universitas Khayalan

tubanjogja .org – Sifat Baik Daun 

 

Sifat Baik Daun

Sengat Ibrahim, saat khusuk meresensi buku “Sifat Baik Daun”

Oleh: Sengat Ibrahim

Saya memulai tulisan ini ketika kaki sedang malas diajak berjalan. Ketika malam tercipta dari dingin dan hujan. Ketika dingin dan hujan sepakat membangunkan seorang Daruz Armedian dalam ingatan. Ketika ingatan menyuruh saya untuk menuliskan kerinduan kepada tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen Sifat Baik Daun. Sebuah kumpulan cerpen yang baru terbit pada bulan November 2017 oleh penerbit Basabasi. Sebelum tulisan ini mambangun keseriusan, saya ingin membocorkan maksud dan tujuan dari tulisan ini.

Pertama: isi dari tulisan ini sepenuhnya adalah sampah dari kepala saya. Baik sampah organik maupun anorganik. Yang saya maksud sampah organik (mudah busuk) adalah diri saya sendiri, sampah anorganik (tidak mudah busuk)adalah Daruz Armedian. Sebagai sampah organik, setiap saat saya selalu enggan abai menulis diri saya baik dalam puisi dan cerpen. Sedang Daruz yang sebagai sampah anorganik begitu sulit dan cendrung menolak ketika saya hendak masukkan ke dalam tulisan. Mungkin Daruz akan selamanya menjadi begitu dalam kepada saya, artinya ia akan tetap hadir bahkan dalam keadaan tidak punya maksud dan tidak mau melakukan apa-apa. Seolah ia sengaja dicipta dalam kepala tugasnya hanya untuk berdiam saja. Begitulah!

Kedua: saya menulis ini sepenuhnya murni untuk Daruz Armedian bukan untuk siapa-siapa bahkan bukan untuk media mana pun. Karena saya tidak sedang membutuhkan uang, ini adalah murni tulisan hiburan di tengah-tengah kesibukan teman-teman Komunitas Kutub yang sedang sibuk meresensi buku ini, saya tengah berusaha membunuh kesempatan saya untuk meresensi.

Ketiga: saya menulis tulisan ini bukan untuk menilai, tetapi untuk mengingat seberapa besar dan seberapa canggih ingatan saya sewaktu berproses bersama Daruz Armedian. Karena beberapa saat sebelum saya memulai tulisan ini ada banyak pembaca Sifat Baik Daun menanyakan kepada penulisnya, salah satunya; Kak, apakah enak jadi penulis? Dan sialnya penulis menyuruh saya untuk menajawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang dengan seketika berubah menjadi penjajah di hadapan saya. Pertanyaan itu lahir di halaman komentar status Facebook terbarunya Daruz. Sebuah komentar dari akun Facebook perempuan yang namanya begitu rumit untuk saya eja. Mungkin nama perempuan itu terbuat dari bahasa kekinian. Entahlah! Intinya saya malas untuk menyebut namanya di sini.

Keempat: saya berusaha menyusun tulisan yang terbuat dari campuran poin pertama sampai poin ketiga dan mungkin bisa lebih dan bisa kurang. Silakan dibaca saja. Sebuah tulisan yang sengaja dibiarkan mengalir. Sebagaimana ingatan membawa saya ke mana-mana juga ke nama-nama. Mungkin akan mudah dicerna dan sebaliknya.

Daruz Armedian nama penulis ini, lelaki kelahiran Tuban. Teman-teman Kutub biasa memanggilanya Bolue. Saya tidak bisa ngasih pertanggungjawaban di sini, kenapa dia bisa dipanggil seperti itu. Karena sewaktu pertama saya sampai di Kutub, dia sudah dipanggil begitu. Saat saya pertama berjumpa dengannya dia sudah setahun lamanya bergerilya di Jogja. Tulisan-tulisannya sudah dimuat di mana-mana. Dan, waktu itu dia sudah resmi menjadi mantan penjual koran, sedang saya masih menjadi calon penjual koran. Sebuah identitas yang biasa dipakai untuk membedakan mana yang sudah murni dan pantas menyandang sebutan senior dan junior dalam komunitas ini.

Daruz adalah manusia paling mudah diakrabi setelah Ridhafi yang kehidupannya dipenuhi oleh puisi ber-api-api. Tetapi kali ini saya sedang tidak mau membahas Ridhafi, maka dengan cepat saya kembali pada Daruz. Dan membiarkan nama Ridhafi berdiri di sini, membangun tubuhnya sendiri.

Selain mudah diakrabi, Daruz selalu tepat janji, baik pada dirinya sendiri ataupun pada orang lain. Keingin untuk menjadi penulis selalu dia ungkapkan ke sana-sini. Selalu dia suarakan ke orang lain, mungkin dengan melakukan itu semangat menulisnya makin menggila dan kemudahan untuk mewujudkan keinginannya itu barangkali juga muncul dari sana.

Daruz sadar sejak awal bahwa orang yang menjadi penulis adalah mereka yang kalau dalam istilah guyonan Gus Muh “mereka yang punya nyali menabung segala bentuk penderitaan-penderitaan”. Dia menjauhkan waktunya untuk bermain-main kecuali bermain-main dalam kesendiriannya yang beribu-ribu bayangan selalu diundang ke dalam lamunan dan pikirannya, sebagai upaya pencarian dari bentuk proses penciptaan karya sastra, apakah karya sastra tersebut patut dibagi dan dibaca bagi semua orang atau berakhir menjadi naskah-naskah mengenaskan yang kadang sebelum menjadi naskah, tulisan-tulisan tersebut sudah cerewet sambil bilang: hei, tolong ctrl+A kemudian pencet tombol Delete. Itulah bagian dari proses penulis yang barangkali patut dinamai dengan istilah ‘kesulitan-menjadi-penulis’.

Selain itu, yang saya suka dari Daruz adalah kebiasaan dia menulis. Dia menulis begitu ulet dan konsisten. Dia punya kebiasaan menulis sebelum tidur. Seperjaka-sejahat-sekejam dan sese yang lebih mengerikan untuk menggambarkan bentuk dari kantuk yang menyerang tubuhnya, dia tidak mungkin membiarkan tubuhnya mengenal tidur sebelum menulis. Dia juga punya kebiasaan menulis setelah bangun dari tidur. Setelah bangun dari tidur dia hanya akan melakukan aktivitas menulis dan emoh melakukan aktivitas bahkan dalam keadaan lapar sekalipun dia akan tetap menulis. Kecuali ada makanan menghampirinya, kalau dalam keadaan lapar baru dia sejenak meninggalkan kerja menulis kepada kerja ‘memakan’ atau kecuali dia kebelet pipis dan kebelet boker. Itulah dua kebiasaan Daruz yang paling saya suka dan belum dimiliki oleh teman-teman Kutub (Kutub yang sekarang) yang lain termasuk orang yang sedang menulis tulisan ini.

Daruz punya kebiasaan jalan-jalan menikmati Jogja. Biasanya dia lakukan ketika pikirannya sedang kalut dan tidak bisa sama sekali diajak kompromi untuk dipakai menulis. Maka dia biasanya mengajak saya untuk berjalan. Berjalan mengelilingi Jogja sampai kaki kami terasa bengkak, kemudian tidur di sembarang tempat. Selain itu, ketika sedang kalut, dia punya kebiasaan memetik gitar. Saya benci ketika harus melihat dan mendengar permainan gitar darinya. Karena hanya dalam bermain gitarlah saya merasa kalah padanya.

Sekarang Daruz dan saya ingin mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada orang-orang yang sengaja atau tidak sengaja menjatuhkan uang receh seratusan, dua ratusan, lima ratusan di jalan raya. Kami berdua, ditambah Moh Ali Tsabit, Al Farisi, Khairur rosikin, Cecep Pengacau, Umam Toyya, Alfa Le-Hyang, mengucapkan terima kasih tiada berhingga, uang receh itu telah menyelamatkan hidup kami dari serangan kelaparan yang mematikan. Kami memang punya kebiasaan memungut atau mencari uang receh sepanjang jalan Parangtritis jika di antara kami semua tidak ada yang punya uang. Terima kasih.

Rasa terima kasih kedua, saya ucapkan untuk siapa pun orang-orang yang membuang puntung rokok dalam keadaan masih panjang di sepanjang jalan raya yang sama seperti yang sudah saya katakan barusan. Terima kasih puntung rokok Anda-anda, Tuan-puan, begitu menginspirasi bagi hidup kami. Bibir-bibir gelisah telah berhasil Anda-Anda ajari untuk mengucap syukur kepada Ilahi. Dan dari puntung rokok itulah jiwa-jiwa puisi menari-nari dalam jantung kami.

Semoga Anda yang sudah membaca tulisan ini tidak kecewa, sebab saya sengaja untuk tidak memboongkar apa pun mengenai buku Sifat Baiak Daun kecuali proses kreatif penulisnya. Andalah yang lebih layak menilai, sesungguhnya! — Sifat Baik Daun

Baca juga : Mahar Pohon-Pohon

Selasa dini hari, 21 November 2017, Yogyakarta.

Sengat Ibrahim: hidup menjadi seorang lelaki yang hanya bekerja sebagai pengisap rokok linting. Ia merasa terlalu banyak memiliki waktu luang, maka ia menulis! silahkan kunjungi tulisan-tulisan hiburan mengenai perjalanannya di jogja di medium: @dialogbolong

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Sarijan berkata:

    podo karo kakange.. podo2 nguasaine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.