Kopi Selanjutnya

tubanjogja.orgKopi

Oleh Joko Gembili*

              Masih begitu jelas ingatanmu meskipun waktu berusaha menghapusnya. Kau terdiam meliat dua orang tergeletak tak bernyawa. Hingga darah itu sudah tidak lagi mengalir dari lubang kecil yang kau buat. Kau masih diam. Jari-jarimu akan terus keluar darah. Akan seperti itu ketika sudah berada tepat di atas alat tulismu.

              Kakimu masih seperti lima jam yang lalu. Posisi dudukmu hanya bergeser beberapa senti saja. Hanya saja kopi murahmu sudah mulai terlihat ampasnya. Rokokmu juga tinggal beberapa batang. Masih belum muncul ide. Kau buang pandanganmu ke luar. Kau melihat seorang ibu mengendong anak kecil. Kau alihkan lagi pandanganmu. Ada wanita dan lelaki duduk saling berhadapan. Kau tahu kalau lelaki itu sudah lama berada di situ. Kau sempat mengira lelaki itu seorang perokok berat. Sebelum wanita di depannya datang, kau melihatnya beberapa kali dia menyalakan rokok. Tapi setelah wanita itu datang, bahkan kau tak melihat bungkus rokok di mejanya. Ah. Hanya itu batinmu.

            Terlalu lama kau mencari ide yang menarik, sampai-sampai tak sadar, suatu ide harus dituliskan, bukan hanya dipiikirkan lalu kau lupakan lagi. Pandanganmu berlarian, melihat pelayan gendut yang sedang membersikan kukunya. Melihat pemuda yang sendang membicarakan sesuatu, tapi yang jelas kau tak mendengarnya. Kau hanya melihat mulut-mulut mereka yang terus terbuka dan tertutup.

            Kau pernah berkata pada seseorang. Tujuanmu ingin menjadi penulis supaya bisa menulis semua kisah tentang hidupmu yang suram. Jika saja cerita itu ditulis, kau yakin akan banyak yang suka. Tapi setelah kau bisa menulis—atau katakanlah menjadi penulis yang karyamu beberapa ada yang dimuat di media dan beberapa menjadi tumpukan file yang memenuhi laptopmu—kau tak juga menuliskan kisah hidupmu. Sebenarnya kau ingin, tapi entah. Sampai saat ini blum juga. Kau lebih banyak mengarang. Membual.

Kopi

Ilustrasi dicangkok dari lpmarena.com

            Seorang wanita yang terlihat lebih tua darimu berjalan mendekatimu membawa secangkir kopi. Mungkin kopi itu lebih mahal dari milikmu. Wanita itu menawarkan diri untuk duduk satu meja denganmu. Kau mempersilakannya. Siapa yang akan menolak wanita cantik yang ingin duduk satu meja dengannya. Tidak, kecuali orang itu ada kelainan, batinmu. Tiga puluh menit yang lalu, kalian berkenalan, saling menukar nama. Kau seperti pernah mengenal nama itu. tepi entah kapan dan di mana.

            “Bisakah aku minta tolong?” katanya.

            “Iya,” jawabmu.

            “Aku ingin ke kamar mandi. Tolong jagain barangku, ya,” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

            Kau mengangguk saja. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Kau mulai memandangi layar laptopmu kembali. Hingga jenuh, lalu menutupnya.  Lamunan tentang cerita hidupmu yang ingin kau tulis sudah tak menarik untuk ditulis hari ini.

            “Tolong, jangan bilang siapa-siapa,” kata wanita itu sambil membenarkan kursi lalu duduk kembali.

            “Maksudnya?” katamu binggung.

            “Yang penting kalau ada siapa pun yang bertanya tentang aku. Mungkin kalau memang ada yang tanya kepadamu akan seperti ini: apa kau melihat sesuatu yang aneh pada wanita di hadapanmu? Jika ada pertanyaan seperti itu, tolong jawab tidak,” kata wanita itu. Kau mengangguk saja.

            “Maaf kalau aku seperti ini.”

            “Kenapa?” jawabmu.

            “Aku pengguna,” katanya sambil jarinya didekatkan ke bibir. “Tolong jangan bilang siapa-siapa,” katanya lagi pelan.

            Oh. Itukah maksudnya. Kau baru tahu, sekarang kau duduk di depan wanita cantik pengguna obat-obatan terlarang. Ini adalah ide menarik untuk ditulis. Tapi kau sudah memutuskan hari ini tidak ada tulisan. Kau kembali pura-pura meminum kopimu yang kini ampasnya sudah agak mengering. Dan dia meminum kopinya, tapi gaya minumnya sudah terlihat agak berbeda. Kau selalu mengamatinya.

            Tiba-tiba ada pertanyaan yang muncul di kepalamu tentang wanita itu, tetapi kau memutuskan untuk diam dan terus mengamatinya. Dia makhluk yang cantik. Warna kulitnya bagus. Bibir, mata, hidung, pipi, adalah pernak-pernik yang membuat wajahnya sempurna. Seperti tak asing di matamu sosok sepertinya.

            “Kau penulis?” tanyanya.

            “Bukan,” jawabmu.

            “Aku selalu ingin bercerita dengan seorang penulis.”

            “Kenapa? Bukannya kebanyakan penulis akan menuliskan apa yang sering mereka dengar?”

            “Justru itu,” jawabnya dengan muka yang sudah tak seimbang.

            “Jika seperti itu, aku bukanlah orang yang tepat sebagai pendengar ceritamu.”

            “Tidak. Aku merasa kau orang yang tepat mendengar ceritaku hari ini.”

            Kau mengangguk kecil, pertanda kalau kau tak ingin membahas apakah kau orang yang tepat mendengar ceritanya atau bukan. Terserah dia saja. Lagian waktumu cukup senggang hari ini untuk mendengarkan cerita seorang wanita yang baru saja kau kenal.

            “Aku seorang wanita yang empat kali ditingal selingkuh.”

            Wanita itu membuka ceritanya dengan kalimat yang menarik. Kau tersentak mendengarnya. Wanita secantik dia diselingkuhkan sebanyak empat kali.

            “Tunggu,” katamu. Kau beranjak dari dudukmu. Berjalan menuju kasir. Memesan kopi meskipun jelas-jelas di dompetmu tingal selembar uang.

            “Lanjutkan ceritamu,” pintamu.

            “Sudah. Tidak ada yang perlu kulanjutkan. Itu adalah awal sekaligus ending. Aku sudah menceritakan ceritaku yang amat konyol menurutmu. Tapi itulah ceritaku. Beberapa kalimat yang menunjukan bahwa aku bukan wanita cantik seperti yang kau bayangkan sejak beberapa menit lalu.”

            Kau diam. Dia juga diam. Matanya semakin menyipit. Lagaknya sudah tak tegak. Tangannya gemetar. Kau terus mengamatinya. Kau merasa tidak percaya apa yang barusan wanita itu katakan.

            “Apakah kau punya cerita yang menarik, atau yang lebih menyakitkan dari ceritaku?” tanyanya.

            “Aku tidak bisa mendongeng.”

            “Aku bukan ingin mendengarkan dongeng. Dongeng sama saja bualan. Aku hanya menanyakan apakah kau pernah mengalami kisah sepertiku. Atau kisah yang lebih menyakitkan.”

            Kopi murah pesananmu diantarkan seorang pelayan gendut. Pelayan itu melihatmu, mengerutkan pipinya yang tembem hitam. Kau membukanya. Asap tipis keluar. Aroma kopi murahan keluar bersama angin. Sesekali tak sengaja mengenai hidung seorang pengendara yang melintas.

            “Ceritaku biasa-biasa saja,” katamu, “Mungkin cocok untuk diceritakan sebelum tidur. Karena seorang akan tidur mendengarkan sebuah cerita yang isinya begitu-begitu saja. Tentang kenakalan remaja, sudah biasa. Buruknya ngeri ini, tak pas untukmu. Kemiskininan, menyedihkan. Kejahatan kelamin, terlalu jorok. Kau akan tertidur mendengarkan itu semua. Semua cerita di negeri ini seperti sinetron, selalu menang di akhri episod. Dan terkadang orang malas melihat episod terakhir.”

            “Adakah opsi lain dari cerita yang kau sebutkan? Atau mungkin, kisahmu sewaktu remaja dulu. Atau bersama kekasihmu?”

            Kau menarik napas dalam-dalam. Meminum kopimu lalu menyalakan rokok. Wanita itu kini menaruh kedua tangannya di meja. Jari-jarinya yang gemetar kini memainkan kunci motor bututmu. Sebenarnya kau malu, tapi keadaan wanita itu yang setengah sadar tidak membuatmu jadi malu.

            “Kau membuatku harus bercerita. Tapi aku tak ingin kau menggangapnya ini sebuah cerita yang menarik. Anggap saja ini sebuh donggeng.”

            Kini wanita itu menaruh kepalanya di atas tanggan yang terlipat di atas meja. Mulutmu seperti menari-nari.

            “Apa sempat kau membayangkan, kesedihan seorang anak berumur dua belas tahun yang ditinggal orangtuanya.”

            “Pasti sedih sekali,” jawab wanita itu.

            “Anak itu hanya mempunyai seorang kakak wanita, yang wanita itu juga entah kemana sekarang. Mungkin hidupnya sudah lagi tidak pahit,” sebenter kau mengaduk kopimu.”Sudah tidak ada rasannya. Ia mampu bertahan selama beberapa tahun dengan koran yang setiap pagi ia tenteng di bawah lampu merah. Terkadang juga ke pasar-pasar. Terkadang juga sambil menjajahi bus-bus antar kota. Selama beberapa tahun itu dia jalani. Sekolah sudah tidak lagi mampu ia teruskan. Jika masih bisa merasakan, rasakan cerita itu di sela-sela mabukmu.

            “Akhirnya dia menemukan seorang kakek yang perlu ia bantu. Di sudut lalulintas yang tak mampu ditembus seorang kakek, anak itu datang dengan koran yang masih utuh. Mobil melaju dengan kencang mengenainya. Tapi dia tak mati. Hanya terluka.

            “Katanya dengan berjualan koran ia bisa mencari kakaknya. Ia sudah tahu kalau kedua orangtuanya meninggal. Ia tak perlu mencarinya. Bapaknya menancapkan pisau ke perut ibunya saat sedang bertengkar di ruang tamu. Lalu dirinya sendiri lari membawa pisau dan menancapkan tepat ke uluh hati bapaknya. Keduanya meninggal, kakak wanitanya lari sampai sekarang tak pulang-pulang.

            “Berjalannya waktu, anak itu tumbuh besar. Menjadi seorang penulis yang tak pernah bisa menuliskan cerita itu. Dia hanya mampu mengarang, membual, mendonggeng.”

            “Apakah sekarang dia menjadi seorang pembual yang banyak pengemarnya?” tanya wanita itu.

            “Tidak. Dia adalah penulis yang tersus memalsukan namannya. Sulit untuk mengenalinya. Dia penulis yang masih sibuk mencari kakaknya.”

            “Pelayan,” pangil wanita itu. Dan kau berhenti sejenak.

            “Teruskan saja. Aku hanya memanggil pelayan. Kita pesan dua kopi lagi untuk melanjutkan ceritamu.”

            Pelayan gendut itu datang membawa dua cangkir kopi. Sudah tiga cangkir kopi yang kosong. Dua milikmu, satu miliknya.”

            “Minumlah, selagi belum dingin. Kau suka, kan, kopi pahit?” kata wanita itu.

            “Aku sudah terlalu lama tidak minum kopi sepahit ini.”

            “Oh. Sungguh?”

            Kau terdiam. Aroma kopi membentur hidungmu, membuatmu tak ingin melanjutkan dongengmu. Biarkan saja kopi itu yang mendongeng. Kini kau malah ingin meminumnya dan memesan yang lebih pahit.

            “Aku hanya ingin melihatnya meminum kopi pahit lagi. Seperti dulu, dia selalu menghabiskan kopi bapaknya. Aku yang membuat. Bapak selalu bilang kalau kopi pahit tidak perlu dikasih gula. Tadi aku bilang kalau kopi pahit tanpa gula. Sebenarnya aku ingin membuatnya sendiri, tapi kata pelayan itu pelanggan tidak boleh masuk dapur. Mungkin karena lagakku yang sempoyongan. Jadi terpaksa aku hanya memesannya.”[]

*Bocah pengatar kopi, di sebuah kedai Jl. Surowajan.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Desember 10, 2017

    […] Juga : Kopi Selanjutnya dan Bintang-bintang putih […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.