Apakah al-Quran Meridai Produksi Pabrik Semen di Kerek-Tuban?

Apakah al-Quran Meridai – Biar tidak terlalu mengenakkan mereka yang sukanya instan-instan, yang sukanya pendek-pendek—termasuk sumbu—maka di sini saya ingin memulainya dari pengertian umum kapitalisme. Kenapa kapitalisme? Ya karena Pabrik Semen di Kerek-Tuban adalah salah satu wajah dari kapitalisme. Bisa dimengerti ya? Oke mari kita lakukan.

Kapitalisme itu ibarat boomerang. Boleh disebut paradoks. Kenyataan bahwa ia hanya akan melahirkan kelas buruh yang nantinya akan menghancurkan dirinya merupakan alasan mendasar mengapa demikian. Begitulah kiranya yang disebut kapitalisme secara sederhana menurut Marx.

Apakah al-Quran Meridai

Ilustrasi dipinjam dari kabarbisnis.com

Apa yang menjadikan kelas buruh tergugah untuk menghancurkan kapitalisme, padahal dialah yang melahirkan mereka? Jawabannya terletak pada kelakuan kapitalisme itu sendiri. Sejak dulu, kapitalisme terlalu fokus pada kepemilikan pribadi. Keuntungan yang mereka dapat hanya berputar di lingkaran beberapa orang saja, bahkan hanya berhenti pada satu orang.

Jika disejajarkan dengan hewan, ia tak ubahnya panda. Panda hanya mau berbagi dengan anak pertamanya. Anak-anaknya yang lain dibiarkan kering, kurus, dan bahkan mati begitu saja. Anak pertama ibaratnya beberapa orang dekatnya saja, sedangkan anak-anak lainnya ibarat para buruh dan kalangan melarat kota. Desa juga sih.

Bagaimana al-Quran merespons kapitalisme?

Dengan tetap berpegangan pada tiang kapitalisme, monopoli perputaran uang, coba kita lihat surah al-Hasyr (59) ayat 7. Coba kita baca sejenak. Coba kita luangkan waktu untuk merenunginya. Untuk membayangkan, menghadirkan gambaran nyata, bagaimana ayat tersebut dimunculkan di Madinah berkenaan dengan pembagian harta rampasan perang. Bagaimana dengan ayat itu pula, Nabi lebih memrioritaskan sahabat Muhajirin, masyarakat Makkah, ketimbang sahabat Ansar, masyarakat Madinah.

Apa pasal? Sebab al-Quran, melalui 59: 7 salah satunya, menginginkan adanya pemerataan ekonomi. Sahabat Ansar kala itu boleh disebut perekonomiannya baik, sedangkan sahabat Muhajirin sebaliknya. Selain mendapatkan arahan dari al-Quran, Nabi sendiri menyadari itu. Walhasil dibagilah harta rampasan yang didapat dengan lebih memihak pada masyarakat Muhajirin.

Apakah keputusan yang seolah timpang di muka tidak mengundang apa pun? Jelas tidak. Di waktu yang sama pula, saat pembagian, banyak sahabat Ansar yang bermandikan keluh. Situasi panas. Salah satunya yang dengan gagah berani meneriakkan ketidaknyamanannya adalah sahabat dari suku pinggiran di Madinah—yang pada masa selanjutnya memuncak menjadi suatu gerakan yang disebut khawarij. Dia bilang, “Adillah wahai Muhammad!” sembari menuding Nabi dengan tangan kanannya dan alis yang agak geser mendekat. Dengan penuh keyakinan, Nabi menjawab, “Jika tidak aku, siapa lagi yang bisa adil?” semua terdiam.

Dari narasi barusan, aku kepo, bayangan apa yang tiba-tiba muncul di kepala kalian? Pemihakan! Tepat sekali. Satu poin yang perlu kita garisbawahi di sini adalah bahwa dalam merespons kondisi semacam ini, ketimpangan ekonomi, kita wajib memihak. Saya ulangi lagi, “wajib memihak!”. Bagaimana dengan anjuran buat kita untuk berlaku objektif? Itu hal lain. Kalau soal memilih warung kopi untuk mabar antara blandongan kah, kopas kah, atau joglo, bolehlah kita berlagak objektif. Tapi untuk ini, beda!

Al-Quran tidak Meridai Pabrik Semen di Kerek-Tuban

Mempertimbangkan dua poin di atas, al-Quran tidak menginginkan perputaran kekayaan di kalangan orang-orang kaya saja dan pemihakan Nabi terhadap sahabat Muhajirin, kiranya tidak terlalu berlebihan jika saya sebut bahwa adanya pabrik semen—dilihat dari perspektif ayat ini—tidak diridai al-Quran. Kenapa? karena perputaran kekayaan yang ada tidaklah merata. Buktinya, sampai sekarang Tuban masih kerasan berada di ruang sepuluh besar kabupaten termiskin se-Jawa Timur (berdasarkan survei BPS Jawa Timur tertanggal 2 Juni 2017). Kendati pun kemiskinan di Kerek tidak separah Soko atau pun Plumpang, saya rasa tetap saja itu tidak bisa membuat orang berkata “mending”.

Satu lagi yang membuatku susah move on dari kesimpulan di muka adalah tiadanya sosok yang dengan tegas berani melakukan pemihakan layaknya Nabi sebagaimana cerita di atas. Jika semisal yang menjadikan Nabi Muhammad berani “memihak” adalah posisinya sebagai pemimpin, lantas bagaimana pemimpin kita di Tuban? Sebetulnya, wegah juga untuk menyejajarkan keduanya (takut kalau ada yang nyinyir begini, “Lha, itu kan level Nabi. Level kita, ya mana mungkin.”). Tapi mengetahui jargon mutlak nang mulia kabupaten Tuban yang diusung periode ini adalah “Tuban Bumi Wali”, saya jadi berpiki ulang. Dan akhirnya mengangguk sendiri, “Iya, ya, harusnya momentumnya pas: pemimpin kita, selain Bupati, beliau juga toh kiai. Iya kan?”

Dengan ungkapan lain, kesimpulan bahwa “al-Quran tidak meridai Pabrik Semen di Kerek-Tuban” itu tidaklah mutlak. Predikat tersebut sangat bisa bergeser menjadi “Kerek sebagai Baldah Tayyibah berkat Pabrik Semen” ketika memang ada sosok yang berani melakukan pemihakan. Pun, berani secara tegas dituding oleh beberapa pihak yang merasa dirugikan. Kalau pada masa Nabi penudingan dilakukan dengan tangan, maka yang bersangkutan harus siap sama sekali—ya memang resiko—dituding dengan yang tidak tangan. Heuheu, apa itu? Entahlah.

Apakah cuma pemimpin yang dikenai kewajiban memihak? Hmm, sementara ini iya. Tapi sebetulnya tidak.

 

Saifullah Muhammad

Sering mempertanyakan, "Apa iya manusia selalu membutuhkan nilai untuk hidup?"

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Desember 5, 2017

    […] yang namanya “Mliwang”? Semoga tau! Mliwang saat ini terhimpit di antara dua raksasa asap, Holcim dan Semen Indonesia. Pun, konon tanah di sekelilingnya sudah sold out. Adakah gambaran di benak njenengan bapak? […]

  2. Desember 6, 2017

    […] juga : Apakah al-Quran Meridai Produksi Pabrik Semen di […]

  3. Desember 6, 2017

    […] Baca juga : Apakah al Quran Meridai Pabrik Semen di Tuban? […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.