Puisi Daruz Armedian: Seperti Mereka, al, Kita ini Siapa?

tubanjogja.org – seperti mereka

Oleh: Daruz Armedian

Seperti Mereka

Daruz Armedian

seperti mereka, al,  kita ini siapa?

 

orang-orang menapaki waktu

dan waktu tak pernah bertanya

kenapa mereka hadir di dunia

 

seperti mereka, al, kita ini siapa?

hidup di tengah-tengah waktu

tapi tak pernah bertanya

kenapa harus ada waktu?

 

orang-orang mengaku diri

mengaku ada di ruang ini

tapi adakah ruang setuju

kenapa harus ada mereka di situ?

 

seperti mereka, al, kita ini siapa?

setapak-setapak jalan ditempuh

makin jauh

tapi jalan tetap tumbuh

memanjang dan akan terus bercabang

 

sementara kita bisu

sebagaimana waktu

tak pernah bertanya

kenapa ruang butuh waktu butuh kita

dan kita butuh keduanya?

2015

 

aku ingin membangun jembatan dari pohon rindu

 

terasa ada sungai yang membelah

dan kita masing-masing tengadah

cucuran doa, deraian air mata

mengalir di tepi sana

pertemuan adalah jalan panjang tak terselesaikan

berliku, serumit permainan waktu

 

aku ingin membangun jembatan dari pohon rindu

pohon yang tak mempan dicabik gelombang

tegar, tegarlah kau menyeberang

sebab jembatan ini lebih tajam dari mata pedang

atau aku yang ke sana

tapi harus ada kesetiaan kau emban

walau lama menunggu, walau menjadikanmu seonggok batu.

Rumahku, 2015

 

di sepanjang pantura

 

di sepanjang pantura, dalam bis kota

menuju rumahmu, yang itu adalah rumahku

kita bersepakat; siapa paling cepat

membaca papan iklan

ialah pemenang

aku lihat mulutmu yang angkuh pada kesedihan

membaca satu per satu, pandanganmu ke sini ke situ

aku tak hendak bicara apa-apa, sebab celotehmu

seperti mengajakku untuk senantiasa mengabadikan momen ini

momen di mana luka tak punya ruang lagi

 

kau salah tingkah, atau mungkin lelah?

kepalamu  kini bersandar di pundaku

harum rambutmu kini kuciumi

akhirnya, seperti biasa, kau bertanya juga soal perpisahan

 

di sepanjang pantura, biarlah debu-debu berterbangan

toh, kita masih di sini, bergandengan tangan

Tuban, 2015

Baca juga: Puisi Daruz Armedian, Senandika Pecinta, Sajak-Sajak Daruz Armedian

 

 

keroncong murcakle

—kepada segala yang pernah dilahirkan di dunia

 

sungguh, adakah kemerdekaan

jika penindasan adalah fakta dan

ketidakadilan menjadi kebiasaan?

 

di sini, tempat di mana persatuan tak bergema lagi

aku memandang orang-orang tiran

seperti daun-daun gugur, satu per satu, kemudian hancur

dan setiap daun, tak pernah mengajari tunas untuk jujur

dan membuka mata, bahwa setiap angin punya kebebasan masing-masing

 

aku melihat semacam gelagat

manusianya berjalan cepat, mencari kebahagiaan sendiri-sendiri

tanpa menengok belakang, yang lain sedang di tempat

sedang bersusah payah melepas dari berbagai jerat

 

sungguh, benar adakah kesejahteraan bumi nusantara

jika hedonisme dilumrahkan, dan kapitalisme diabadikan?

 

terkadang aku seperti mendengar nyanyian-nyanyian

serupa jerit tangis yang panjang;

di sini negeri kami, tempat rakyat ditindas perih

pemerintah tak peduli

negeri kami jalang, gusti!

 

sebagaimana matahari yang tak pernah usai

menghitung waktu

nyanyian itu tak kunjung selesai

tak kunjung beranjak seperti masa lalu

 

ke arah langit yang (barangkali) marah

ku tengadah

“tuhan kami, tuhan yang merestui lahirnya bangsa ini

berikan nasib baik bagi yang hendak berubah

bagi yang hendak menggalakkan keadilan di bumi.”

 

sebab aku dengar semacam pekabar

orang baik tanpa nasib baik di tanah ini

akan dibunuh dan dibungkam!

 

Karpet Merah, Oktober 2015

 

di hadapanmu, kepenyairanku mengabu

 

di hadapanmu, kepenyairanku mengabu

aku lihat di mata itu, mata yang setia berada di bawah alismu

seperti ada orang berbisik

memanggil-manggil namaku:

armedian, tak tahu lagi di mana kutaruh rindu

 

kata-kataku hancur, bahkan semasih berbentuk telur

seperti pintu, mulutku terkunci

kata-kata itu tak pernah lahir kembali

terkadang aku merasa gila sendiri

untuk apa kucabut rumput kecil tak salah

untuk apa pada langit aku tengadah

lalu menunduk kembali seperti meratapi bumi

 

sedangkan kamu, dengan segenap senyum itu

seperti menertawaiku, betapa penyair ini sangat lugu

puisi-puisinya lebih jantan dari dirinya sendiri

yang mengaku benar laki-laki

 

aku jadi geram pada matahari

kenapa juga ia tak segera tenggelam dalam lautan
biar malam datang dan aku pulang

menikmati puisi dan khayalanku:

tentang kapan kita bisa kembali ketemu

Oktober, 2015

 

pada bulan biskuit, aku memanggil sakit

 

pada bulan biskuit, bulan purnama

aku memanggil sakit, memanggil nama-nama

namamu, namamu, dan namamu

 

betapa aku ini perindu yang gagal merawat waktu

seperti gagal merawat bunga-bunga di beranda

betapa aku ini pecinta yang lupa

bahwa bumi luas ukurannya

 

sungguh jahat bulan ini

tahu kabar, hembus napas, juga detak jantungmu

tapi hanya luka bila aku bertanya,

“bulan, pekabar apa tentangnya yang kau terima?”

diam dileburkan cahaya-cahaya

menembus mataku, dengan kehampaannya

Bantul, 2015

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.