Cerpen Joko Gembili : Kado yang Ditinggal

1
Cerpen Joko Gembili : Kado yang Ditinggal
Cerpen Joko Gembili : Kado yang Ditinggal

tubanjogja.orgKado

Cerpen Joko gembili

Tentang kedatangan dan kepergian. Tentang rasa dan bukan rasa. Tentang suka dan benci. Tentang lawan dan musuh. Tentang semuanya. Tentang yang bernyawa maupun tak bernyawa. Tentang yang ada. Tentang yang tiada. Juga tentang kamu.

Cerpen Joko Gembili : Kado yang Ditinggal
Gambar di adopsi dari ternakmania.

Tapi yakinlah, malam ini yang kubahas hanya tentang kamu. Seorang yang mampu membawa tiada menjadi ada. Entah itu apa, yang jelas aku merasakan itu. Dan percayalah, ini bukan tentang hati yang sedang berbunga, atau bersedih karena cinta. Seperti burung merpati yang melihat pasangannya tergeletak karena senapan laras panjang yang tak sengaja mengenai tubuhnya. Ini bukan tentang pemuda yang jatuh cinta, lalu menuliskan sesuatu untuk calon kekasihnya.

Ini hanya pemuda yang mencoba memahami sebuah kata. Kata yang orang-orang tak terlalu memikirkannya.

Mungkin dengan perasaan berat, atau justru itu yang kamu tunggu-tunggu. Sebagai seorang adik—adik ketemu gede katamu—aku sudah melakukan tugasku, pura-pura tegar atau katakanlah biasa saja saat tanggal kepulanganmu kau beri tahu. “Siapa lagi mbakku di sini,” setelah kata itu keluar  dari mulutku, kau tersenyum saja. Aku pun juga. Malah tertawa. Meskipun itu sebuah tawa yang kupaksa.

Kini aku tahu kalimat yang harus aku pertanggung jawabkan. Aku pun bertambah takut. Tidak bisa dipungkiri kalimat itu akan membawa kesedihan yang khusus. Mungkin bagi semua orang, atau bagi sebagian orang yang hatinya sensitif. Sepertiku, yang kini selalu kalah dengan rindu. Sudahlah.

“Selamat datang”. Kalimat sakral yang nantinya muncul kalimat penyempurna, “Selamat Tinggal”. Menyedihkan, Bukan.

***

Tak sempat terbayang situasi seperti ini ada kado khusus untukku. Malam yang melelahkan bersama rombongan aliah dari Tuban. Entah harus kubawa ke mana tiga siswa yang terkapar lemas ini. Sedangkan ini menjadi tugasku. Kalimat menenangkan kupaksakan keluar dari mulutku lantaran untuk menenangkan hati guruku yang sudah lelah seharian tak rebah.

“Aku akan inapkan tiga siswa ini ke tempat temanku, Pak. Bapak tak usah khawatir. Mudah-mudahan besok bisa melanjutkan perjalanan,” ucapku kepada guruku.

Terpaksa aku harus membawa secara bergantian dengan motor butut pinjamanku ini. Tepat setengah perjalanan, aku mulai bingung. Tak mungkin orang sakit hanya kuinapkan tanpa ada pengobatan. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, bisa apa orang sepertiku ini tentang medis. Tak mugkin aku hanya menafsirkan, mengada-ngada, sakit ini itu lalu kubelikan obat sembarang. Itu akan menjadi sesuatu yang amat bodoh, bukan.

Sebenarnya Kado itu sudah lama aku dapatkan sejak pertama aku dinobatkan sebagai salah satu biang kemacetan di kota ini. Tepatnya pertama kali aku menginjak kota yang terdapat banyak candinya. Aku saja yang waktu itu masih belum mengerti kalau itu sebuah kado yang tak boleh kusia-siakan.

Sebagai perantau yang miskin, aku sering pinjam uang sepele. Ya, itu sebuah uang sepele yang kupinjam darinya lalu kubuat foto kopi tugas kuliah yang hanya memakan jumlah nominal dua ribu, lima ribu, bahkan pernah hanya seribu. Lalu sisanya kubuat makan untuk sehari. Jika dijumlah rata-rata hanya dua puluh ribu. Mungkin kalau ada sesuatu yang penting lainnya mentok lima puluh ribu. Dan itu tak pernah ia memintanya kembali, hanya saja aku punya kewajiban untuk mengembalikan.

Dia, yang kusebut Mbakku, bukan saja penyelesai masalah keuanganku yang selalu kurang. Terlalu menyedihkan kalau kusebut diri ini miskin, meskipun itu memang benar. Dia juga bisa kusebut penyelesai hati. Aku selalu minta pendapat ini itu gini gitu harus ini harus itu, meskipun aku tahu kalau ini benar dan itu salah. Aku tetap minta pendapatnya supaya hatiku semakin mantap. Mungkin karena aku telah menganggapnya sebagai Mbakku, jadi kalau tidak kulakukan rasanya selalu ada yang ganjil.

Seperti bisikan yang entah datangnya dari mana. Kukira bukan dari angin, juga bukan dari suara kenalpot yang begitu bising, apalagi suara peluit dari tukang parkir yang selalu mengarahkan motorku untuk menempati tempat parkirnya yang kosong. Kini yang seharusnya motorku melaju lurus tiba-tiba seperti dibelokkan ke arah kosannya. Dan di situlah aku baru sadar ada Mbak yang akan memecahkan masalah ini.

Lima belas menit akhirnya aku sampai di depan kosannya dengan dua siswa yang sejak aku bonceng tadi tak bicara sedikit pun. badannya begitu lemas. Bibirnya pucat. Rasa cemas semakin memuncak. Selang beberapa menit, telfonku diangkat.

Seorang perawat, kebetulan sekali. Peralatan medis yang entah itu apa namanya dikeluarkan. Kasur, selimut, teh hangat. Segala macam tanpa diminta. Aku begitu lega. Berselang satu jam tiga siswa itu sudah mulai sadar dan bisa diajak bicara. Yah, itulah Mbakku. Seorang mahasiswa keperawatan di salah satu kampus ternama di kota ini.

“Mereka baik-baik saja. Mungkin karena perjalanan jauh. Wajar saja kalau seperti ini,” katanya dengan nada yang membuatku semakin lega.

Bukan aku yang meminta, justru dia yang menawarkan supaya tiga siswa ini bermalam di tempatnya. Aku bertambah lega. Ruang enam kali empat cukup untuk kami berlima.

“Apa mereka kuat melakukan perjalanan hari ini, Mbak?”

“Aku kira kuat. Tapi alangkah baiknya jika mereka, yang sakit ini, tidak terkena AC bus dulu.”

“Trus, gimana? Masa aku bawa satu-satu ke museum.”

“Nati sama aku saja. Yang satu ini sudah cukup kuat kok.”

“Ah, jangan. Semalam sudah cukup merepotkan. Masa hari ini merepotkan lagi.”

“Tak apa. Hari ini sedang tidak ada acara.”

Kuakui hujan hari ini menambah kado itu semakin sepesial. Ketulusan yang tak mampu kugambarkan, kutuliskan, kulukiskan, bahkan kuceritakan. Tulisan ini tak seberapa, kuyakin tak seberapa dengan kenyataan yang ada.

Mungkinkah sekarang aku bisa menemukan orang sepertimu lagi. Kata hati mungkin. Tapi aku belum mendengar kata (mungkin) itu darimu.

Pagi yang remaja, aku berjanji dengannya.

“Aku ingin memberikan sebuah kado untuk Mbak.”

“Apa itu?” katamu.

“Tulisan yang intinya memahami kalimat ‘Selamat datang’.”

***

Aku memang sengaja. Kau, sebagai pembaca, pasti tak paham dengan apa yang barusan kutulis. Kau pasti mengira itu sesuatu yang biasa-biasa saja. Percayalah, itu hanya sepenggal cerita dari orang yang mampu membuatku tahu arti sesungguhnya (selamat datang).

Kau tak akan pernah mampu menaruh sedih ketika kau baru saja berjumpa kepada seseorang yang baru kau kenal. Tak akan terbayang rasa itu. Tak ada. Bukan tempatnya. Hanya rasa bahagia, atau bisa jadi biasa saja. Ada endapan pahit dan manis di situ, tapi di awal kau tak pernah mau merasakan pahit itu, karena di bayanganmu tak ada rasa pahit, pertemuan adalah kebahagiaan. Jangan katakan kepadaku (selamat datang), jika kau tak pernah mau kalimat (selamat tinggal) mengakhiri.

Tulisan yang dikhususkan.

baca Juga : Kopi Selanjutnya dan Bintang-bintang putih digenggaman

_____Cerpen Joko Gembili______

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here