Upaya Pangeran Airlangga Mengatasi Penyakit Batuk yang Dideritanya dan Mengambil Kembali Harga Dirinya yang Telah Direnggut

1
Pangeran Airlangga
Hanya Ilustrasi Belaka

tubanjogja.orgPangeran Airlangga

/1/

HAL pertama yang patut kaucermati, bahwa kisah mengenai Pangeran Airlangga yang akan kuceritakan padamu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Airlangga yang merupakan pendiri kerajaan Kahuripan,  yang memerintah sejak tahun 1009 sampai 1042 dan memiliki gelar Sri Maharaja Rakai Halu Shri Dharmawangsa Airlangga Ananta Wikramottunggadewa, yang kemudian memerintahkan seseorang bernama Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha, yang kurang lebih berisi perihal kegemilangannya saat melakukan peperangan, yang kemudian namanya diabadikan menjadi nama universitas di kawasan Timur Jawa Dwipa. Kisah mengenai Pangeran Airlangga yang akan kuceritakan adalah kisah mengenai Pangeran Airlangga yang merupakan anak dari Raja Banyusumur, yang memerintah Kerajaan Mengkudu Sepet, yang menguasai hampir sepertiga total luas wilayah Malang Selatan di masa lalu, yang tidak ada hubungannya dengan universitas manapun di belahan dunia ini.

Pangeran Airlangga
Hanya Ilustrasi Belaka

Pangeran Airlangga yang satu ini memiliki temperamen yang tinggi dan tergolong pemuda yang suka bertindak secara serampangan. Ia sanggup menghabiskan sekantung keping emas yang dibawanya hanya dalam kurun waktu sepuluh jam saat ia keluar dari kawasan kerajaan. Ia gemar berjudi sabung ayam dan hebatnya, ia tak pernah merasakan kemenangan sekalipun. Di malam hari ia akan mengunjungi rumah pelacuran, memberikan masing-masing lima belas keping emas kepada empat wanita (dua wanita mengurusi tubuh bagian atas, dua wanita mengurusi tubuh bagian bawah) dan menidurinya secara bersamaan sambil meminum tuak secara gila-gilaan.

Pagi harinya, ia pulang kembali ke kerajaan, mendapat omelan dari ayahnya sampai ayam berkokok untuk kesepuluh kalinya, kemudian ia melenggang pergi kamarnya dan tidur sampai sore tiba. Di sore hari, ia kembali keluar menuju tempat judi sabung ayam, menghabiskan sekantung emas, pergi ke tempat pelacuran. Begitulah pola hidup dari Pangeran Airlangga berulang tiap harinya. Kebiasaan biadab itu mulai dilakukan oleh Pangeran Airlangga semenjak ibunya mati beberapa minggu yang lalu, dalam sebuah kecelakaan yang tragis.

/2/

SAAT itu Kerajaan Mengkudu Sepet hendak melakukan kunjungan menuju Kerajaan Keres Legi yang menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah bagian Utara. Kunjungan itu merupakan strategi politik yang dilakukan oleh Kerajaan Mengkudu Sepet sebelum memutuskan untuk melakukan peperangan dengan Kerajaan Jambu Mbenyenyek yang menguasai wilayah Malang Utara, yang secara tidak kebetulan berbatasan langsung dengan Kerajaan Mengkudu Sepet. Konflik yang terjadi antara dua kerajaan ini berlangsung semenjak bertahun-tahun lalu, dengan alasan yang sebenarnya tak dapat dipastikan. Tapi apa pun alasannya, terkadang sebuah dendam adalah suatu hal yang diwariskan seperti sebuah sifat-sifat dalam gen kita, dan ada baiknya kita tak perlu mempertanyakan penyebab bagaimana sebuah sifat itu diwariskan dan lebih baik menerima dengan penuh rasa syukur dan menghadapinya dengan gagah jatmika seperti seorang ksatria.

Atas dasar itulah kemudian Raja Banyusumur memerintahkan beberapa kaki tangannya seperti Empu Empal Gentong dan Pati Gajah Mungkur untuk menemani istrinya— Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku— untuk melakukan kunjungan ke Kerajaan Keres Legi.  Dalam keadaan normal, perjalanan tersebut akan memakan waktu delapan hari delapan malam.

Namun nahasnya, pada malam kedua, sebuah kesialan terjadi.

Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku saat itu merasakan kebelet berak yang luar biasa. Ia memohon ijin kepada Pati Gajah Mungkur untuk berhenti sebentar.

            “Aku mau menunaikan ibadah buang air besar, Patih.”

            “Dua pengawal akan menemanimu, Ratu.“

            “Kamu gendeng, Patih!”

            “Ini demi keselamatan Gusti Ratu.”

Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku mendekati Patih Gajah Mungkur. Ia  memegang leher Patih dan kemudian melumat bibir Patih seperti seekor ular melumat tikus. Perkutut Patih Gajah Mungkur bergetar hebat. Kejadian itu membikin kaget Empu Empal Gentong dan pengawal yang lain.

            “Sekarang kamu tahu kenapa aku harus berak sendiri kan, Patih?”

            “Selamat menunaikan ibadah buang air besar, Ratu. Kami akan mengawasi dari sini.”

Dan kecelakaan tragis itu bermula dari sini.

Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku berjalan menuju semak-semak. Ia berusaha mencari tempat paling baik untuk menunaikan ibadah buang air. Sebuah tempat di mana ia dan kelaminnya dapat melakukan percakapan transendental dengan intim. Si Ratu terus bergerak semakin ke dalam sampai kemudian seekor ular menyembul dari sebuah lubang di tanah. Ratu tampak begitu ketakutan. Ia refleks berlari semakin ke dalam sambil berteriak-teriak seperti lembu yang sedang sekarat.

Sayangnya, ia lupa menyadari bahwa di hutan yang sedang dilaluinya ini terdapat jurang-jurang curam di tepinya, dan Si Ratu tanpa sengaja terperosok ke dalam jurang dan tak pernah dapat ditemukan lagi setelah itu. Para pengawal, termasuk Patih Gajah Mungkur dan Empu Empal Gentong sudah berusaha setengah mati mencari selama dua hari dan pada akhirnya menyerah karena rasa lelah yang mendera dan memutuskan kembali lagi ke Kerajaan Mengkudu Sepet.

“Ratu menghilang di semak-semak saat melakukan ibadah, Raja,” kata Patih Gajah Mungkur kepada Raja Banyusumur.

 “Apa yang kamu maksud beribadah, Patih?”

“Buang air besar, Patih.”

Raja yang murka memutuskan untuk memenggal kepala Patih Gajah Mungkur, Empu Empal Gentong, dan semua pengawal yang diutus untuk melakukan kunjungan ke Kerajaan Keres Legi. Si Raja murung selama seminggu dan mengurung dirinya di dalam kamar. Sementara Pangeran Airlangga menganggap kematian ibunya merupakan tanggung jawab dari si ayah. Ia berpikir bahwa ibunya selama ini hanya dijadikan pelumas bagi hasrat ayahnya untuk meluaskan kekuasaan. Semenjak kejadian itu, Pangeran Airlangga mulai menunjukkan perangai yang buruk dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk minum-minum tuak di tempat pelacuran dan juga gemar menghabiskan banyak kantung keping emas untuk melakukan perjudian yang tak pernah dimenangkannya.

Dan peperangan besar yang direncanakan urung terjadi.

/3/

PADA hari keduapuluh delapan semenjak kematian ibunya, Pangeran Airlangga masih meneruskan kebiasaan buruknya. Akan tetapi itu semua berubah semenjak pertemuan tak sengajanya dengan seorang pelacur bernama Wulu Kuning. Mereka bertemu di tempat pelacuran. Pangeran Airlangga saat itu begitu takjub dengan fisik yang dimiliki oleh Wulu Kuning, payudaranya bulat padat dan badannya berisi dan begitu menggairahkan. Pangeran Airlangga memutuskan untuk mengubah kebiasaannya membayar empat wanita dan memutuskan untuk membayar Wulu Kuning saja untuk menemani ia tidur malam itu. Di kamar, mereka tak banyak melakukan kegiatan ‘bersenang-senang’ dan memilih untuk menghabiskan waktu bercakap-cakap.

”Kamu sangat cantik sekali.”

“Pangeran adalah orang yang keseratus duapuluh yang bilang begitu.”

“Tapi kurasa tidak semuanya bisa tidur denganmu.”

“Semuanya tak berhasil tidur denganku, bahkan Pangeran juga termasuk yang semacam itu.”

“Aku tidak menidurimu karena sedang ingin mengobrol saja.”

“Semuanya bilang begitu selama ini, persis. Dan tahu-tahu mereka menjauh dan tak pernah mengucapkan hal tersebut lagi”

“Aku ingin menikahimu.”

“Kupikir Pangeran termasuk lelaki yang penuh dengan rasa percaya diri.”

“Tentu saja.”

Wulu Kuning bangkit dari ranjang. Ia berjalan menuju meja dan mengambil sesuatu dari dalam buntalan kain warna merah. Ia mengambil bambu seukuran pergelangan tangan dan menyodorkannya kepada Pangeran Airlangga.

“Kalau Pangeran memang sepemberani itu, aku ingin Pangeran meminum air dalam bambu ini.”

“Mengapa aku mesti takut?”

Pangeran Airlangga menyambar apa yang dipegang Wulu Kuning dan meminumnya dengan sekali tegak seperti seekor rusa kecil yang nyaris mati karena kehausan.

Kau lihat, aku sudah menghabiskannya dan tidak terjadi apa-apa.

Tentu saja apa yang dipikirkan Pangeran Airlangga adalah sebuah pikiran yang salah. Terjadi apa-apa setelah ia meminum air dalam bambu tersebut. Tenggorokannya jadi terserang gatal yang dahsyat dan membikinnya jadi lebih sering batuk-batuk. Dan yang paling buruk dari itu semua, Pangeran Airlangga jadi tak dapat berbicara.

“Kalau kau ingin menikahiku, Pangeran. Pangeran harus pergi ke Hutan Jati Peteng dan mencari tanaman bernama Lengser Serik. Setelah Pangeran berhasil menyembuhkan penyakit yang Pangeran alami, barulah Pangeran boleh datang kembali padaku dan kemudian melamarku.”    

Wulu Kuning melemparkan beberapa keping emas yang diberikan oleh Pangeran Airlangga ke ranjang lalu berjalan dan menghilang dari pandangan Pangeran Airlangga. Harga dirinya telah direnggut Wulu Kuning, Pangeran Airlangga menyadari hal tersebut dan sebagai seorang lelaki sejati, ia mesti merebut harga dirinya kembali, atau mungkin lebih tepatnya, mengembalikan suara atau kemampuan bicaranya lagi.

/4/

PANGERAN Airlangga pergi ke Hutan Lembu Peteng seorang diri. Ia berangkat dengan menaiki seekor kuda berwarna cokelat lempung pada saat bulan sudah berada tepat di atas ubun-ubunnya. Ia pergi diam-diam. Tak ada seorangpun yang mengetahui. Tidak Raja Banyusumur dan tidak pula para pengawalnya. Berbekal sebilah pedang dan sebuah obor, ia bergerak menembus Hutan Jati Peteng yang terkenal dipenuhi berbagai macam makhluk gaib yang berbahaya dan ratusan jenis tanaman beracun.

Aku adalah seorang yang pemberani, Pangeran Airlangga meyakinkan dirinya sendiri.

Ia tak takut dengan segala macam marabahaya apa pun yang mengintai dirinya dan satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara merebut kembali harga dirinya yang diambil oleh Wulu Kuning. Pangeran Airlangga harus menemukan tanaman Lengser Serik untuk kemudian mengembalikan suaranya, kembali pulang, dan melamar Wulu Kuning. Itu adalah satu-satunya jalan agar harga dirinya dapat kembali. Tak ada jalan lain.

 Tapi bagaimanapun juga, perjalanan akan menjadi sangat berat dengan penyakit batuk-batuk yang dideritanya saat ini karena bunyi gaduhnya dapat menarik perhatian jutaan makhluk gaib yang ada di Hutan Jati Peteng.

Pangeran menghentikan perjalanannya sejenak.

Ia merasa lapar.

/5/

PANGERAN Airlangga dibuat kaget saat seekor Kera Bermuka Dua tiba-tiba berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah begitu marah.

            Ketek tengik, umpat Pangeran dalam hati.

            “Apa yang kaulakukan di sini, Manusia?”

            “Uhuk, uhuk, uhuk.”

            “Jawab pertanyaanku, Anjing Buduk!”

            “Uhuk, uhuk, uhuk.”

Si Kera Bermuka Dua merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Pangeran Airlangga. Tentu saja pangeran tak memiliki maksud semacam itu. Ia ingin menjelaskan. Tapi bagaimana cara menjelaskan kalau bicara saja ia tak bisa? Apa boleh buat, kesalahpahaman yang terjadi menyebabkan Pangeran Airlangga mesti melakukan perkelahian dengan Si Kera Bermuka Dua.

Perkelahian dibuka dengan sabetan pedang Pangeran Airlangga ke bagian leher Si Kera Bermuka Dua. Tapi yang diserang oleh Pangeran hanyalah sebuah bayangan. Kera Bermuka Dua itu tiba-tiba lenyap entah ke mana. Pangeran menjadi panik.  Ia berputar-putar mencari di mana  keberadaan Kera Bermuka Dua tersebut. Tiba-tiba saja, dari arah langit, Pangeran Airlangga ditimpa begitu saja oleh si Kera Bermuka Dua. Pangeran Airlangga tak siap mendapat serangan semacam ini. Si Kera Bermuka Dua mencakar-cakar wajah Pangeran Airlangga dan kemudian menggigit leher Pangeran sampai putus dan membikin Pangeran Airlangga mati dengan cara yang mengenaskan.

/6/

PADA hari ketigapuluh dua Raja Banyusumur ditemukan mati dalam keadaan menggantung dirinya sendiri di dalam kamar. Hal ini terjadi setelah beberapa pengawalnya menemukan jasad anaknya, Pangeran Airlangga, tergeletak begitu saja di dalam kawasan Hutan Jati Peteng. Di dekat jasadnya terdapat buah Simalakuma yang terdapat bekas gigitan. Dari temuan ini, para pengawal menduga bahwa Pangeran Airlangga meninggal karena memakan buah tersebut, terserang diare, dehidrasi, dan kemudian meninggal. Banyak kisah yang beredar dari para pengelana bahwa biasanya, sebelum mengalami kematian, orang yang memakan Buah Simalakuma akan mengalami halusinasi hebat seperti seolah-olah mendapat serangan dari makhluk tertentu dan semacamnya. Ironisnya, ada satu hal yang luput dilakukan Gajah Mungkur dan kawan-kawan sebelum mereka mampus. Mereka lupa melaporkan kepada Raja Banyusumur bahwa Buah Simalakuma juga ditemukan di semak-semak dekat lokasi Ratu Sri Bhuwana Tunggal Tangga Mlaku hilang.

Tapi apa pun itu, pada akhirnya, Pangeran Airlangga tak pernah mendapatkan kembali suara dan harga dirinya yang telah direnggut, dan lebih buruk lagi, kini riwayat Kerajaan Mengkudu Sepet telah terputus. Wilayahnya pun jatuh ke tangan Kerajaan Jambu Mbenyenyek, dengan putrinya yang begitu termasyhur akan kecantikan dan kepintarannya.

Putri tersebut, asal kautahu, memiliki nama yang tak terlalu asing. Ia memiliki nama Wulu Kuning. (*)

(2017)

ARIS RAHMAN — Suka menulis, masih jomlo, lagi nyari pacar, buat cewek yang minat bisa add fbnya. Buat yang gak mau ya udah. Kumcer debutnya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive akan segera terbit tahun depan, kalau gak tahun depannya lagi, kalau gak tahun depannya lagi dan begitu seterusnya…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here