Surat Cinta untuk Para Pemuja Pabrik Semen

5
Surat Cinta untuk Para Pemuja Pabrik Semen

tubanjogja.org – Untuk para pemuja pabrik semen.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera saya sampaikan, semoga para pembaca tubanjogja.org yang budiman senantiasa berlimbah kebaikan dan kebahagiaan. Amiin. Agaknya perlu saya curhatkan kepada saudara sekalian, bahwa sebagai admin fanspage facebook tubanjogja.org, dalam dua hari ini saya kurang nyenyak tidur. Sebabnya, berkaitan dua postingan artikel soal semen dan Kerek, yang mana menerut beberapa orang menimbulkan perdebatan dan gejolak perpecahan.

Sesungguhnya respon itu bagus dan wajar. Tetapi menjadi terasa nggapleki tatkala beberapa komentar yang ada berisi cibiran dan tuduhan yang itu jauh dari maksud hati penulis dan keluarga besar Tuban Jogja. Bahwa artikel itu sungguh hanya dimaksudkan sebagai respon kondisi (sosial, ekonomi, politik dan budaya) yang kami anggap tidak baik-baik saja. Tentu itu berangkat dari pembacaan situasi dan rasa cinta penulis (Zav dkk) yang lahir, tumbuh dan dibesarkan di Kerek.

Oh ya, biar surat ini tidak berasa melankolis laiknya remaja puber yang ditolak cintanya, saya ceritakan dulu ihwal masalahnya. Dua artikel itu berjudul “Ilusi Masa Kecil;  Anak yang Tumbuh Dibesarkan di  Sekitar Pabrik Semen,” berisi kekecewaan penulis tentang kondisi Kerek yang sudah tidak ramah lingkungan. Opini itu dilandasi dari perebuhan paradigma penulis melihat kota kelahirannya, terutama setelah kuliah di Jogja. Lalu tulisan berjudul “Pangeran Berkuda Semen; Calon Menantu Idaman Emak-Emak di Kerek,” berisi kritik kebudayaan masyarakat industrial dalam kasus pengaruhnya terhadap hubungan asmara dan jodoh. Keduanya ditulis oleh Zav.

Sejauh saya memahami tulisan tersebut, sesungguhnya tidak ada masalah soal kredibilitas isi tulisan, bahwa tulisan itu memuat latar belakang masalah dan opini penulis. Hanya saja, bagi pembaca tertentu—yang bisa jadi hanya membaca sinopsis dan judul atau membaca tapi dalam kepalanya sudah berisi kepentingan, maka akan sangat tendensius dan menyebabkan bias. Tulisan itu dilabeli macam-macam tanpa adanya argumentasi, seperti “antek asing”, “anti kemajuan”, “berita hoax”, “patah hati” dan “pengangguran”. Oleh karenanya, penting bagi tim redaksi untuk memberi tanggapan.

“Antek asing” yang dimaksud adalah bahwa kami dicurigai mendukung salah satu atau beberapa pabrik semen swasta di Tuban. Sebagaiaman kita ketahui, kini di Tuban mulai akan menjamur pabrik semen dalam satu kawasan, seperti PT. Holcime, PT. Abadi Cement dan PT. Unimine Indonesia—ketiganya adalah swasta milik asing, dua terakhir dalam tahap perizinan dan pembebasan lahan—serta PT. Semen Indonesia (SI) milik pemerintah, eh 51% saja. Dikira, tulisan yang kami buat itu ditujukan sebagai propaganda untuk melawan SI dalam suasana perang sumber daya dan pasar.

Namun, tentu bukan begitu. Kami ini masih warga negara Indonesia yang nasionalis. Kami ingat betul pesan Bung Karno dalam salah satu orasinya “Inggris kita Linggis, Amerika kita Setrika.” Kata-kata itu dikumandangkan di masa perang dingin, sewaktu menghadang Nekolim (Neokolonialisme-Imperialisme), dengan upaya membentuk negara boneka Malaysia. Maksudnya adalah melaksanakan penjajahan model baru melalui negara satelit. Penjajahan model baru itu dalam bentuknya yang sekarang tentu adalah liberalisasi dengan menggelar karpet merah pada modal asing, wujudnya mulai berdiri perusahan swasta milik asing di Indonesia dan pembelian saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti SI, lewat pasar saham/modal.

Anti asing itu bagus, saya sepakat. Tapi mbok ya tepat sasaran lah kalau nuduh, misal mbok ya bilang begitu (“Antek Asing”) ke pemerintah. Lalu datanglah ke Pemda atau Istana Negara, minta pada pak Bupati atau pak Presiden untuk mengetatkan regulasi. Minta juga agar saham BUMN dan aset negara yang dikuasi asing segera dinasionalisasi, contohnya Freeport. Eh, siapa tau kalau ada gejolak isu nasionalisasi PT. Freeport Indonesia, Trump sakit kepala kemudian batal mendukung Yarusalem sebagai ibu kota Israel. Kan bagus, bisa bela tanah air juga sekalian bela kemanusiaan dan saudara se-iman, insya Allah masuk surga. Amin. Tapi yakinlah, itu rumit. Sebab yang kamu lawan tidak hanya bangsa asing, tapi juga bangsa sendiri yang hendak memperkaya diri melalui hubungan bisnis.

“Anti kemajuan” maksudnya mereka beranggapan kami ini orangnya anti perkembangan zaman, anti modernitas dan terlebih anti yang berbau mesin atau industrialisasi. Hal ini tentu berbeda dengan mereka. Baginya, industrialisasi, seperti pabrik semen adalah tanda kemajuan zaman. Bagaimana tidak? Sekarang orang membuat rumah bisa pakai semen tanpa harus menebang kayu di hutan, kan meminimalisasi pembalakan. Selain itu dengan semen jalan tol bisa dibuat, gedung-gedung dibangun menjulang dan terutama dengan infrastruktur yang bagus dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Siapa tau setelah menjamurnya indutrialisasi, Tuban bisa jadi kota metropolis kayak Jakarte. Mungkin begitu pikirnya.

Sayangnya, kadang apa yang kita pikirkan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Termasuk anggapan bahwa kami ini anti kemajuan. Tidak, kami tidak begitu. Kami mendukung perkembangan zaman, kemajuan teknologi, modernisasi dan industrialisasi, terlebih jika itu memudahkan kehidupan umat manusia dan adil sifatnya.

Negara kita harus maju dan itu dapat terwujud salah satunya dengan tekhnologi dan meningkatkan produktifitas melalui industrialisasi. Namun selama ini yang terjadi tidak demikian, kita tidak sedang membangun teknologi dan industri. Kita hanya menjadi pasar dari teknologi yang diproduksi negara lain dan Industri yang sedang berjalan pun tidak lain adalah kepunyaan orang asing yang dipindah tempatkan di Indonesia. Tepatnya, kita hanya menyediakan sumberdaya, tenaga kerja dan pasar. Sedangkan, nilai lebih dari industrialisasi itu kembali pada pemilik modal.

Jadi bigini; mbok ya mari dipikir dulu, jangan parsial menilai sesuatu. Bahwa apa-apa yang berbau mesin, indutrialisasi dan gemerlap dunia selalu erat kaitannya dengan kemajuan dan kebaikan. Kadang tidak selalu begitu. Bacalah kembali artikel Zav soal kisah cinta yang tak direstui, dalam tulisan berjudul “Pangeran Berkuda Semen”. Disitu, akan dapat anda temukan kontradiksi antara industrialisasi dan kemajuan; bahwa dalam dimensi kesadaran justru mengalami kemunduran. Hal yang nampak adalah munculnya kesadaran materialistik yang mengancam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Cinta industrialisasi sebagai wujud kemajuan zaman guna memudahkan kehidupan umat manusia, bagus. Saya sepakat. Tapi mbok ya jangan cinta buta begitu. Toh selama ini, industrialisasi yang dijalankan di Tuban tidak banyak memberi manfaat dibanding mudhorot yang didapat; Tuban kabupaten termiskin nomor lima di Jawa Timur, ekosistem terancam dan kesejahteraan masyarakat yang diimpikan tidak pernah terwujud (adil dan merata).

“Berita hoax”, komentator yang demikian ini saya fikir memang perlu diruwat. Ia tidak bisa membedakan mana tulisan jenis berita, mana artikel, esai dan opini, segala bentuk tulisan selalu diklaim sebagai berita. Tapi saya mengerti penderitaanmu saudara, beranda facebook kita memang banyak dipenuhi tulisan-tulisan sampah, kalau gak aksi bela Islam, ya bela ulama dan penyeru kebencian (SARA). Namun tidak semua jenis tulisan yang terbaca menyanyat perasaan adalah palsu alias hoax, makanya jangan percaya sama penjual surga lewat anjuran Like dan Share, nanti justru takutnya kamu masuk neraka, sebab cinta kasih Tuhan tidaklah transaksional (jual beli ketik amiiin). Coba renungkan lagi, jangan juga sering-sering baca berita asusila, kecelakaan lalu lintas dan berita yang ada gambar pejabatnya, nanti kamu gak bisa membedakan mana siang mana sore.

Terakhir tuduhan “patah hati” dan “pengangguran”. Bagi yang berfikir demikian, saya rasa hidupmu terlalu pedih dan gersang. Perbanyaklah ngopi di lingkungan yang sehat.

Demikian surat redaksi ini kami buat sepenuh hati. Adapun kurang dan lebihnya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. We love you, gengs

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ttd. Redaksi tubanjogja.org

5 KOMENTAR

  1. Terima kasih kak aku tercerahkan saya hanya baca judulnya saja kemaren kak , setelah saya baca semua alhamdulillah bagus aku suka baca di tubanjogja.org kak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here