Antara Abdurrahman Wahid, Pemerataan Ekonomi Masyarakat, dan “Gus”

3
foto gusdur
foto gusdur

Wahid – Berbicara Abdurrahman Wahid—sebagaimana diulas Nasr Hamid Abu Zayd—rasanya kita tidak akan jauh-jauh dari dua kata kunci. Paling tidak. Yaitu kemanusiaan (humanitarianism) dan dinamisasi. Pertama berjumbuh dengan toleransi dan keseimbangan sosial. Pada bagian ini, beliau menegaskan jika salah satu prinsip mendasar dalam Islam adalah kemanusiaan. Soal fikih misalnya, mengapa harus ada banyak sekali proses untuk sampai padanya adalah murni demi kemanusiaan. Demi keseimbangan sosial. Demi kemaslahahatan masyarakat. Dan semacamnya.

Namun, lanjut beliau, dewasa ini kita justru kerap terjebak pada ranah permukaan. Ranah kulit. Ranah legal semata. Seolah kita lupa—atau memang sengaja lupa yang entah kenapa—jika di balik wujud legal formal, tersimpan di dalamnya spirit kemanusiaan. Magza jika meminjam bahasanya Nasr Hamid Abu Zayd.

Soal keharusan zakat bagi yang kaya atau sebut saja CSR (Corporate Social Responsibility) bagi perusahaan tertentu misalnya, ia ada bukan semata sebagai kewajiban yang hampa makna. Yang akan begitu saja selesai ketika pihak bersangkutan usai mengeluarkannya. Tidak. Sama sekali tidak. Ia murni dimunculkan oleh al-Quran—yang kemudian disaring menjadi fikih—demi pemerataan ekonomi di masyarakat. Dengan demikian, ketika masyarakat di sekitar orang kaya atau perusahaan tadi masih saja mengalami ketimpangan ekonomi yang tajam, kita tidak bisa menyebut kalau kewajiban mereka gugur.

Apa yang menjadikan kebanyakan dari kita melulu terjebak dalam pola pikir bungkus sehingga mengabaikan yang lebih inti? Wahid tidak banyak bicara soal ini, tapi biarkan saya menebak. Bagiku, sebetulnya pilihan di muka tidak saja soal konstruksi media atau kebiasaan sejak kecil. Namun, kepentingan sisi hewan kita sendiri sebagai manusia. Dengan ungkapan lain, alasan kenapa kita lebih suka bungkus ya sebab di situlah kita lebih dienakkan. Tidak ribet. Lebih dekat dengan kepuasaan dan banyak lainnya.

baca juga: Gus Dur dalam Sebait Puisi

Soal CSR lagi umpamanya, kita bisa membayangkan kebingungan macam apa yang akan segera dihadapi direktur perusahaan ketika harus memikirkan pemerataan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Tidak bisa terbayang kan. Apalagi ketika sadar jika orang-orang yang ia pasrahi untuk menyalurkan dana CSR sungguh tidak bisa dipercaya. Dalam kondisi semacam ini, jelas sekali bahwa posisi yang paling aman buatnya adalah dengan tidak terlalu berpikir ke arah yang “fundamental”. Walhasil, bungkus deh pelampiasannya.

Ini hanya salah satu kemungkinan. Di luarnya, masih banyak lagi kemungkinan yang menjadikan kita tuna spiritual, tuna roh, dan sejenisnya. Oh iya, satu lagi: taklid. Jangan salah, mental bungkus juga bisa dipicu karena memang sebagian dari kita terbiasa melakukan ikut-ikutan secara kurang ajar. Boleh jadi, tindakan lebih mementingkan yang tampak (outer) adalah tren, sehingga siapa coba yang tidak ingin dianggap nge-tren.

Masih tentang kemanusiaan, Wahid pun sering menyuarakan tentang persamaan derajat manusia. Antara aku, tutur beliau, dia, kamu, mereka, dan siapa pula itu tidaklah berbeda. Semuanya manusia. Semuanya memiliki hak untuk dihargai, tidak dipandang timpang, dan sebagainya. Antara direktur Semen Gresik, direktur Semen Tiga Roda yang sebentar lagi muncul di Jenu, bupati, kiai, Pebisnis sayur keliling, Pebisnis servis roda jalanan, Driver colt, Driver becak, dan Ahli Parkir—untuk menyebut beberapa—murni sama.

baca juga: Pledoi dari Kerek

Bagaimana dengan praktik di lapangan? Inilah yang menjadi persoalan. Jangankan kiai ibaratnya. Kepada anaknya saja, banyak dari kita masih melihatnya lebih dibanding anak-anak yang lain, apalagi sebatas anak Pebisnis servis roda jalanan. Susah sebetulnya untuk mengatakan, tapi pada kenyataannya, beginilah yang terjadi. Kita kerap terjebak pada mitos bikinan kita sendiri. Mitos bahwa anak kiai lebih keren, lebih layak dihargai, dipuja, dan sebagainya, hingga akhirnya kita lupa kalau dirinya bukanlah apa-apa kecuali manusia biasa layaknya yang lain.

wahid

Pun, sampai lupa bahwa alasan yang paling masuk akal untuk lebih menghargai seseorang adalah terletak pada perilaku, ilmu, dan implementasinya (takwa). Sama sekali bukan lantaran keturunan, apalagi mendapati kalau dari segi perilaku, ilmu, dan implementasinya ia tidak berdaya. Kelucuan mana lagi yang kau dustakan? Andai Wahid masih bisa tertawa di penghujung 2017 ini, saya ragu beliau masih bisa melakukannya secara lepas. Mengetahui masyarakatnya masih susah untuk bisa adil dalam menghargai sesama.

Lebih menggemaskannya lagi ketika hal senada terjadi di lingkaran resmi buatan beberapa muridnya. Mereka memutuskan untuk berproses di dalamnya, menggaungkan selalu pemikiran-pemikiran Wahid. Kadang memperbaruinya. Ratusan diskusi pun berhasil dilaksanakan. Ramai juga. Tapi, kenapa masih saja ada nuansa hierarkis antara anak kiai dan non-anak kiai di dalamnya? Nuansa lebih didewakannya anak kiai ketimbang anak lain. Bukankah maksud dari humanitarianism Wahid sungguhlah egaliter? Ah entahlah. Semoga ini hanya interpretasiku. Atau halusinasi. Atau semoga juga ini adalah bentuk evolusi dari humanitarianism ala Wahid yang usai diperbarui, sehingga tentu berlandaskan pemikiran dan pertimbangan yang matang.

Adapun kedua lebih pada bidang keilmuan. Dinamisasi yang dimaksud Wahid mencakup, salah satunya, hukum Islam. Intinya, ketika ada sesuatu yang baru dan itu baik, maka penting bagi kita untuk segera menyinergikannya dengan yang lama. Kata kuncinya terletak pada tradisi dan modernitas. Untuk merespons modernitas, tradisi tidak perlu dibuang. Cukup dimodifikasi. Namun, itu bukan berarti pula bahwa kita berhenti, stagnan, di tradisi. Sebenarnya masih ingin menggambar banyak, tapi ah, sudah ngantuk. Udahan ya.

Aduh, ada satu lagi. Hampir terlewat. Anggap saja catatan sebelum tidur. Aku sengaja tidak menggunakan kata “gus” untuk menyebut anak kiai di sini, karena dalam KBBI “gus” berarti “nama panggilan untuk anak laki-laki”. Itu saja.zav 

tubanjogja.org

Baca juga: Sejarah Perbudakan di Nusanatara

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here