Puisi-Puisi Nadya Sardjo: Aku Bertanya Pada Angin Laut

1
Angin Laut
Nadya Sardjo

tubanjogja.org – Angin Laut

Oleh: Nadya Sardjo

Nyata dan Ilusi

“Hari ini langit pun ikut bersedih.
Seolah mengerti perasaanku saat ini, Dee,”
kataku sambil memandang abu-abu di atas atap rumahku.
“Apakah usia membuat lupamu semakin menjadi, Ann?
Bukankah sudah pernah kukatakan kau itu titisan dewa.
Putri Athena yang dipuja.
Wajar saja alam mengerti dirimu,”
balasmu seraya memandang abu-abu yang sama.

Hatiku tersentil.
Di-PHK dari perusahaan membuatku tak bisa
membedakan mana nyata mana ilusi.

Akhir September 2017

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Elga: Air Mata Ibu)

Aku Bertanya pada Angin Laut

Aku bertanya pada angin laut
Apakah kabar baik atau kabar duka yang datang padaku hari ini?
Aku tak mengerti mengapa cuma siksa yang kudapat
ketika detik mulai berganti
Jadi seperti ini rasanya
Tuhan mengabulkan setiap sumpah serapah yang kau gumamkan untukku

Aku menerimanya
Aku menekan tiap detak yang menjadi haram bagimu
Aku menahan butir-butur air yang selalu ingin keluar dari ujung mata
Diamlah, aku sudah kuat

Tak perlu lah menceramahiku soal luka dan sebagainya
Sedangkan kamu belum tahu rasanya dibuang dan diasingkan
Tak perlulah membanggakan diri seolah menang perang
Sedangkan kau belum pernah menentang galaxy dan seisinya
Tak perlu lah merasa paling tersakiti seolah ribuan massa
memojokkanmu di ujung jurang
Sedangkan kau tak pernah tahu bagaimana rasanya
ditinggalkan di gelap malam, sendirian

Dee, aku bingung
Aku juga lelah
Episode apalagi yang kumainkan saat ini?

2017

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Elga; Pelangi di Malam Kemarau)

Hitam

Aku kelam.
Pernahkah kamu berada di ruangan yang gelap sendirian?
Di sini gelap sekali. Tak ada apa pun di depanku. Tak ada cahaya.
Aku terus berjalan. Berjalan dan berjalan.
Datar. Semua yang kulewati hanya hitam yang datar.
Aku berhenti, sekedar berbalik. Di belakangku sama saja gelap.
Aku melangkah. Lagi.
Bahkan aku tak tahu, aku sedang menghadap ke arah mana.
Aku mulai bingung.
Aku tak tahu aku sedang membuka mata
atau menutup mata. Sama saja, cuma gelap yang kurasa.
Aku tak tahu apakah aku berdiri, jongkok atau terlentang.
Tanganku bahkan tak bisa kugerakkan.
Aku tak bisa mendengar deru napasku sendiri. Di sini sunyi.
Bahkan aku juga tak tahu, ini hidup atau mati?

Kota itu masih sama. Seperti lima tahun yang lalu.
Hanya saja ada tambahan di beberapa bagian.
Aku masih bisa mencium angin yang sama,
debu yang sama, bahkan udara dan embun yang sama.
Aku menapaki tiap-tiap yang menjadi bagian dari masa laluku.
Entah mengapa, air mataku mengalir begitu saja.
Aku melihat bayangan diriku bersepeda menuju sekolah,
berdiam diri di perpus umum, memutari alun-alun sampai lelah,
juga kenangan-kenangan lainnya.

Aku bertemu mereka yang merindukanku.
Air mata tumpah lagi. Entah mengapa ternyata
kerinduan mampu menyesakkan paru-paru
dan bermetabolisme menjadi air mata.

Ah, Kota Bayu. Lima tahun tak pernah berlalu dari imajiku.
Bisakah kau doakan aku sukses dan kembali padamu dengan bangga?

2017

(Baca juga: Gus Dur dalam Sebait Puisi)

Aku Melihatku.

Aku melihatku.
Aku mendekapku.
Seorang perempuan berkulit sawo matang yang tengah memandan mendungnya malam.
Mata tajamnya menerawang bintang-bintang yang sembunyi. Jauh.
“Aku tertipu,” hati kecilnya menggumam.
“Ah bukan, tapi aku yang menipu diri sendiri. Mulai membuka hati, lalu tersakiti. Bukan salahnya, tapi aku. Aku yang terlanjur membuka benteng dan menaruh harap tinggi padanya,” mulut dan otaknya tak sinkron.

Wanita malang.
Selalu terkecewakan atas pilihan yang salah. Dan kembali pada semula. Menbentengi hati.

Duh malam yang mulai mengelam. Malam yang sebentar lagi raya. Tenangkan hati wanita ini dan katakan bahwa Allah memeluknya.

Baturetno, Juni 2017

(Baca juga: Agama dalam Sebait Puisi)

Nadya Sardjo, penulis kelahiran Tuban ini sudah beberapa kali menulis di Wattpad.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here