Puisi-Puisi Naide Emra: Tahun Baru Pada Masa-Masa yang Menua

3
Tahun Baru Jogja
Ilustrasi gambar diambil dari rakyatku.com

tubanjogja.orgTahun Baru

Oleh: Naide Emra

Tahun Baru #1

tanggal-tanggal bertanggalan
meniru jarum jam patah tadi malam
maka cepat-cepat ingin kutuntaskan perjamuan ini
sebab musim menandai
: ada sepotong bulan dari balik cangkirmu
cepat pulang, ibu sudah kenyang rindu

angka-angka berteriak parau
dari kalender yang menggantung di tanah rantau
mataku kabut jantungku denyut
aku tak sampai pada sesuatu
yang bernama tanah kelahiran
sebab tiba-tiba impian terasa merajam

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Elga; Air Mata Ibu)

Tahun Baru #2

demi kloset yang telah rusak parah
dan busuk menumpuk tumpah ruah
pikiranku gamang memutar kenangan
dan terlalu sakral menyucikan sajak-sajak kerinduan

ah, tahun baru ini aku kosong
yang melintas pada pandangan hanya coretan nakal
serupa kereta kuda kawin di lorong-lorong

bukankah ini hari libur?
tanya ubin pada dinding-dinding
ya, (aku yang menjawab) ini memang libur
tapi sama seperti kutukan, aku tak bisa pulang

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Sardjo; Aku Bertanya Pada Angin Laut)

Tahun Baru #3

Bahwa kenangan bukan semacam dandelion
Atau bunga-bunga ilalang
Yang bisa diterbangkan begitu saja
Lewat angin sakal dan gerimis riwis

Tidak. Tidak. Kenangan berupa manis pahit asam dalam lika-liku sesuatu yang bernama perjalanan bukanlah sebatas kertas-kertas berisikan omong kosong. Melainkan cermin pada hati yang barangkali tatkala melangkah ke depan butuh menengok ke belakang. Atau sekedar mengaca, siapa tahu ada yang bisa dipetik hikmahnya serupa anggur-anggur yang subur di depan beranda.

Tik tak tik tak jarum jam. Menusuk-nusuk angka yang sebenarnya sejak kemarin ingin terbang. Bukanlah asal-asalan penciptaan. Tetapi bisa jadi jelmaan sang waktu yang sebenarnya tak bisa dilukis dan diterjemahkan. Maka, tersenyumlah menjalani jalan-jalan panjang yang serasa cepat sekali berjalan. Siapa tahu ada sejarah yang mencatatmu sebagai pemenang dalam pertaruhan harapan.

Tahun baru
Sambutlah, simaklah, hadapilah
Semoga kau bertahan dalam iman

(Baca juga: Sajak-Sajak Daruz Armedian)

Tahun Baru #4

ia mengkultus pada tahun-tahun yang bulus
bukan pada tuhan yang kudus
ia menyeru pada hantu-hantu seperti dulu
hutan-hutan yang kian kemarau
bukan pada tuhan yang mahatahu

Tuhan, Kau disamakan tahun-tahun hantu-hantu hutan-hutan
adakah lipat-lipat dosa serupa terbangan debu?

(Baca juga: Senandika Pecinta, Sajak Daruz Armedian)

Naide Emra, seorang yang baru belajar menulis. Tinggal di Jogja dan menyukai kesunyian. Meskipun begitu, ia ingin tetap menyapa teman-temannya lewat akun Instagram @naide_emra

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here