Mulia Karena Ilmu?

2
candrasengkala tamansiswa
Ilustrasi gambar diambil dari nusantaranews.co

tubanjogja.org – Candrasengkala Tamansiswa

Oleh: Lev Widodo

Setiap tanggal 3 Juli keluarga Tamansiswa Yogyakarta mengadakan upacara di lapangan pendapanya. Bukan upacara bendera merah putih, melainkan upacara peringatan hari lahirnya Perguruan Tamansiswa. Lembaga pendidikan kebangsaan yang pertama di Indonesia ini lahir pada 3 Juli 1922, lebih kurang satu dasawarsa sebelum Persatuan Tamansiwa didirikan secara resmi, dan lebih dari dua dasawarsa sebelum negara Indonesia diproklamasikan.

Pada kalender Jawa, tahun 1922 Masehi bertepatan dengan tahun 1852. Berdasarkan angka tahun Jawa ini dibuatlah candrasengkala yang menandai berdirinya Perguruan Tamansiswa, yaitu lawan (2) sastra (5) ngesthi (8) mulya (1). Kronogram kalender Jawa, baik yang bertipe candrasengkala (lunar chronogram) maupun suryasengkala (solar chronogram), dimulai dengan menyebut angka tahun paling belakang menuju angka tahun paling depan.

Apa makna lawan sastra ngesthi mulya? Terjemahan kreatifnya: dengan ilmu meraih karomah. Kata sastra (Sansekerta) sengaja saya terjemahkan dengan ilmu (Arab) kerena kedua kata ini pada dasarnya merujuk bukan pada pengetahuan pada umumnya yang hanya bersifat verbal, informative, dan kognitif. Baik sastra maupun ilmu merupakan pengetahuan suci yang mendasari dan mensyaratkan hadirnya tindakan dan budi pekerti luhur. Sastra tidak bisa diceraikan dari laku sebagaimana ilmu tidak bisa dipisahkan dari amal.

Karomah adalah kata serapan dari bahasa Arab yang salah satu artinya adalah kemuliaan. Tapi, dalam bahasa Indonesia, kata ini seringkali dimaknai secara menyimpang sebagai kesaktian yang diperagakan orang suci, ulama misalnya, yang fungsi dan bentuknya hampir sama dengan mukjizat para nabi. Namun demikian, makna kata karomah yang menyimpang ini juga masih berkaitan dengan arti dasar kata tersebut. Selain membuktikan kebenaran kata-kata sang ulama, karomah juga menandakan kemuliannya, khususnya kemuliaannya dari segi budi pekerti. Dan kemulian ini, menurut candrasengkala Tamansiswa, dapat diraih dengan ilmu. Lawan sastra ngesthi mulya.

(baca juga: Tiga Soal Fundamental Pendidikan Kita)

Masalahnya, apabila memperhatikan kenyataan sehari-hari, kita menemukan fakta bahwa keberilmuan tidak selalu berbanding lurus dengan kemuliaan budi pekerti. Ada orang berilmu yang memang mulia. Dia berintegritas, sabar, rendah hati, berpikiran terbuka, dan sebagainya. Namun, di sisi lain, ada pula orang berilmu yang tidak mulia. Dia gemar berdusta, sering melakukan tindak korupsi, suka memanen hasil tanpa mau menjalani proses, tinggi hati, fanatik, dan sebagainya. Lantas, bila demikian, apakah candrasengkala Tamansiswa tidak mengandung kebenaran dan karena itu patut kita buang ke dalam keranjang sampah?

Candrasengkala Tamansiswa itu, yang merupakan bagian dari kearifan perenial (al-hikmah al-khalidiyyah), tidak salah. Memang, lawan sastra, kita ngesthi mulya. Ilmu niscaya memuliakan manusia. Lalu, mengapa ada orang berilmu yang tidak mulia?

Dalam proses belajar, menurut Ki Hadjar Dewantara, ada tiga tahap yang harus dijalani dengan sabar oleh pencari ilmu, yaitu ngerti (tahu), ngrasa (merasakan) dan nglakoni (mengamalkan). Kaum berilmu yang menjadi mulia karena ilmunya, menempuh tiga tahap belajar ini secara sabar dan konsisten.

Sebaliknya, kamu berilmu yang tidak berperilaku mulia, hanya menempuh tahap pertama dari tiga tahap belajar ini. Mereka hanya tahu, tetapi tidak merasakan pengetahuannya dengan hati dan tidak pula mengamalkan pengetahuan tersebut. Ilmu mereka hanya terekam di buku, paling jauh bertengger di ujung lidah atau tersimpan di otak, tetapi tidak meresap dalam lubuk dada sehingga tidak mengejawantah sebagai tindakan nyata sehari-hari.

Sebagai contoh, sebagai orang berilmu, mereka tahu bahwa amanah harus dijaga dan integritas merupakan sifat terpuji. Namun, pengetahuan ini tidak merasap dalam lubuk dada sehingga mereka tidak mengamalkannya. Nyatanya, meskipun tahu bahwa amanah harus dijaga dengan segenap integritas, mereka tetap saja memanfaatkan jabatan untuk menumpuk-numpuk kekayaan pribadi sebanyak-banyaknya.

(baca juga: Swadidik Metode Cermin; Belajar Kebijaksanaan dari Yesus)

Dengan demikian, sekadar memiliki ilmu saja sebenarnya belum cukup. Setelah memperoleh ilmu, seorang pencari ilmu perlu melangkah ke tahap belajar selanjutnya, yaitu merasakan, meresapkan, atau merenungi ilmu yang diperolehnya, kemudian sejauh kemampuannya mengamalkan ilmu tersebut dalam variasi konteks kehidupan nyata sehari-hari.

Sayangnya, sistem pendidikan kita sebagaimana terimplementasi saat ini, belum mendidik siswa untuk merasakan dan mengamalkan ilmunya. Di sekolah, kita hanya diajari untuk tahu dan belum dididik untuk merasakan dan mengamalkan pengetahuan tersebut. Buktinya, hingga sekarang, kita masih menerapkan sistem ujian nasional yang cenderung verbal dan kognitif. Lebih memprihatinkan lagi, penerapan model ujian “otak” ini disertai dengan pandangan bahwa ukuran utama keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan sekolah adalah tingginya nilai rata-rata ujian nasional para siswanya.

Karena itu, janganlah kaget bila Anda berjumpa dengan banyak sekali orang berilmu yang tidak berbudi pekerti mulia. Sesungguhnya, mereka adalah produk sistem pendidikan nasional yang kita terapkan. Kalau direnung-renungkan, musibah kebudayaan ini terjadi antara lain karena kita melupakan ajaran-ajaran Ki Hadjar. Pendidikan nasional kita durhaka terhadap bapaknya sendiri. Dalam ungkapan penyair Umbu Landu Paranggi, musibah kebudayaan yang dialami Indonesia saat ini terjadi karena kita memfosilkan gagasan Ki Hadjar.

Salah satu gagasan dan ajarannya adalah ngerti, ngrasa, nglakoni. Orang berilmu menjadi tidak mulia karena dia hanya belajar dengan otak yang berpikir, tetapi tidak belajar dengan hati yang merasakan dan tubuh yang bertindak luhur. Dampaknya, ilmu tidak membuatnya mulia. Ilmu justru menjatuhkan kemuliaannya sebagai manusia. Dia menjadi munafik, menampik kebenaran, minteri (menipu orang lain dengan ilmunya), dan keminter (sok tahu).

Pertanyaannya sekarang, mengapa dia tidak mengamalkan ilmunya? Pangkal persoalan terletak pada niat mencari ilmu. Saat mencari ilmu, hatinya tidak suci. Motif, orientasi, dan tujuannya dalam mencari ilmu tidak luhur. Senyatanya, dia mencari ilmu untuk mengejar harta, jabatan, gengsi, status sosial, dan hal-hal duniawi lainnya. Karena itu, walaupun tahu bahwa korupsi itu buruk, berbahaya, dan merusak, dia tidak menjauhi dan meninggalkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kalau menjauhi dan meninggalkan KKN, dia jelas kehilangan peluang untuk hidup kaya. Kalau dia tidak kaya, pada zaman materialisme ini, bagaimana publik mau menghormatinya?

Lagi-lagi, dalam hal ini, saya terpaksa menyebutkan kekurangan sistem pendidikan nasional kita. Selama ini sekolah-sekolah kita hanya menjalankan evaluasi produk dan proses untuk mengukur kesuksesan belajar siswa. Dua jenis evaluasi ini belum cukup untuk mewujudkan pendidikan sebagai jihad kebudayaan. Kita membutuhkan evaluasi jenis ketiga, yaitu evaluasi niat.

(baca juga: Sebelum Pendidikan (02:30-34); Cerita Konspirasi Tuhan dan Iblis untuk Adam)

Karena merupakan evaluasi internal, metode yang digunakan untuk mengevaluasi niat adalah muhasabah, mawas diri, atau introspeksi. Dengan keteladanan, pengajaran verbal, dan pembiasaan, guru mendidik siswa untuk senantiasa berintrospeksi.

Makna introspeksi adalah menelanjangi cacat cela pribadi sebelum mencari-cari cacat cela orang lain. Dengan kata lain, dalam introspeksi, kita menyalahkan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam. Manusia introspektif jelas bertindak benar tetapi dia tidak merasa benar. Dia jelas berlaku baik tetapi tidak merasa (sudah) baik. Dia pasti berpengatahuan tetapi tidak merasa tahu. Dia tentu orang yang pintar tetapi tidak merasa pintar. Dan dia berusaha keras mensucikan hatinya justru dengan tidak merasa suci. Dengan metode muhasabah ini, kesucian hati dan kelurusan niat senantiasa terjaga.

Sampai di sini, kita terbentur oleh satu masalah lagi. Pendidikan guru kita belum secara programatis mendidik guru untuk memiliki kebiasaan bermuhasabah. Kalau pun ada staf pengajar (belum pamong pendidik!) yang mendorong calon guru untuk membangun kebiasaan bermuhasabah, hal itu dilakukan secara random, spontan, aksidental, dan tak terukur.

Masalah pendidikan kita memang rumit dan kompleks. Namun demikian, secara pribadi kita berkemungkinan untuk turut serta membereskan masalah itu dengan mempelajari kembali pemikiran Ki Hadjar yang telah menjadi fosil. Lalu, sejauh kemampuan kita, pemikiran luhur itu perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan yang telah kita miliki, mari kita rasakan dengan hati dan kita ejawantahkan dengan tindakan luhur. Yakinlah, dengan cara ini, ilmu akan menjadikan kita manusia yang berbudi pekerti mulia. Dengan ilmu, kita meraih karomah. Lawan sastra ngesthi mulya.

— Candrasengkala Tamansiswa —

(baca juga: Pendidikan itu Harusnya ya Merakyat)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here