Pacarku Seorang Pelacur

1
169
Pelacur
Ilustrasi gambar diambil dari radarlombok.co.id

tubanjogja.orgPelacur

Oleh: Ikhwan Fahrudin

Cahaya lampu menyinari celah-celah ranting pohon yang rimbun. Semilir angin menemani suasana malam yang damai. Sejenak aku meninggalkan aktivitas sebagai seorang mahasiswa yang seharusya belajar di kos dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Aku keluar kos dengan keperluan yang tidak begitu amat penting: diajak pergi Dina ke suatu tempat.

Sebelumnya, aku di-SMS oleh Dina untuk menemani ke luar pada jam 19.30 WIB ke suatu tempat. Dia tidak bilang langsung kepadaku  mana tempat yang akan kami tuju malam itu. Karena dimintai tolong  oleh Dina, aku pun menyetujuinya. Maklum dia kan sahabat terbaikku. Kami berangkat sekitar jam 20.00 WIB dengan mengendarai motor milik Dina dengan aku yang memboncengya. Di tengah perjalanan, aku memberanikan diri untuk  bertanya padanya.

(baca juga: Cerita dari Gang Ndasen)

“Din, kita mau kemana sih?”

“Ada, deh. Entar tahu sendiri.”

“Ah, kamu ini pake rahasia segala, penasaran tahu!”

“Dijamin enak, deh, Don, di sana banyak cewek cantik dan seksi.”

“Yang bener kamu, Din?”

“Bener, ngapain, sih, aku bohong sama kamu?”

Beberapa menit kemudian kami pun tiba  di lokasi.

“Ayo Don masuk!”

“Ah, nggak, deh, Din, saya di luar saja,”

“Ayo, dong, masuk nggak apa-apa, kok!”

“Nggak, aku di luar saja.”

Ok, aku masuk dulu, ya, ada perlu sama teman.”

Ok.”

‘Tempat apa ini kok sepi, padahal banyak rumah yang berjejer rapi di sini,’ batinku. Aku melihat dari luar, tampak ada beberapa pria yang masuk ke rumah disambut gadis sekitar umur 20 tahun dengan menggunakan pakaian seksi. Setelah kuteliti, ternyata di sini tempat lokalisasi dengan cukup banyak PSK (Pekerja Seks Komersial).

(baca juga: Tepat Pukul 06:00)

Astagrfirullah, kenapa aku ke tempat kotor ini? Aku ingin pulang tapi Dina belum keluar dari salah satu rumah itu. Akhirnya aku tetap memutuskan untuk menunggu Dina di luar dengan perasaan sedikit gusar.

Tak lama menunggu, datang seorang cewek cantik dan seksi menghampiriku, mencoba menggodaku dengan suara manjanya.

“Lagi sendirian saja, nih, Mas?” Aku mengangguk grogi.

“Ngapain?”

“Nunggu teman.”

“Nih!” Ia menyodorkan rokok.

“Maaf. Aku nggak ngerokok. Terima kasih.”

“Payah!”

“Maaf.”

“Ayo, sama aku, Mas.”

“Maaf, aku cuma nunggu teman.”

“Aku lagi ada masalah”

“Masalah apa?”

“Memang penting buat kamu?”

Kemudian hening beberapa saat.

“Kayaknya kamu nggak brengsek.”

“Maksudnya?”

“Kan, semua cowok brengsek. Cuma kamu saja yang datang ke sini tak ngeluarin lendir.”

“Ehh, nama kamu siapa?”

“Lia Handini, panggil saja Lia. Kamu?”

Tiba-tiba ia bercerita begini:

“Ibu saya di kampung lagi sakit Tumor, harus dioperasi dan aku harus mencari uang 2,5 juta sebagai tambahan biaya untuk itu.”

Seketika itu aku langsung bergetar mendengar ceritanya. Ia melakukan ini untuk ibunya.

“Aku mau saja bantu kamu, kebetulan ada tabungan sedikit. Kamu ada nomor hape?”

“Buat?”

“Hubungi kamu. Besok ketemu lagi di sini.”

(baca juga: Perempuan Penabur Kembang di Kuburan)

***

Kami ketemuan di sebuah café. Ia bercerita banyak hal. Di situ aku mulai mengaguminya, seorang bernama Lia Handini, yang mempunyai hati tulus dan sayang ibunya. Satu cerita yang buat merinding yaitu ketika ia bilang alasan kenapa jadi pelacur, merelakan keperawanannya untuk orang lain, yaitu buat biaya berobat ibunya. Timbul getaran cinta dalam hatiku padanya, dan aku berusaha untuk mengungkapkan rasa hatiku padanya. Lia meneteskan air mata karena itu.

Dua minggu akhirnya kami berpacaran baik-baik saja tanpa ada masalah. Lia sudah mulai berhenti menjadi pelacur dan agak kurus.

Beberapa hari kemudian aku tahu kabar dari Rani, temannya, bahwa Lia adalah penderita HIV.

Ketika mendengar itu, hatiku bagai terkena petir di siang hari. Tidak aku sangka Lia mempunyai penyakit seperti itu. Kenapa dia tidak bilang padaku?

Sehari setelahnya, aku ketemu dengan Lia, langsung kutanyakan perihal penyakitnya. Dan ternyata benar, ia penderita HIV. Ia tidak bercerita padaku karena takut aku sedih.

Hari demi hari berlalu dan kondisi Lia semakin melemah, yang pada akhirnya aku membawanya ke rumah sakit.

Ternyata, selain menderita HIV/AIDS, dia juga terkena penyakit sifilis akut, soalnya neurosifilisnya udah nyebar ke sel-sel badannya, dan lama kelamaan membuat badan dia jadi lumpuh, sangat kecil kemungkinan dia bisa terselamatkan. Itu kutahu dari dokter yang merawatnya.

Detik berganti menit, menit berganti jam, aku setia menjaga dia di sampingnya. Saking lamanya aku menunggu dia siuman, aku tertidur pulas dengan tanganku yang masih memegang tangannya.  Cukup lama aku tertidur dan saat bangun, telah ada sepucuk surat di samping tanganku. Aku buru-buru membukanya.

Dear, makasih kamu udah mau jadi pendamping aku selama ini… makasih juga udah mau jadi malaikat penyelamat untuk ibu aku… andaikan kamu tahu aku punya penyakit gini, aku yakin kamu pasti kecewa terus tinggalin aku. Kamu laki-laki paling baik yang pernah aku temui. Kamu mau terima aku apa adanya…

Ternyata ketika aku tertidur, Lia menulis surat untukku sebagai ucapan selamat tinggal dan terima kasih. Dia meninggal tepat jam 12.30. Selamat tinggal, Sayang. Kamu tak akan kulupakan.

(baca juga: Bintang-Bintang Putih di Genggaman)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here