Kumpulan Puisi C. Shalom: Memoar ’17

1
memoar
Ilustrasi tahanan politik di Pulau Buru. Gambar/ Mars Nursomo. dikutib dari tirto.id

tubanjogja.orgMemoar

Oleh: C. Shalom

“Memoar Kita”

Mungkin kita perlu membukanya lagi
siapa diantara aku dan kamu yang pergi
Bukan kebahagiaan yang harus terjadi
tapi tatanan luka yang menghampiri
Ada yang mengharapkan suka
tapi duka hadir di pelupuk mata.

Memoar luka ini begitu bahagia
aku yang mencoba bertahan
dan kau yang berharap ketabahan,
Aku yakin kita diberi kekuatan
Tapi tidak untuk mempertahankan.

2017

“Kata Mati”

Hancur sudah kau!
Setelah kata-kata memperkosa pikiranmu,
Hancur sudah kau!
Setelah terpojokan keheningan,
Kau bilang “kesunyian adalah bahasa tuhan”
Tapi akhirnya kau sendiri yang mati membusuk dalam sepimu.

Sampai pula pada bab terakhir,
ketika kekosongan itu kau dengarkan dalam celoteh ombak kepada karang, batu-batuan, maupun setapak kaki yang pernah menemani perjalanan sunyimu!
Bukan daun-daun yang akan menenangkanmu,
tapi lihatlah kebelakang bayangmu yang terus menghantuimu.
Dan akhirnya

Sepi akan selalu menikammu!

2017

“Langit Tak Cerah Lagi”

Sabda sudah terlalu lama tak terurus
Tanah yang menjadikan segala urusan makmur dan sejahtera
kini sudah habis tak tersisa.

Sabda sudah terlalu lama tak digubris
Tuan tanah dengan pakaian necis
merampas semua tanah akhirnya habis,
dalihnya ingin sejahtera
tapi moncongmu penuh prahara.

:Bagai pemberi harapan, yang mengharapkan timpah ruah
tapi nyatanya hanya demi rupiah!

Hentikan!

Teriakan bocah dari timur,
Dengan semangat perjuangan
ia menenteng pacul dan capil
bukan untuk perlawanan,
tapi simbol untuk pembebasan!

:Dengan tekad yang membara
ia membawa hasil panen
bukan untuk perlawanan,
tapi bentuk kekuatan
Kepada mereka yang sekarang
tak diadili,
tak mendapatkan hak,

Diskriminasi mereka adalah orang yang terbuang!
Aku yang mengenal mereka,
Kamu yang mengenal mereka,
Kita semua yang mengenal mereka.
Dan saat ini melihat sendiri
Dan saat ini menyaksikan sendiri
Bagaimana seorang PETANI
yang terlupakan,
yang mendapatkan kelas paling rendah,
yang tak pernah mendapatkan tempat layak
untuk melanjutkan kehidupan
kini hilang ditelan harapan!
kini sirna tanpa bayang!

“Tuhan berikan aku iman yang kuat agar aku menjadi pemberontak sejati!”
Dengan demikian maka
Aku sumpahkan,
kalian yang tertawa diatas penderitaan PETANI,
kalian yang berani melebihi kehendak ilahi,
Tak lama lagi Tanah, Hasil Panen, Arit, Pacul, dan Tekad
Yang akan menjawab!

2017

“Bagian Yang Hilang”

Kematian diserukan
Peperangan ditegakan
Darah, air mata berjatuhan
Membawa ingatan dalam masa kelam.
Tak hanya 7 sahabat yang berpulang
Tak hanya
Satu nama,
Belasan nama,
Ratusan nama,
Ribuan nama,
Yang dilenyapkan
Yang dihilangkan
Yang dihapuskan
Dalam dendam yang harus terselesaikan.
Roh dan jiwa mereka mengadu
“aku tak akan membalasnya”
Hakim hanya berdiam saja,
Roh dan jiwa mereka mengadu
“ini harus terbalaskan, aku tak mau lagi anak cucuku sepertiku”
Dan sekali lagi
Hakim hanya diam dan melemparkan senyum.

Bukan siapa yang harus disalahkan,
Tapi mari mulai memaafkan!
Bukan siapa yang merasa benar,
Tapi mari menyadarkan!

Untuk mereka yang terkena imbasnya,
Untuk mereka yang terkena getahnya,
Semoga…
Dan semoga
Semangat baik selalu bersama!

2017

“Memoar Ki Hajar Dewantara”

Sedikit susah menyebutmu pahlawan bangsa
Bagaimana tidak? Aku yang terkungkung dalam
sistem pendidikan yang tak tau harus dibawa kemana.
Sedikit susah mengangkat kembali drajatmu sebagai
penyelamat pendidikan bangsa
Bagaimana tidak? Aku yang hanya menghafal
tanpa tau harus ku bawa kemana
“Tut Wuri Handayani”
Sedikit berat jika aku harus mengamalkan apa yang bapak lakukan
sampai-sampai, semua ini hanya sebagai pengingat saja.
Ya, tepat hari ini 122 hari
aku masih tak percaya jika memang
Orang miskin di larang sekolah!
Dengan berbagai macam kurikulum dengan jutaan telaah
tapi kini hilang sudah!

2017

(baca juga: Kekasihku Seorang Pelacur)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here