tubanjogja.orgMata Rindu

Oleh: Zam’sta

MATA RINDU

Selalu ada alasan bagi dada sunyi
Untuk senantiasa menyimpan rindu di pelupuk mata
Mengalamatkan setiap detik jarum jam pada angka-angka rumah

Karena rumah umpama mata cincin dari perjalanan panjang
Seperti tubuh, tempat jiwa-jiwa dierami matahari

Selalu ada yang menjadi rindu sebelum detik-detik kepulangan
Canda tawa atau saat-saat berkumpul di meja makan
Melihat ibu menghidangkan ketela rambat dan singkong

Atau ketika main layang-layang dan talinya diikatkan pada sebongkah batu di halaman rumah

Sore itu ibu menunjuk layang-layang di langit:
“Seperti layang-layang itu, kelak rumah ini adalah pengikat antara pengembaraan batinmu dan perjalanan panjangku yang disimpul kenangan dan mata-mata sembab”, ucapnya.

Selalu ada yang menjadi rindu dari serak suara-suara kasat mata
Memanggil-manggilku dengan bahasa sebening ibu.
Pulanglah!

Sumenep, 2016

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Elga; Air Mata Ibu)

MANUSIA RASA PENYAIR

Gumamku ini lirih, luruh menapaki lorong lorong kota
Pada setiap sunyi yang dirayakan
Seperti suatu kebanggaan yang dipestakan
Di-per-setan-kan tanpa meditasi

Sementara lilin-lilin dalam sukma
Melelehkan air mata
Tanpa nama kesedihan atau pun
Tanpa nama-nama kebeningan hati
Yang ditumbuhkan tirai-tirai abadi

Aku bergumam dengan lirihnya
Nyanyian-nyanyian perasaan
Dari rapuhnya penenggak air rindu dan kesunyian
Ruh-ruh compang-camping dianggap hidayah hidup
Kata-kata sebatas penunjuk jalan
Pada pasar-pasar, iklan-iklan dagang atau
Api pada perburuan dìrì sendiri

Aku buka pintu rumah-rumah kosong
Dada serupa keheningan terjajah
Kata-kata tak lagi menjadi tempat berenang kapal-kapal
Berlepas-tandang
Membelah mimpi ombak
Menyelam dan mengukur deru biru lautku

Sumenep, 2016

(Baca juga: Puisi-Puisi Daruz Armedian; Seperti Mereka, El, Kita ini Siapa?)

INSOMNIA

Adalah airmatamu yang melembabkan
Kaca jendela kamarmu
Menjelma lumut-lumut ingatan
Tetapi, entahlah!
Derap kaki siapa gerangan
Yang kau bayangkan
Di jalan berliku itu?
Membawa kabar rinai dan api

Ketika waktu tak beranjak di jantungmu
Hanya kelindan para petani
Yang memantik sawah dan padi
Kepada anak-anak dusun

Bunyi traktor dan seorang ibu
Yang memberi pakan ayam di pagi hari
—telah menjadi bahasa kesalehan dan kesahajaan
Yang pernah kita selami
Atas nama cinta

Lihatlah keringat yang mengucur di tubuhku
Bau badan yang diperam
Dari nafas segar pegunungan
Segalanya adalah bukti tulusku
Memberikan cinta ini padamu

Apakah engkau lupa pada kata-kataku
Di belakang kandang sapi sore itu,
Bahwa aku selaksa udara yang akan kau hirup
Sepanjang hayatmu.

Batuputih, 2017

(Baca juga: Puisi-Puisi Naide Emra: Tahun Baru pada Masa-Masa yang Menua)

Zam’sta, lahir di Sumenep, 07 April 1989. Adalah pecinta seni yang aktif di berbagai komunitas. Karya-karyanya dipuplikasikan di buletin, majalah, antologi bersama. Saat ini ia dan kawan-kawannya mengelola komunitas ‘Pabengkon Sastra’ di kampungnya.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here