Hilangnya Tiga Butir Telur dan Filsafat

0
Tiga butir telur dan filsafat

tubanjogja.org – Tiga Butir Telur

Oleh: Mbah Takrib

Pagi tadi, saya dibuat mengerutkan dahi oleh seorang teman yang kebetulan mampir ke rumah. Singkat cerita, setelah menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok, ia curhat perihal hilangnya tiga butir telur di tarangan. Ia juga mencurigai salah satu tetangganya yang mengambil telur tersebut.

Kecurigaan itu didasari oleh beberapa pertimbangan. Pertama, tarangan ayam temen saya itu terletak di samping (luar) rumah. Kedua, sebelum hilang, ayamnya berkokok kencang dan terdengar ada suara orang. Ketiga, tetangganya memang seringkali (menurutnya) sembarangan dalam mengambil hasil kebun di pekarangan, kadang izin kadang tidak.

Sebenarnya, saya tidak hendak menanggapi curhatan itu secara serius dengan memintanya untuk ikhlas dan positif thinking, siapa tau telur itu dimakan ular atau lainnya. Toh hanya tiga butir telur yang nilai harganya tak seberapa dibanding potensi konflik yang muncul jika dipermasalahkan berlebihan. Tapi rupanya penjelasan itu tak merubah raut wajahnya yang masih nampak jengkel. Disitu, saya sadar bahwa masalah ini tak sesederhana “harga” telur yang hilang.

(Baca juga: Filsafat dan Hal-Hal Kecil Lainnya)

Hal ini rupanya juga bukan soal kwalitas kedermawanan seseorang. Sebab saya tau sendiri pada malam tahun baru kemarin, kawan saya itu secara inisiatif menyumbang uang untuk bakaran jagung, rokok dan kopi temen-temen muda yang sedang nongkrong di depan rumah, jumlahnya lumayan.

Lalu apa yang membuatnya gagal move on  dari telur? Setidaknya ada satu alasan mendasar, yaitu: nilai.

Nilai disini maksudnya adalah keterikatan antara si pemilik dan telur, yang sifatnya sangat subyektif. Bukan nilai yang berlaku obyektif menurut standaritas harga telur di pasaran. Dalam kasus ini, saya kembali ingat pada  penjelasan salah seorang dosen, Fakhruddin Faiz, pada materi kuliyah Pengantar Filsafat semester dua di fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bahwa, sebuah benda dengan jenis, kwalitas dan merek yang sama, bisa berbeda nilai menurut setiap individu (subyek). Dimana nilai suatu barang—tidak hanya harga beli atau jual—juga dipengaruhi oleh hubungan antara subyek dengan obyek serta faktor X—yang menyebabkannya bisa lebih bernilai dibandingkan benda lain sejenis.

Beliau mencontohkan, sebuah bolpoin mungkin cuma seharga dua  ribu rupiah. Namun bisa sangat bernilai bagi seorang yang sedang jatuh cinta, bila bolpoin tersebut diberikan oleh kekasihnya, di hari jadian mereka yang sebulan dan merupakan pemberian pertama dari sang pujaan hati sambil berpesan; “Jagalah bolpoin ini, sebagaimana kamu menjagaku dan cinta kita” lalu dikasih emot :* (cium). Begitupun dengan al-Quran. Bagi seorang ateis yang tak emansipatoris, mungkin menganggap al-Quran hanya tumpukan kertas dan sekumpulan tulisan atau syair berbahasa Arab yang tidak masalah jika diinjak. Tapi tidak berlaku sebaliknya. Bagi seorang muslim yang memegang teguh al-Quran sebagai wahyu Tuhan; sumber ajaran, sistem nilai, hukum dan lainnya, tentulah bermakna suci dan agung.

(Baca juga: Filsafat Sebagai Soko Guru)

Maka wajar jika ada orang yang nampak gelisah karena kehilangan sebatang bolpoin atau seorang muslim yang murka lalu nge-like, ngetik amin dan share secara serampangan lantaran diperlihatkan video al-Quran disobek dan diinjak, tanpa mencermati kepentingan dibalik penyebaran video tersebut. Begitu juga dengan perasaan galau kehilangan tiga butir telur.  Harus dimaklumi, bahwa itu tidak sekedar soal tiga butir telur, melainkan karena nilai (subyektif) keterikatan antara pemilik dan yang dimiliki (telur)–yang mana terdapat riwayat cerita yang cukup panjang:

Bahwa temen saya itu—walaupun bukan vegetarian—adalah penyayang binatang. Ia menikmati merawat ayam-ayam. Hal yang paling disenangi dalam bertenak ayam (baginya) adalah ketika melihat telur ayamnya menetas menjadi anak-anak ayam yang unyu, (kayak kamu sayang). Dan sebagaimana wisnuisme (perawat) pada umumnya, ia akan kegirangan jikalau melihat anak-anak ayam itu tumbuh semakin besar dan nakal yang suka eek sembarangan (ini tidak mirip kamu cinta).

Jadi mari kita melihat segala sesuatu tidak hanya pada dimensi obyektif, melainkan juga dimensi subyektif; pemaknaan personalitas maupun komunalitas (ras, suku, agama dan ideologi) atas realitas/obyek.

Terakhir, pertanyaan saya adalah duluan mana antara telur dan ayam?

(Baca juga: Menunggu Pangeran Berkuda Semen; Calon Menantu Idaman Emak-Emak di Kerek-Tuban)

Tuban, 2018

 

  • Tarangan adalah sarang buatan tempat ayam bertelur.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here