Hadiah Tahun  Baru Buat Seorang Kawan: “Baju Koko di Hati, Sepatu Keky Dimaki”

0
165
Kawan
Ilustrasi gambar karya Qoida Nor

 tubanjogja.org – Untuk seorang kawan

Oleh: Ahmad Juremi

 (NHC Center)

Gemerlap kembang api di malam tahun baru serasa belum hilang. Sebenarnya, ingin saya lampiaskan suka cita itu dalam tulisan. Sebelum akhirnya, saya teringat perjumpaan dengan seorang kawan, di akhir tahun 2017 lalu.

Terkenang oleh kesan tersebut, kemudian saya langsung menyalakan Notebook untuk menulis kembali kenangan itu. Karena kepincut olah kegenitannya. Sebut saja dia itu adalah Si Gondrong, karena ia memang berambut gondrong.

Oh ya, kegenitan yang saya maksud adalah soal kepribadiannya yang dikenal ramah, humoris dan kharismatik. Begitulah kami mengenalnya; Si Gongrong yang baik hati sekaligus pengopi sejati.

(Baca juga: Pembual itu Tak Seperti Biasanya)

***

Bayak waktu telah kami habiskan bersama dari warung ke warung dan membicarakan banyak hal. Mulai dari soal pendidikan, politik, kebudayaan dan cinta. Obrolan-obrolan itu selain sebagai cara untuk menghabiskan waktu luang—agar tak sia-sia—adalah sebagai upaya untuk menghibur diri dan terus mengasah otak dalam proses belajar di gerakan mahsiswa. Sebab, walaupun berbeda kampus, kami dipertemukan dalam satu organisasi.

Cukup lama kami menjalani waktu sebagai kader gerakan, sebelum akhirnya setelah selesai berorganisasi kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya menjalankan usaha mandiri dan dia bergabung di salah satu komunitas literasi di kota kami.

Tapi kemaren, kabar terakhir yang ku dengar, tepat di akhir tahun 2017, ia sudah melaksanakan uzlah. Pirpindahan profesi, dari komunitas swadaya ke lembaga profesional di pemerintahan.  Hal ini mengingatkan saya pada tokoh-tokoh di masa lalu, sebut saja Al Ghozali, yang melalukan uzlah dari seorang intelektualis ke Sufistik. Walaulupun konteks uzlah mereka berbeda, saya doakan mudah-mudahan uzlahnya (kawan) barokah.

Untuk itulah, di momen tahun baru dan uzlah-nya itu. Saya ingin memberi hadiah berupa Baju Koko di Hati, Sepatu Keky Dimaki. “Baju Koko” itu bukan baju model Tionghoa—baju yang kerahnya bulat tertutup, model piyama dan kebanyakan warna putih—pada umumnya dan berupa fisik. Namun cukup dimaknai saja baju koko itu sebagai representasi simbolik keshalehan seseorang, sebagai ciri has muslim yang taat. Seperti itulah Si Gondrong, pemuda yang sholeh (agama dan sosial). Taat menjalankan perintah agama, baik ubudiah maupun amaliah, bentuknya: rajin sholat, puasa dan zakat serta peka terhadap permasalah sosial dan tergerak melakukan aksi perubahan, eh tapi dia tidak rajin menabung ding.. hehehe.

Sedangkan “Sepatu Keky” maksud saya juga bukan sepatu necis yang biasa dipakai kalagan hitz kekinian. Tapi adalah berupa simbol profesi baru seorang kawan yang menjadi pejabat pemerintah—yang menurut kawan yang lain; naik kelas, hehe.. selamat—dan harus pakai sepatu setiap ngantor.

Nah keduanya adalah cerminan pribadi dan karakter serta profesinya. Begitulah dia sekarang, seorang shaleh profesional, eh salah orang shaleh yang berprofesi maksudnya.

Kedua hal itu, baik-baik saja sesungguhnya (menurut saya). Tapi kemudian menghadirkan kegelisahan oleh stigma-stigma yang lahir setelah uzlah, sebab pandangan umum (orang lain) yang parsial–akibat bias dari pengalaman. Menganggap bahwa idealisme itu harus vis-avis dengan aparatur pemerintah. Sehingga dianggap tidak baik-baik saja ketika seorang yang dulunya aktivis kok tiba-tiba menjadi pejabat pemerintah.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Si gondrong, sebenarnya ia sendiri merasa tidak nyaman jika harus menerima tawaran menjadi pejabat pemerintahan. Ia juga sempat menolak. Tapi ternyata keadaan berkata lain, tak ada jalan menghindar dan profesi itu harus ia terima dengan berbagai pertimbangan. Maka jadilah ia sebagai bagian dari pemerintah.

Benar saja, stigma yang selama dikhawatirkan telah muncul sebagai gelombang badai yang menghantam jiwa Si Gondrong. Ia nampaknya risau, sebab gunjingan itu telah terdengar di telinganya. Begitu juga di telinga saya.

(Baca juga: Berita Bola Minggu Pagi)

***

Pada suatu malam yang mendung. Ketika saya sedang duduk bertiga dengan kawan lain di kos, tiba-tiba ada salah seorang kawan yang nyletuk.

“Brow kawanmu  sekarang pakai sepatu keky,” candanya sinis.

“Siapa bro?” tanyaku.

“Itu Si Gondrong, kini taraf hidupnya sudah meningkat, merangkak ke jenjang karir di pemerintahan,” pernyataannya membuat suasana menjadi hening, sempat ada jeda. Sebelum akhirnya, kami mengambil cemilan, memakan beberapa potong untuk melanjutkan obrolan kembali.

“Ya baguslah, dengan begitu medan juangnya lebih luas dan nyata”

“Sayang lah, dia kan aktivis beneran (idealis). Masak gitu, masuk ke pemerintahan, nanti sama kayak yang lain. Ko dia jadi tertarik sama jabatan ya?,” sanggahnya sembari mengulas pengalam yang sudah-sudah tentang hilangnya idealisme aktivis ketika masuk pemerintahan. Hal itu memang sering kali terjadi, dulu banyak aktivis yang garang di jalanan kemudian menjadi mlempem di kantoran. Itulah yang ia khawatirkan.

“Iya sih bung, tapi kan ndak bisa kita samakan pengalaman orang lain kepada pribadi Si Gondrong. Aku yakin dia tidak begitu.” Jawabku, menenangkan pikirannya yang kritis sinis dengan sedikit konspiratif.

“Aku kok tidak yakin ya Bung!,” sanggahnya, mengakhiri perbincangan kami sebelum berangkat ngopi.

***

Gelisah oleh obrolan kawan yang mampir ke kos itu. Saya kirim pesan kepada Si Gongrong untuk mengajaknya ngopi bareng. Seperti biasanya, ia selalu siap.

Kamipun bertemu di kedai kopi langganan. Dan ia datang dengan senyum mengembang, ‘ah dia ini memang mirip Fakhri di film Ayat-Ayat Cinta,’ pikirku.

“Gimana bung sehat,” ia menyapa.

“Sehat bung, dari mana kok sore baru bisa ngopi?”

“Dari kantor bung, stres”

“Lah kenapa bung, kan enak di kantoran, hehe”

“Apanya bung, enak ngopi. Hahaha”

“Ngopi terus kapan kerjanya bung?”

“Iya juga bung, tapi sebenarnya aku malas bung kerja begini,” jawabnya yang memulai pembicaraan kami yang serius.

“Selamat ya bung, sudah pakai sepatu keky, hahaha,” intrikku.

“Kwkwkw, iya bung, itulah kenapa saya stress. Jadi bahan gunjingan bung-bung. Sebenarnya gejelok batin bung ini. Seandainya pak Tan Malaka masih hidup, saya ingin curhat padanya bung, tentang kebobrokan sistem kita, sekaligus meminta manifesto tentang kader gerakan yang masuk pemerintahan,” keluhnya.

“Iya bung, seandanya Mahbub Djunaidi masih hidup, saya juga ingin curhat bung. Seandainya ia tahu, “rumah” yang dibangun—dari kepeduliannya terkait kondisi bangsa di waktu itu—kini sudah tidak baik-baik saja. Saya ingin cerita kalau anggota keluarga dari rumah itu, kini banyak yang sudah menghianati cita-cita gerakan. Dan keanggotaannya sebagai kader hanya dijadikan jenjang karir semata serta keluar dari laku kader ulul albab?”

“kwkwkwkw,” kamipun tertawa bersamaan, ia memang memahiku, sebagaiamana aku memahaminya.

“Tetaplah baju koko di hati, biar sepatu keky dimaki, bung…” pesanku.

Tuban, 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here