Kiriman Akhir Bulan

1
Kiriman Akhir Bulan
Ilustrasi gambar karya Qoida Nor

tubanjogja.org – Kiriman Akhir Bulan

Oleh: Daruz Armedian

‘Anakku, sudah lama bapakmu tidak mengirimi ibu sesuatu. Apakah usia telah membuatnya lupa?’

Gumam ibu pada suatu waktu di mana hujan turun lebih deras dan lebih mencekam dari biasanya. Ibu menyandarkan kepala di pundakku sebagaimana gadis patah hati menyandarkan kepala di pundak ibunya. Aku tahu, ibu pasti merindukan bapak dan aku juga tahu diriku sendiri sama begitu.

Semenjak jarang pulang ke rumah, bapak selalu mengirimi ibu apa saja. Kadang berupa surat singkat yang ditulis secara serampangan, kadang berupa gantungan kunci yang tidak jelas di mana akan digantungkan, dan kadang juga berupa uang yang cukup untuk dibelikan makanan. Kiriman itu selalu saja diantar oleh seorang lelaki muda yang kata ibu ia adalah murid bapak. Bapak di luar sana sedang sibuk mengajar. Tetapi, lelaki muda itu tidak terlalu penting untuk dibahas lebih lanjut di sini. Yang jelas, pasti ia—yang entah ada di mana—akan bersyukur jika membaca cerita ini, karena di situ ada dirinya, meski tidak kusebutkan namanya.

Ibu selalu bahagia bila menerima kiriman itu sebagaimana ia bahagia jika ada bapak di sampingnya. Kiriman itu menjadikan hari-harinya tidak kelabu. Kiriman itu menjadikan wajahnya tidak terlihat sendu. Dan tentu saja, aku juga bahagia ketika melihat kiriman itu dan melihat bagaimana cara ibu bahagia.

Aku pernah melihat ibu bahagia sekali. Waktu itu ia duduk di beranda rumah berbincang-bincang dengan bapak. Entah, aku tidak tahu apa yang mereka bahas. Yang jelas, keduanya kadang terbahak. Aku mendengar tawa bapak dan ibu dari dalam kamar ketika aku belajar. Dan ketika aku keluar ikut nimbrung, mereka diam. Kadang-kadang cekikikan dan itu membuatku penasaran. Ada sesuatu yang mereka rahasiakan. Seolah-olah aku ini anak yang belum cukup umur untuk tahu segala sesuatu.

(Baca juga: Kala Ibu Emoh ke Pasar)

— Kiriman Akhir Bulan —

Aku yang jengkel langsung kembali ke dalam kamar. Tetapi kemudian bahagia lagi ketika mendengar mereka tertawa. Tentu saja bahagia itu bercampur aduk dengan rasa penasaran. Apa yang mereka bicarakan?

Aku juga pernah melihat ibu bersedih sekali. Waktu itu bapak pamit untuk pergi—meskipun suatu hari ia datang kembali. Aku rasa waktu itulah, bapak berubah. Ia memasang anting warna merah di telinga kirinya. Ia juga menggambar di dinding sebuah alat pertanian dan alat yang sering dipakai orang-orang kuli. Ia lebih banyak diam dari pada bercerita seperti biasa.

Kenapa bapak berubah, aku tidak tahu alasannya. Sebab, ketika aku bertanya pada ibu, apa yang dilakukan bapak, ia menjawab dengan lancar, bapak sedang mengajar. Bapak sering mengisi seminar.

Ibu menjawab dengan lancar sebagaimana lancarnya waktu berjalan. Sudah beberapa tahun kejadian itu berlalu dan berdiam menjadi masa lalu. Tentang ungkapan “Anakku, sudah lama bapakmu tidak mengirimi ibu sesuatu. Apakah usia telah membuatnya lupa?” yang selalu terngiang di telingaku itu terjadi pada akhir bulan. Akhir bulan yang kebetulan menyediakan hujan di luar rumah begitu deras dan mencekam. Akhir bulan yang membuatku kehilangan pemandangan indah berupa kebahagiaan ibu. Akhir bulan yang membiarkan seseorang menggedor pintu sambil berteriak dan teriakan itu mengalahkan suara hujan.

“Itu pasti kiriman dari bapakmu.” Kata ibu sambil bangkit dari bangku. Bangku yang selalu ia duduki ketika sedang bercerita mengenai bapak kepadaku. Ia kemudian berjalan menuju pintu.

“Bu!” itu adalah suaraku. Suara di mana seperti mencegahnya berjalan menuju pintu.

“Apa?” Ibu menoleh. Aku melihat dahinya mengkerut.

Dan aku hanya bisa menggeleng seperti orang tolol. Jelas, semua kata-kata yang ingin aku ungkapkan macet di leher. Sehingga membuat ibu melanjutkan niatnya menuju pintu.

(Baca juga: Ular di Kepala Ibu)

— Kiriman Akhir Bulan —

Aku hanya khawatir waktu itu. Sebab, lelaki muda yang sering mengantarkan kiriman bapak tidak pernah menggedor-gedor pintu dan tidak pernah berteriak seperti bajingan sedang mabuk. Aku khawatir kalau tiba-tiba orang itu adalah perampok yang akan merampas barang-barang atau minimal seseorang yang akan berbuat jahat kepada kami.

Akhirnya aku ikut bangkit dari bangku. Berjalan membuntuti ibu yang kalau dilihat dari cara melangkahkan kaki, ia sangat tergopoh-gopoh. Kulihat tangan ibu bergetar ketika memegang gagang pintu. Pasti ia akan sangat bahagia—melebihi kebahagiaan yang pernah aku lihat sebelumnya—kalau seseorang di balik pintu itu adalah lelaki muda yang biasa mengantar kiriman bapak. Karena memang sudah lama bapak tidak mengirimkan sesuatu kepada ibu dan boleh dikatakan juga kepadaku. Sungguh, sudah lama sekali. Kalau dalam hitungan waktu, kira-kira akan ditemu: tiga bulan. Tiga bulan adalah waktu yang lama kalau dibandingkan dengan seminggu, tentu saja.

Dan bila seseorang di balik pintu itu bapakku, pasti ibu akan bahagia melebihi bahagia di atas kebahagiaan yang di atas kebahagiaan. Tetapi itu tidak mungkin terjadi. Sebab, meski bapak sering berteriak-teriak, suara bapak tidak seperti itu.

Tangan ibu membuka pintu. Di situlah, berdiri seseorang lelaki kekar dengan wajah berlumuran darah sedang menggendong sesuatu dalam karung yang juga berlumuran darah. Ketika karung itu diturunkan dari punggung dan dibuka dengan perlahan, kulihat kepala dengan sebuah anting warna merah di telinga kirinya.**

(Baca juga: Puisi-Puisi Nadya Elga: Air Mata Ibu)

— Kiriman Akhir Bulan —

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here