Membangun Nilai Pendidikan untuk Kids Zaman Now

0
113
Pendidikan Kids Zaman Now
Ilustrasi gambar diambil dari kudo.co.id

tubanjogja.org – Kids zaman now

Oleh: Ikhwan Fahrudin

Bangsa kita telah memiliki rumusan formal dan operasional pendidikan. Sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, yakni: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan definisi di atas, saya menemukan 3 (tiga) pokok pikiran utama yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Di bawah ini akan dipaparkan secara singkat ketiga pokok pikiran tersebut.

Pada tahun 2016, jumlah sekolah di Indonesia mencapai 297.368 unit. Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan dengan jumlah sekolah paling banyak, yakni mencapai 147 ribu unit. Namun, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) hanya mencapai 37 ribu unit sehingga satu sekolah tingkat pertama terkadang memiliki lebih dari 5 ruang untuk tiap tingkatan kelas. Sedangkan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cukup merata dengan jumlah masing-masing mencapai 12 ribu unit.

(Baca juga: Mulia Karena Ilmu?)

Jumlah yang cukup besar untuk skala pendidikan. Namun sudahkan Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang baik. Menurut Qian Tang, (2016) Asisten Direktur Jenderal untuk Pendidikan dari The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), “Kesenjangan mutu pendidikan masih menjadi kendala banyak negara, khususnya Indonesia,”  Tingkat partisipasi pendidikan di Indonesia meningkat tajam, namun mutu pendidikan yang didapat setiap anak, belum setara. Padahal, penyediaan kualitas pendidikan yang baik merupakan kunci menciptakan generasi berkualitas.

Selama ini pemerintah Indonesia masih terfokus pada angka kelulusan siswa dalam mengemban pendidikan dasar. Mutu pendidikan belum menjadi prioritas pemerintah. Padahal, angka partisipasi siswa bersekolah tanpa diiringi dengan penyediaan kualitas pendidikan yang baik tidak akan berdampak banyak pada kualitas individu tersebut.

Saya sebagai anak muda yang memulai terjun di dunia pendidikan melihat fakta dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina. Cukup merasa miris dengan data tersebut. Itu artinya kita masih sangat perlu belajar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Penelitian ini dilakukan di 14 negara secara random, yakni Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili. Dalam penelitian ini ada 5 indikator yang diukur oleh JPPI, di antaranya governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability. Dari kelima indikator yang diukur Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%.

Nah dari beberapa itu ada 3 hal yang skor-nya masih rendah itu tentang kualitas guru (availability), sekolah yang belum ramah anak (acceptability), satu lagi soal pendidikan atau akses bagi kelompok-kelompok marginal (adaptability). SEhingga berdampak pada pola karakter anak di sekolah dan lingkungan.

Tentunya hal ini kurang membanggakan, karena menunjukkan kualitas pendidikan yang belum memadai. Skor tersebut sama dengan dua negara lainnya yaitu, Nigeria dan Honduras. Selain itu kualitas pendidikan di Indonesia, berada di bawah Filipina dan Ethiopia.

Peningkatan angka partisipasi siswa bersekolah tidak akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional, jika siswa tidak mendapatkan kualitas belajar yang memadai. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan mutu pendidikan buat anak-anak. Khususnya bagi anak yang tinggal di pedalaman yang akses pendidikannya belum memadai.

Mengenai fakta di atas seolah mengerutkan dahi kita semua. Ternyata kualitas pendidikan kita masih terjun bebas. Hal ini berefek ke kebiasan anak didik yang bisa menjurus ke suatu pergaulan yang salah. Apalagi di era keterbukaan informasi dan komunikasi dewasa ini yang begitu pesat. Menjadikan kontrol aktivitas siswa sulit terbendung. Hingga Maret 2017, Internet World Stats mencatat estimasi jumlah penduduk Indonesia mencapai 263 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet 132 juta jiwa.

(Baca juga: Pendidikan Itu Harusnya Ya Merakyat)

Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil. Tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2017 mencapai 50,4%, meningkat drastis dari tahun 2016 yang tercatat 34,1%. Saya yakin diantara data tersebut siswa usia sekolah (pelajar) menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya. Kids zaman now begitu mahir dalam berjelajah di dunia maya. Dan, ini akan menjadikan mereka bebas mengakses segala yang ia inginkan.

Pemerintah, satuan pendidikan, orangtua, pegiat pendidikan, dan masyarakat harus bahu-membahu mewujudkan pendidikan yang konkret. Membangun ruh pendidikan seperti yang diajarkan pendahulu kita. Pendidikan yang hakiki mengedepankan akhlaqul karimah yang kaffah. Adapun hal yang bisa dilakukan yakni:

Pertama, harus keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Tuhan YME) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan. Yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ruhaniyah. Sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik.

Kedua, metode yang digunakan harus sesuai kebutuhan anak didik. Direncanakan secara menyeluruh yang berkenaan dengan penyajian bahan/materi pelajaran secara sistematis dan metodologis serta didasarkan atas suatu pendekatan. Jika metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku sehingga terlihat dalam pribadi subjek dan obyek pendidikan, yaitu pribadi Islami. Membangun dari akhlaqnya, dari jiwanya, baru badannya.

Ketiga, memberikan keteladanan kepada anak didik. Disadari atau tidak peran sentral guru sangatlah vital. Guru harus memberikan contoh sikap dalam wujud nyata kepada anak didiknya.

Sudah saatnya ruh pendidikan di Indonesia digalakkan. Ketika ruh pendidikan telah mendarah daging untuk kids zaman now, mereka akan mempunyai jiwa yang tangguh menghadapi derai cobaan. Kids zaman now akan mampu berbicara banyak dalam konstelasi pendidikan. Menjadi kader penggerak memelopori pemberdayaan Sekolah Islam yang Terpadu di Indonesia menuju sekolah efektif dan bermutu. Mengoordinasikan program kerjasama antar-anggota di lingkup sekolahnya. Supervisi, melakukan penilaian, pengawasan, dan pembinaan penyelenggaraan pembelajaran. Sekolah memberikan pelayanan dan aktivitas melayani, membantu, dan memfasilitasi kebutuhan wali murid. Melakukan Riset Pengembangan: melakukan penelitian dan pengkajian bidang pendidikan bagi pengembangan sekolah-sekolah yang menjadi rujukan dalam pengembangan Sekolah Islam dan relasinya.

(Baca juga: Tiga Soal Fundamental Pendidikan Kita)

— Kids Zaman Now —

*Penulis merupakan anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Tuban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here